Maya Mustika Kartika Sari
Unesa

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PANDANGAN ANGGOTA KORPS HMI-WATI SURABAYA TENTANG PEREMPUAN BERDAYA Desia Adilia Nur Cahyani; Maya Mustika Kartika Sari
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 9 No 1 (2021): Kajian Moral dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.339 KB) | DOI: 10.26740/kmkn.v9n1.p61-75

Abstract

The purpose of this study is to express the views of members of the Kohati Surabaya about empowered women. This research is examined using Nancy Hartsock's Standard theory. The main concept of standpoint theory includes a perspective, situated knowledge and the sexual division of labor. This study uses a qualitative research approach with an exploratory descriptive design. The data collection techniques used were in-depth interviews and documentation. The research informants were determined using purposive sampling technique. The number of informants in this study were three people consisting of the General Secretary of the Surabaya Branch of the Kohati, members of the Department of Education and Training, and Deputy General Secretary for Inter-Institutional Relations. The results showed that women in the view of members of the Kohati Surabaya were influenced by the literacy process and the interpretation of values ​​from a gender perspective, a religious perspective, and a sociocultural perspective. In the view of members of the Surabaya branch of Kohati, empowered women are women who can do the expected aspects such as gender literacy but do not conflict with religion. That empowered women are they have the same opportunity to access productive resources, participate in exploiting their potential, have power / control over their survival, and have the same opportunity to enjoy the results of resource utilization / development. The results of this study confirm the standpoint theory put forward by Nancy Hartsock that views are formed from experiences that are structured by one's position in the social hierarchy, namely the emphasis on women's autonomy in various aspects of life. Keywords: Kohati, Woman, Empower
Tingkat Pengetahuan Wawasan Kebangsaan Pembina Pramuka di Surabaya Rahayu Anggraeni Budi Utami; Maya Mustika Kartika Sari
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 9 No 2 (2021): Kajian Moral dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.316 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan wawasan kebangsaan Pembina Pramuka di Surabaya. Penelitian ini melibatkan 99 responden sebagai sampel yang meliputi Pembina Pramuka golongan siaga, penggalang, penegak, dan pandega. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa angket soal pengetahuan tentang wawasan kebangsaan yang berjumlah 40 butir soal pilihan ganda. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan skala Guttman dalam bentuk presentase dengan kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat wawasan kebangsaan Pembina Pramuka di Surabaya secara keseluruhan tergolong sedang berdasarkan ketiga indikator yang diambil dari materi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pada indikator materi Bhinneka Tunggal Ika menjadi indikator yang menjelaskan tingkat pengetahuan Pembina Pramuka di Surabaya akan kebhinekaan tergolong tinggi, sedangkan pada materi UUD NRI 1945 menunjukkan rata – rata tingkat pengetahuannya tergolong sedang, hal ini dikarenakan jumlah responden yang dapat memperoleh kategori tinggi hanya sejumlah 2% atau 2 responden saja. Ini berarti perlu ada tindak lanjut dari stake holder Gerakan Pramuka untuk memberikan perhatian pada Pembina Pramuka akan wawasan ketatanegaraannya karena Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan konstitusi tertinggi yang menjadi landasan dalam pelaksanaan perundang – undangan khususnya kepada kelangsungan hidup Gerakan Pramuka. Kata Kunci: Tingkat pengetahuan, Wawasan Kebangsaan, Pembina Pramuka. Abstract This study aims to describe the level of knowledge of the scout coaches' national insight in Surabaya. This study involved 99 respondents as a sample which included the scout coaches of the standby class, mobilizers, enforcers, and pandega. This research uses a quantitative approach with descriptive research type. The data collection technique was in the form of a questionnaire about knowledge about national insight, amounting to 40 multiple choice questions. The data analysis technique in this study used the Guttman scale in the form of a percentage with the low, medium, and high categories. The results showed that the level of national insight of the Scout Guards in Surabaya as a whole was classified as moderate based on the three indicators taken from the material of Pancasila, the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, NKRI, and Bhinneka Tunggal Ika. In the material indicator Bhinneka Tunggal Ika is an indicator that explains the level of knowledge of Scout coaches in Surabaya on diversity is classified as high, while in the material of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia it shows that the average level of knowledge is classified as moderate, this is because the number of respondents who can get the high category is only 2%. or 2 respondents only. This means that there needs to be a follow-up from the Scout Movement's stake holders to pay attention to the Scout Guards regarding their constitutional insight because the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia is the highest constitution which is the basis for implementing legislation, especially for the survival of the Scout Movement. Keywords: Knowledge level, National Insight, Scout Guidance.
PENGETAHUAN PEMILIH PEMULA DI DESA MARGOMULYO PADA PELAKSANAAN PILKADA KABUPATEN TRENGGALEK 2020 DI MASA PANDEMI COVID-19 Nurfadila Raudotun Nisa; Maya Mustika Kartika Sari
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 9 No 3 (2021): Kajian Moral dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.504 KB) | DOI: 10.26740/kmkn.v9n3.p626-640

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan pemilih pemula di Desa Margomulyo dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan pemilih pemula di Desa Margomulyo pada pelaksanaan Pilkada Kabupaten Trenggalek 2020 di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunaan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data survei online. Responden berjumlah 102 yang populasinya merupakan seluruh pemilih pemula yang berusia 17 tahun di Desa Margomulyo. Sampel jenuh digunakan sebagai teknik pengambilan data sehingga, seluruh populasi diikutsertakan dalam penelitian. Responden berasal dari dusun Margo, Ketok dan Petung. Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk menentukan uji valid pada instrumen penelitian Analisis persentase digunakan untuk mencari gambaran umum tingkat pengetahuan pemilih pemula di Desa Margomulyo pada pelaksanaan Pilkada Kabupaten Trenggalek 2020 di masa pandemi Covid-19 apakah dalam kategori tinggi atau rendah. Berdasarkan pada aspek pengetahuan memfokuskan penelitian pada tiga tingkatan pengetahuan yakni, mengetahui, memahami dan mengaplikasi. Hasil penelitian menunjukkan 88% pemilih pemula memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan 12% pemilih pemula memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai pengetahuan pelaksanaan Pilkada Kabupaten Trenggalek 2020 di masa pandemi Covid-19. Faktor yang memengaruhi pengetahuan pemilih pemula dalam mengintepretasikan pelaksanaan Pilkada Kabupaten Trenggalek 2020 adalah : a) rasa ingin tahu, b) kesadaran tentang hak memilih, c) sosialisasi dari desa, d) media sosial, e) alat peraga kampanye, f) intervensi dari orang tua/keluarga, g) teman sebaya. Kata Kunci: Pengetahuan, Pemilih pemula, Pilkada
Tingkat Efikasi Politik Mahasiswa Disabilitas Di Universitas Negeri Surabaya Pada Pilkada 2020 Umi Khoiriyah; Maya Mustika Kartika Sari
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 9 No 3 (2021): Kajian Moral dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.526 KB) | DOI: 10.26740/kmkn.v9n3.p517-534

Abstract

Tingkat efikasi politik penting dalam partisipasi politik, sebab keduanya saling berkaitan. Oleh sebab itu, apabila tingkat efikasi poiltik seseorang rendah, maka tingkat partisipasi politiknya juga rendah. Meneliti tingkat efikasi politik mahasiswa disabilitas menjadi sesuatu yang menarik, sebab bagi pemilih disabilitas mereka tidak terlalu tertarik dengan kehidupan politik, karena mereka menganggap partisipasinya tidak dapat memberikan perubahan yang berarti, sehingga menyebabkan tingkat efikasi politiknya rendah. Sedangkan, tingkat efikasi politik mahasiswa tinggi, karena tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat efikasi politik seseorang. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan tingkat efikasi politik mahasiswa disabilitas di Unesa pada pilkada 2020. Metode penelitian adalah kuantitatif jenis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, tingkat efikasi politik mahasiswa disabilitas di Unesa sangat tinggi, karena memiliki persentase 86,905%. Responden dalam penelitian adalah 28 mahasiswa disabilitas di Unesa, 20 responden termasuk dalam kategori sangat tinggi, 4 responden termasuk dalam kategori tinggi dan 4 responden termasuk dalam kategori sedang. Tingkat efikasi politik dibedakan menjadi efikasi politik internal dan efikasi politik eksternal. Efikasi politik internal mahasiswa disabilitas di Unesa tergolong sangat tinggi, karena memiliki persentase 86,1%. Efikasi politik eksternal mahasiswa disabilitas di Unesa tergolong sangat tinggi, karena memiliki persentase 87,5%. Efikasi politik eksternal responden lebih tinggi daripada efikasi politik internal, karena tingkat pendidikan responden. Orang yang berpendidikan tinggi (lebih dari SMA) selalu memiliki efikasi politik eksternal yang lebih tinggi daripada efikasi politik internal. Kata Kunci: mahasiswa disabilitas, efikasi politik, pilkada.