p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal GANESHA MEDICINA
Anak Agung Gede Wira Pratama Yasa
Universitas Pendidikan Ganesha

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANEMIA DEFISIENSI BESI: DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA Putu Arya Nugraha; Anak Agung Gede Wira Pratama Yasa
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.22 KB) | DOI: 10.23887/gm.v2i1.47015

Abstract

Anemia merupakan keadaan dimana seseorang memiliki kadar hemoglobin (Hb) <13g/dL pada laki-laki atau <12g/dL pada perempuan. Penyakit ini merupakan penyebab kecacatan tertinggi kedua di dunia dimana sekitar 25% orang di dunia ini terkena anemia. Diperkirakan bahwa setengah dari populasi penderita anemia tersebut terkena Anemia Defisiensi Besi (ADB). ADB merupakan anemia yang timbul akibat berkurangnya cadangan besi dalam tubuh. Penyakit ini dikaitkan oleh kelompok berisiko yaitu wanita, ibu hamil, anak balita-remaja, dan faktor sosio-ekonomi yang rendah. Penyakit ini memiliki gejala klinis seperti anemia pada umumnya dan dapat ditemukan gejala khas seperti kuku sendok, stomatitis angularis, disfagia, dan atropi papil lidah. Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, dan status besi pada pasien. Prinsip utama dalam penanganan ADB yaitu suplementasi zat besi dan atasi penyebab terjadinya ADB, serta pemberian transfusi darah dengan indikasi tertentu. Apabila ADB tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pada kognitif, penurunan aktivitas, dan perubahan tingkah laku pada pasien.
INFARK MIOKARD AKUT DENGAN ELEVASI SEGMEN ST (IMA-EST) ANTERIOR EKSTENSIF: LAPORAN KASUS I Ketut Susila; Putu Kiki Wulandari; Anak Agung Gede Wira Pratama Yasa
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.562 KB) | DOI: 10.23887/gm.v2i1.47058

Abstract

Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan penyakit kardiovaskular utama yang memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dan menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia. Bedasarkan data dari Kemenkes Tahun 2013, SKA menempati posisi ke-7 sebagai penyakit tidak menular tertinggi di Indonesia, dimana terdapat sekitar 1,5% penduduk atau 2.650.340 orang yang terdiagnosis oleh dokter bedasarkan gejala yang mengalami SKA di Indonesia. Selain itu, diperkirakan kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030. IMA-EST merupakan kejadian oklusi total pada pembuluh darah arteri koroner yang dapat menyebabkan infark luas pada miokardium dan ditandai dengan peningkatan segmen ST persisten minimal 2 sadapan yang bersebelahan pada elektrokardiogram. Klinis yang dapat ditemukan pada pasien adalah nyeri dada iskemik yang berkepanjangan pada saat istirahat. Keadaan ini memerlukan tindakan revaskularisasi segera untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard. Terapi reperfusi dapat dilakukan dengan intervensi koroner perkutan atau melalui terapi fibrinolitik. Kata kunci: Sindrom Koroner Akut, IMA-EST, Terapi Reperfusi