Indonesia mempunyai iklim yang mendukung untuk tumbuhnya eceng gondok (Eichornia Crasipess), maka ketersediaan eceng gondok di Indonesia sangat banyak. Eceng gondok termasuk dalam tanaman yang jarang sekali dimanfaatkan. Kandungan selulosa yang dimiliki oleh tanaman eceng gondok sebesar 64,51% dan kandungan lignin sebesar 7,69%. Kandungan selulosa yang terdapat di dalam eceng gondok ini lah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bioethanol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi ideal fermentasi eceng gondok. Terdapat tiga proses yang dilakukan untuk membuat bioethanol yaitu delignifikasi, hidrolisis, dan fermentasi. Proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 10 % yang bertujuan untuk menghilangkan kadar lignin. Hasil dari proses delignifikasi dilakukan proses hidrolisis yang menggunakan larutan H₂SO₄ 5% dengan tujuan untuk mengubah selulosa menjadi glukosa. Selanjutnya selama : 3, 5, 7, 9, dan 11 hari sebagai variabel waktu dalam proses fermentasi serta massa ragi (Saccharomyces Cerevisiae) : 3, 4, 5, 6, dan 7 gram yang disertai dengan penambahan pupuk NPK dan Urea sebagai nutrient dalam proses fermentasi. Hasil terbaik setelah diuji menggunakan alat Gas Chromatography (GC) didapatkan pada kondisi fermentasi selama 7 hari dan massa Saccharomyces Cerevisiae sebesar 6 gram dengan penambahan pupuk NPK dan Urea, didapatkan hasil kadar etanol sebesar 0,528 %.