Oscar Wardhana Windro Saputro
STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONSEP AL-TAṢFIYAH WA AL-TARBIYAH: (Studi Pemikiran Syaikh al-Albaniy dalam Kitab al-Taṣfiyah wa al-Tarbiyah) Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 12 No 1 (2022): Maret
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol12.Iss1.207

Abstract

Among the figures of Islamic scholars who always stick to the Qur'an and sunnah, even giving a large portion of attention to both, especially in the field of hadith science is Shaykh Muhammad Nashiruddin al-Albany. Shaykh al-Albany is a scholar who plays a major role in education, especially the development of hadith science. This paper discusses the thoughts of Shaykh al-Albany in the field of Islamic education, especially in the issue of Islamic educational principles contained in his book entitled al-Taṣfiyah wa al-Tarbiyah wa Ḥājah al-Muslimīn ilayhimā. This research is included in library research, while in terms of subjects studied, this research is included in the study of figure thoughts. In this study, the author used documentation techniques that in practice applications are carried out by collecting documents from the work of  Shaykh al-Albany and other documents related to this research. From the research that has been done can be concluded as follows: The concept of tashfiyah intended by Shaykh al-Albany, which is purifying science and straightening religious understanding of things that are not part of religion but are suspected part of religion and not in accordance with the basis of Islam, namely the Qur'an and as-Sunnah authentic from the Prophet. The concept of Tarbiyah that is intended by Shaykh al-Albany, which is to educate the younger generation with knowledge and understanding that has been purified from things that are not part of religion, namely knowledge based on the Qur'an and sunnah, so that the solution to regain the glory of Islam can be achieved. The principles of Islamic education developed by Shaykh al-Albany include: the principle of returning to the Qur'an and sunnah, the principle of purification of knowledge and correct understanding, the principle of education of knowledge and practice.
Metode Tafsir Prespektif al-Shawkāniy: (Studi Analisis Kitab Tafsir Fatḥ al-Qadīr) Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 1 (2019): Maret
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.571 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss1.36

Abstract

Allah subḥanah wa taʿalā telah mengabarkan bahwa Al-Qur’an terjaga dari segala kebatilan hingga saat ini dan seterusnya sesuai kehendak Allah, maka senantiasa dibutuhkan bantuan dan arahan dalam memahami Al-Qur’an. Di zaman Nabi ṣallallāh ʿalaih wa sallam beliaulah yang menjelaskan makna-makna Al-Qur’an kepada ummatnya, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat raḍiyallāh ʿanhum sehingga orang-orang yang datng kemudian memiliki pemahaman seperti yang diajarkan Nabi ṣallallāh ʿalaih wa sallam. Demikian para ulama’ setalah mereka berpegang teguh dengan tafsir Nabi ṣallallāh ʿalaih wa sallam dan para sahabat beliau raḍiyallāh ʿanhum. Tafsir para ulama’ membantu kita dalam memahami Al-Qur’an agar tidak salah dalam memahami, terlbih lagi di zaman ini yang sudah sangat jauh dari zaman Nabi. Al-Imam Al-Shaukāniyy salah satu ulama’ Islam yang memiliki banyaj tulisan dalam berbagai bidang keilmuan. Diantara  karya beliau yang terkenal adalah kitab Fatḥu al-Qadīr yang mengumpulkan antara al-Riwāyah dan al-Dirārayah dari ilmu tafsir. kitab ini mempergunakan metode Taḥlīliyah   dan berusaha untuk menggabungkan antara dua jenis analisis al-Tafsīr bi al-Riwāyah dan al-Tafsīr bi al-Dirārayah. Analisis al-Tafsīr bi al-Riwāyah menurut al-Imām al-Shawkāny yaitu penafsiran dengan hadīth Nabi atau athar dari para sahabat, tābi’īn dan tābi’ al-tābīʿīn, yang semuanya itu sampai kepada kita dengan periwayatan sanad para perawi. Sedangkan yang dimaksud dengan al-Tafsīr bi al-Dirāyah atau al-tafsīr bi al-Ra’y yaitu penafsiran dengan akal dengan bantuan ilmu bahasa dan cabang-cabangnya seperti ʿilmu naḥwu, ʿilmu bayān, ilmu ma’āny dan yang lainnya, dan bukan dengan akal dan logika semata.
Bayān ʿan al-Mukhaṣṣiṣāt al-Muttaṣilah Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.886 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.50

Abstract

Lafal-lafal dalam Bahasa Arab, khususnya dalam atau teks agama baik itu di dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun teks hadis, masing-masing memiliki bentuk dan arah tersendiri yang menuntun/menunjuk pada maknanya yang dikenal dengan dilālah. Para ulama ʾUṣūl Fiqh semenjak dikenalnya ilmu ini, telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bentuk-bentuk petunjuk/dilālah tersebut. Di antara bentuk-bentuk petunjuk/ dilālah yang senantiasa dibahas adalah bentuk umum dan khusus atau dikenal dengan istilah takhṣīṣ al-ʿĀm yaitu penjelasan bahwa yang dimaksud dari sebuah lafal yang bersifat umum adalah bukan seluruhnya, namun sebagian dari keumuman lafal tersebut. Syarat bolehnya suatu takhṣīṣ/pengkhususan adalah adanya petunjuk yang jelas yang dikenal dengan istilah dalīl mukhaṣṣiṣ. Mukhaṣṣiṣ terbagi menjadi 2 jenis jika dilihat dari keterkaitannya dengan teks kalimat: yaitu mukhaṣṣiṣ munfaṣilah (terpisah) dan mukhaṣṣiṣ muttaṣilah (tersambung). Mukhaṣṣiṣ muttaṣilah adalah suatu petunjuk yang tidak berdiri sendiri namun dia terkait dengan teks kalimat dan merupakan bagian darinya. Ada banyak bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah yang disebutkan oleh para ulama, namun seluruhnya terangkum dalam 5 bentuk yaitu : Istithnāʾ (pengecualian), Sharṭ (syarat), Ṣifah (sifat), Ghāyah (batas), Badal (pengganti). Makalah ini akan menjelaskan tentang masing-masing bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah baik secara definisi, perangkat dan hukum-hukum yang terkait dengannya.
Pendidikan Islam Menurut Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-Uthaimīn: (Prinsip dan Metode Pendidikan) Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.411 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.62

Abstract

Abstrak Salah satu ulama Islam yang memberikan dampak besar didalam kemajuan pendidikan Islam adalah syaikh Muḥammad bin Sālih al-Uthaimīn yang merupakan salah satu ulama kerajaan Saudi Arabia yang memberikan sepanjang hidupnya untuk menyebarakan dakwah islam tidak hanya di kerajaan Arab Saudi saja  akan tetapi juga mempengaruhi di berbagai penjuru dunia, diantaranya Indonesia. Syaikh Muḥammad Sālih al-Uthaimīn seorang guru dan pendidik yang berpengalaman yang telah bergelut dibidang pendidikan selama lima puluh tahun samapai beliau wafat -semoga Allah merahmatinya-. Dan karya-karyanya telah tersebar disluruh dunia hingga ke Indonesia, dan diantara karya-karyanya yang tersebar dan dipelajari di Indonesia bahkan sampai diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Qaul al Mufid, Syarḥ Riyād as-Shāliḥīn, Syarḥ al-Arbaīn an-Nawawi dll. Penelitian ini terfokus pada pendapat syaikh Muḥammad bin Shālih al-Uthaimīn dalam asas-asas dan metode-metode pendidikan Islam. Penelitian ini termasuk penelitian pustaka  yang termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan angka-angka. Data primer dalam penelitian ini karya-karya syaikh al-Uthaimīn, khutbah-khutbah dan kajian-kajiannya. adapun data sekunder dari buku-buku dan dokumen yang berhubungan dengannya. Hasil dari penelitian ini adalah asas-asas pendidikan Islam menurut Syaikh adalah: pendidikan yang menyeluruh, pendidikan bertahap, pendidikan yang terus menerus, pendidikan yang terperbarukan dan sesuai dengan dalil. dan metode-metode islam yang disebutka oleh Syaikh metode suri tauladan, metode kajian, metode permisalan, metode praktek, metode tanya, metode memberi pembahasan dan jalan keluar, metode pembiasaan, metode hafalan هذا البحث مركز على رأي الشيخ العثيمين في أسس وأساليب التربية الإسلامية. هذا البحث من البحث المكتبي وهو من ضمن البحث الكيفي بدراسة الأرقام. البيانات الأولية في هذا البحث هي مؤلفات الشيخ العثيمين وخطبه ومحاضراته. أما البيانات الثانوية تكون من خلال الكتب، والوثيقة المتعلقة به. بعد إنهاء البحث وجدت النتيجة : أن أسس التربية الإسلامية التيى رآها  الشيخ هي : التربية الشاملة، التربية المتدرجة، التربية المستمرة، التربية المحافظة والمجددة، التربية وفق دليل. وأساليب التربية التي ذكرها الشيخ العثيمين هي : أسلوب القدوة، أسلوب المحاضرة، أسلوب ضرب الأمثال، أسلوب التطبيق، أسلوب السؤال، أسلوب طرح المسألة والحل، أسلوب التعويد، وأسلوب تلقين الحفظ. كلمات البحث : العثيمين، التربية الإسلامية، الأساس، الأسلوب
Metode Pendidikan Nabawi dengan Menggunakan Isyarat Jari: (Studi Content Analysis Hadis) Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 11 No 2 (2021): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.771 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol11.Iss2.165

Abstract

Metode  pembelajaran pada dasarnya adalah sesuatu yang bisa dipilih dalam proses pembelajaran agar pembelajaran menjadi efektif dalam efeknya terhadap peserta didik. Pendidikan Islam memiliki beraneka ragam metode pembelajaran  yang diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadith yang telah dijelaskan para ulama dan pendidik dalam Islam. Sebaik-baik pendidik dan sauri tauladan adalah Nabi Muhammad ṣallallāh ʿalaih wasallam , maka metode pembelajaran beliau adalah yang paling baik dan paling bermanfaat. Diantara metode pembelajaran atau pendidikan Nabi ṣallallāh ʿalaih wasallam adalah metode dengan menggunakan isyarat jari , yang mana  hal tersebut menjadi fokus pembahasan dalam penelitian ini , dengan bahasan pengertian dan tujuan-tujuannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Sumber data primer penelitian ini adalah kitab-kitab induk dalam ilmu Hadith , adapun sumber data sekunder buku-buku, syarḥ hadīth dan data-data lain yang berkaitan dengan penelitian. Hasil peneltian ini menunjukan bentuk metode pembelajaran nabawi menggunakan isyarat jari dilihat dari jari jemari yang digunakan, adalah : menggunakan sepuluh jari, lima jari, dua jari, dan salah satu jari. Adapun menurut  posisi dan bentuk penggunaan isyarat jari maka dapat kita klasifikasi sebagai berikut : Menggabungkan seluruh jari jemari, membuat gerakan dengan jari, menghitung jari, menunjuk dengan satu jari, berisyarat dengan dua jari, dan membuat lingkaran. Adapun tujuan dan makna dari metode pembelajaran nabawi menggunakan isyarat jari, adalah : Visualisasi dan penekanan makna seperti kedekatan, persatuan dan kesamaan, menunjukkan jumlah, dan menunjukkan tempat.
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA ULAMA SALAFI: (Shaikh ʾIbn Bāz, ʾAl-Albāniy dan Ibn ʾAl-ʿUthaimīn) Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 12 No 2 (2022): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol12.Iss2.320

Abstract

This research aims to find out the educational thoughts of the salafis regarding the purpose of Islamic education. The salafi scholars who will be examined and compared regarding the objectives of Islamic education are Shaikh ʾIbn Bāz, Shaikh ʾAl-Albāniy and Shaikh ʾAl-ʿUthaimīn. Based on the place, type of data and source of research, this research is qualitative research and is categorized as library research. Data is collected from primary data sources in the form of written works and biographies and secondary data sources, namely supporting data sources in the form of articles, newspapers, magazines, journals, theses and books from other researchers related to research studies.  After the research was conducted, the following findings were obtained: Shaikh ʾIbn Bāz views that the purpose of Islamic education is the wisdom of human creation itself, namely the monotheism of Allah, which is realized by offering worship only to Allah. Shaikh ʾAl-Albāniy emphasized that the purpose of education is tawheed, which is the foundation of Islam, namely worshiping only Allah, as practiced by the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) and his companions. Shaikh ʾAl-ʿUthaimīn implies that the purpose of Islamic education is the purpose of the creation of man himself by Allah, namely to monotheize Allah in worship only to Him. The purpose of Islamic education according to these three scholars is in accordance with the wisdom of the purpose of human creation, and in accordance with the da'wah of the prophets and messengers, including the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allaah be upon him) and his companions, namely tawhidullah, to glorify only Allah in worship.
ANALISIS FAKTOR KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB PADA SISWA KELAS VI DI SDI DARUL ARQOM SURABAYA Oscar Wardhana Windro Saputro; Putra, Ramdhana
Fashohah : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Arab Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/fsh.v4i1.20869

Abstract

ABSTRAK Bahasa arab belakangan ini menjadi bahasa yang penting untuk dipelajari, karena bahasa arab merupakan sumber agama islam yang otentik. Akan tetapi dalam proses pembelajaran bahasa arab sering kali didapati berbagai kesulitan yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor apa saja yang menyebabkan kesulitan belajar bahasa arab pada siswa kelas VI SDI Darul Arqom Surabaya. Jenis penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi Pustaka. Hasil penelitian ini memngungkapkan bahwa secara garis besar faktor yang menyebabkan kesulitan belajar bahasa arab bagi siswa kelas VI SDI Darul Arqom Surabaya setidaknya ada dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi; a) minimnya penguasaan kosakata, b) sulit mengungkapkan kalimat bahasa arab, c) rendahnya minat dan motivasi belajar. Faktor yang selanjutnya adalah faktor eksternal yang meliputi; a) penggunaan buku ajar yang kurang sesuai, b) kurangnya variasi dalam belajar, c) lingkungan belajar yang tidak mendukung. Kata kunci: Pembelajaran, Bahasa Arab, Kesulitan
Polemik Surat Pemusik (Studi Penamaan Surat dalam Al-Qur'an) Oscar Wardhana Windro Saputro; Muhammad Raflie Al-Fath
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 15 No 1 (2025): Maret
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol15.Iss1.749

Abstract

This study aims to explore the process of naming and classifying surahs in the Qur'an that has been done by scholars in the branch of ‘ulu>m Al-Qur’an. It will also examine the naming and translation of Surah Ash-Shu'ara into a musician's Surah and its implications based on the rules of translation and tafsir. This research uses a qualitative approach with the type of library research. The data sources of this research are books in the field of ‘ulu>m Al-Qur’an and books of tafsir. The Muslim community in Indonesia has understood that the Qur'an consists of 114 letters, each of which has a special name and its meaning from the translation of the Al-Qur'an Mushaf. Until in 2024 there was a discussion about the name of a letter in the Qur'an that was translated differently from what was written in the translation of the Qur'an in general. This happened when Surah al-Syu'ara in the translation of the Mushaf was translated as the poets, then translated as the letter of the musicians. Suddenly, this provoked an uproar in the community, especially in the digital era where news circulates quickly (viral). The result of this study is that the naming of letters in the Qur'an is divided into two, namely tawqi>fy and ijtiha>dy. There are three main patterns of naming surahs in the Qur'an, namely based on the Prophet's orders, the ijtihad of the Companions and based on the beginning of the verse. The translation of Surah Ash-Shu'ara into Surah of Musicians does not fulfill the rules of translation or tafsir because poetry and music are two different things in essence and in the meaning of translation in the dictionary, neither textually nor contextually can be equated. The translation of the word Ash-Shu'ara as musicians will damage the meaning of the verses in the Qur'an and can be categorized as tah}ri>f and includes tafsir bi al-ra'y al-madhmu>m or interpretation by reasoning that is denounced.
Peningkatan Mutu Guru TPA Masjid Al-Ikhlas Plumbungan Desa Putat dengan Metode Asy-Syafi’i Azhar, Rafif; Gogari, Iqbal; Saputro, Oscar Wardhana Windro
Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2024): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat - STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54214/efada.Vol1.Iss1.700

Abstract

Meskipun demikian tidak sedikit kaum muslimin yang tidak mampu untuk membaca al-qur’an dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat dan jumlah pengajar yang ada di desa. Menjawab permasalahan diatas penulis berusaha untuk memberikan solusi dengan cara memberikan pembelajaran tajwid dengan metode asy-syafi’i. TPA yang akan menjadi objek untuk pelatihan metode ini adalah TPA Al-Ikhlas Plumbungan. Observasi dilakukan dengan cara menguji para pengajar untuk membaca ayat dari sebuah surat al-qur’an. Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa para pengajar kurang mampu untuk membaca ayat al-qur’an dengan makharijul huruf dan sifat huruf yang baik dan benar. Pembelajaran difokuskan kepada pengucapan makharijul huruf yang benar pada surat al-fatihah. Setiap huruf dalam sebuah ayat dibahas dengan tuntas dengan menyebut sifat-sifat yang terkandung dalam huruf tersebut. Setelah pembahasan sifat yang ada dalam sebuah ayat tuntas, kami memberikan kesempatan bagi para pengajar sekalian untuk mengulang bacaan dengan sifat makharijul huruf yang benar dan tepat. Metode asy-syafi’i dalam pengajaran makharijul huruf dan sifatnya digolongkan berhasil tetapi belum sempurna. Tingkat keberhasilannya dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam mengucapkan makharijul huruf dan tajwidnya dengan baik.
Transformasi Al-Qur’an dan Nalar Logis Otentisitas Al-Qur’an Saputro, Oscar Wardhana Windro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 14 No 2 (2024): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol14.Iss2.895

Abstract

This study aims to explore more recent and accurate information about the doubts that arise about the authenticity of the Qur'an and scientific explanations that can answer these doubts. This research uses a qualitative approach with the type of library research. The data sources that are the main discussion and are directly related to this research are in the form of books on the history and 'ulu>m al-Qur'an as well as articles about it and also regarding criticism of the Qur'an, which are also taken from journals, websites and other scientific articles. In Islam, the Qur'an is a holy book that is believed to be authentic by its adherents and is one of the pillars of faith that determines the validity of one's faith. However, the transformation process of the Qur'an that has taken place for centuries has not escaped some criticism about its authenticity as the word of God. The results of this study that the transmission and transformation of the Qur'an occurred in several phases: revelation; collection during the Prophet's time; collection during Abu Bakr's time; collection during Uthman bin 'Affan's time; and the period of perfecting the Mushaf script. Each phase was criticized for its authenticity in terms of the method and form of revelation, the process of collecting the Qur'an, writing the Mushaf rasm, and other aspects. Islamic scholars responded to the criticism with historical data, logical reasoning, and arguments that establish the Qur'an's authenticity despite its transmission and transformation.