Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

In Sacco Digestibility Sorghum Hydroponic Fodder From Different Cultivar And Harvest Time Renny Chrisdiana Chrisdiana
Tropical Animal Science Vol 3 No 2 (2021): TROPICAL ANIMAL SCIENCE
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.567 KB) | DOI: 10.36596/tas.v3i2.693

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kultivar yang unggul dari dua kultivar yang berbeda dan waktu panen fodder sorgum hidroponik yang tepat berdasarkan laju degradasi nutrien pakan di dalam rumen. Bahan yang digunakan adalah Sorgum dengan kultivar KD4 dengan waktu panen 8 hari (K8), KD4 dengan waktu panen 12 hari (K12), Super 1 dengan waktu panen 8 hari (S8), dan Super 1 dengan waktu panen 12 hari (S12). Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap berpola faktorial dengan kultivar sorgum (KD4 dan Super-1) sebagai faktor A dan waktu panen fodder sorgum hidroponik (8 dan 12 hari) sebagai faktor B. Data yang diambil adalah kecernaan bahan kering (BK) dalam rumen. Sampel diinkubasi dalam rumen ternak yang berfistula dengan interval waktu yang berbeda yaitu inkubasi: 2, 4, 8, 16, 24, dan 48 jam. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA). Jika terdapat interaksi atau pengaruh utama faktor A atau faktor B akan diuji lanjut dengan uji Duncan. Hasil perhitungan in sacco rumen didapatkan nilai degradasi teori (DT) dari BK K8 22,99 %, K12 23,67 %, S8 13,37 %, S12 15,21 %. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara kedua faktor (kultivar dan waktu panen) terhadap nilai kinetik degradasi bahan pakan fodder sorgum hidroponik, tetapi menunjukkan hasil berbeda nyata (P<0,05) pada nilai fraksi terlarut dan DT dari BK pada jenis kultivar dan perbedaan yang tidak nyata pada waktu panen. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa waktu nilai rata-rata fraksi terlarut dan laju degradasi tidak berpengaruh pada waktu panen tetapi pada kultivar KD4 nilai rata-rata fraksi terlarut dan laju degradasi lebih tinggi dibandingkan Super-1.