Ahmad Syaifulloh
Dosen STAI Khozinatul Ulum Blora

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENGIMPLEMENTASIKAN TOTAL QUALITI MANAGEMENT DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Ahmad Syaifulloh
Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 2 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The concept of Total Quality Management (TQM) that has been sparked by Deming, Juran and Crosby initially aimed to overcome several problems in the business and industrial fields, especially in improving quality quality. The concept has been implemented very successfully by the business and industrial world in Japan, and other countries in the world. And then TQM began to be adopted in the world of education around 1980. Implementation of TQM in the world of education has been widely carried out in Indonesia today, and experts have discussed it a lot in their books. However, most are only for education in general, in the sense that there is very little or even no one has discussed the implementation of TQM in Islamic religious education specifically. Considering the current religious education is a priority in order to instill moral values in generations in Indonesia. So it is very necessary to find ways how to improve the quality of quality in religious education, especially Islam. TQM is a management system that involves all components of the organization that are carried out continuously to produce quality products / services in accordance with customer needs and oriented to customer satisfaction. Based on several definitions of TQM above, there are at least four concepts in TQM, including: Quality / Quality, customer satisfaction, continuous improvement, involving all components of the organization. The steps for implementing TQM in Islamic Religious Education are as follows: a). Leadership and commitment to quality must come from the top. b). Delighting customers is the goal of TQM. c). Appoint quality facilitators. d) Form a quality control group. e) Appoint a quality coordinator. f). Hold a senior management seminar to evaluate the program. g). Analyze and diagnose the situation. h). Use examples that have already developed elsewhere. i). Hire external consultants. j). Initiating quality training for staff. k). Communicate the message of quality. l). Measuring quality costs. m). Apply quality tools and techniques through developing effective work groups. n). Evaluate the program at regular intervals.
NASIKH DAN MANSUKH: LANGKAH ULAMA’ DALAM MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN HADIS Ahmad Syaifulloh
Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 1 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para Ulama‟ yang mencoba untuk memahami dan berusaha untuk manjelaskan kandungan alQuran dan Hadis menemukan ayat-ayat yang secara sepintas tedapat gejala kontradiksi dengan satu sama lain. Mereka berbeda pendapat tentang bagaimana menghadapi ayat-ayat yang sepintas lalu menunjukkan gejala kontradiksi tersebut. Salah satu langkah ulama dalam menyelesaikan masalah tersebut adalah menggunakan metode nasikh dan mansukh. Penelitia ini berfokus pada bagaimana metode nasikh dan mansukh ini digunakan oleh para ulama‟ dalam memahami al-Qur‟an dan Hadis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitiannya adalah Library Research atau studi kepustakaan dengan pendekatan analisis historis dan analisis datanya menggunakan teknik deskriptif analsisis. Hasil dari penelitian ini adalah menghapuskan hukum syara‟ dengan dalil syara‟ yang lain dinamakan dengan Naskh. Sesuatu yang menggantikan, menghapus dan mengubah disebut nasikh, sedangkan sesuatu yang digantikan, dihapus, dan diubah disebut mansukh. Pedoman untuk mengetahui nasikh-mansukh dalam al-Qur'an ada 3, yaitu : keterangan tegas dari Nabi SAW atau sahabatnya, kesepakatan umat bahwa ayat tersebut nasikh atau sebaliknya mansukh, mengetahui ayat mana yang lebih dahulu temurun dan mana yang kemudian dalam prespektif sejarah. Usaha para ulama‟ untuk mengkompromikan ayat-ayat al-Quran yang secara sepintas terdapat gejala kontradiksi telah mencapai peningkatan, hal ini dapat diketahui dengan semakin berkurangnya jumlah ayat yang dinilai terdapat gejala kontradiksi tersebut, yang semula menurut para ulama‟ mutaqaddimin ayat mansukh tersebut berjumlah 500 ayat direduksi oleh Imam asSuyuthi menjadi 21 ayat hal ini juga sesuai dengan pendapat ulama muta‟akhirin, yang kemudian dikurangi lagi oleh Syeikh Waliyullah ad-Dahlawi menjadi 5 ayat. Dengan demikian jumlah ayat yang mansukh akan terus berkurang jika kita bisa mengkompromikan ayat-ayat tersebut.