Mhd Ilham
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KETIKA UMAT MENINGGALAKAN ULAMA: Perilaku Politik Umat Islam Pasca PRRI 1959-1972 Mhd Ilham
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 22 No. 1 (2018): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.011 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v22i1.21

Abstract

This research is historical research. Aims to reveal the shift in political preferences of the Ummah in Pasaman District after the PRRI rebellion. In this study it was found that ulama are the most significant historically-factual-implicative social elite. This can be seen from the existence and influence of the Muhammadiyah and the Masyumi party in the early 1950s to 1957, two organizations which were significantly influenced by the ulamas. After the PRRI rebellion in 1957 and the operation of mass destruction of the remaining PRRI sympathizers in this area in 1958, there was a shift in the socio-political preferences of the Muslims in Pasaman Regency. Shifts in a very fast time span. Ulama which has been considered as the main reference in determining political choices, shifts to other social elites, local non-clerical political elites. The PRRI rebellion left psychological trauma for Muslims in Pasaman District, which contributed greatly to changing the socio-political preferences of the Muslim Ummah and decreasing the level of Islamic belief in the ulamas.
KETIKA ULAMA MENINGGALKAN UMMAT: Efek Politik dari Penumpasan PRRI Mhd Ilham
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 22 No. 2 (2018): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.757 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v22i2.31

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian sejarah. Bertujuan untuk mengungkap pergeseran preferensi politik ummat Islam di Kabupaten Pasaman setelah terjadinya pemberontakan PRRI. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ulama merupakan elit sosial yang paling signifikan secara historis-faktual-implikatif. Ini terlihat dari eksistensi dan pengaruh dari Muhammadiyah serta partai Masyumi pada awal tahun 1950 hingga 1957, dua organisasi yang dipengaruhi secara signifikan oleh ulama. Setelah terjadi pemberontakan PRRI tahun 1957 serta dilaksanakannya operasi penumpasan sisa-sisa simpatisan PRRI secara massif di daerah ini pada tahun 1958, terjadi pergeseran preferensi sosial politik ummat Islam di Kabupatena Pasaman. Pergeseran dalam rentang waktu yang sangat cepat. Ulama yang selama ini dianggap sebagai rujukan utama dalam menentukan pilihan politik, bergeser kepada elit sosial lainnya, elit politik lokal non-ulama. Pemberontakan PRRI meninggalkan trauma psikologis bagi ummat Islam di Kabupaten Pasaman tersebut berkontribusi besar dalam merobah preferensi sosial politik ummat Islam dan menurunnnya tingkat kepercayaan ummat Islam kepada ulama.
STATUS QUO KONFLIK IRAN - ISRAEL (2005-2018) Mhd Ilham
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 23 No. 1 (2019): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.514 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v23i1.213

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi alasan dibalik mengapa belum terjadinya konflik bersenjata secara langsung antara Israel dan Iran hingga saat ini, khususnya sejak tahun 2005. Disimpulkan bahwa tidak terjadinya konflik bersenjata secara langsung antara Iran dan Israel hingga hari ini adalah karena adanya perimbangan kekuatan regional di antara kedua negara demi mempertahankan status quo di Kawasan Timur Tengah, akumulasi kekuatan lawan dan risiko yang mungkin muncul jika salah satu pihak melakukan serangan terlebih dahulu.