Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Institusionalisasi Politik Islam di Turki (Studi terhadap Kiprah Politik Erdogan dalam memperjuangkan Islam) Fadila Syahadha
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 23 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.908 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.vi.238

Abstract

Artikel ini mengupas seputar penjelasan-penjelasan dan uraian-uraian tentang siapa sebenarnya Erdogan, serta perjalanan Erdogan hingga bisa mendapatkan julukan pemimpin Islam. Pertanyaan riset yang dibahas dalam artikel ini adalah apakah Erdogan adalah sosok pemimpin pejuang Islam? Terbaca dengan jelas bahwa keyakinan terhadap Erdogan sebagai pemimpin di Turki menjadi sebuah harapan baru bagi dunia Islam yang sedang digerogoti oleh media massa. Pada masa yang sama beberapa kenyatan Erdogan yang melambangkan bahwa ia adalah adalah pendukung sekularisme membuuat khalayak bingung apakah dia adalah seorang pejuang Islam atau tidak, ditambah lagi Erdogan yang selalu dielu-elukan oleh sebagian umat Islam di Turki, membuat publik bertanya tentang kekayaan Erdogan yang luar biasa setelah tiga periode menjadi Perdana Menteri Turki. Erdogan Adalah Politisi yang berasal dari keluarga yang tidak kaya, dan sekarang kekayaannya luar biasa, dengan memanfaatkan kekuasaannya Erdogan berhasil mengendalikan apapun yang ada di sekitarnya. Penulis melihat bila memang Erdogan adalah seorang pejuang Islam, ia harus membuktikan dan merealisasikan kebijakan-kebijakan, keputusan dan tindakan untuk mengembalikan Islam di Turki.
Nasionalisme, Sekularisme di Turki Fadila Syahadha
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 24 No. 1 (2020): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.297 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v24i1.268

Abstract

Rakyat Turki dikenal memiliki kecintaan yang sangat besar kepada tanah airnya. Dan hal ini sangat mudah dijumpai di Turki, dengan simbol dan perilaku sosial yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, bendera Turki yang bisa dijumpai di masjid, rumah, restoran, mobil, bus, kereta, kapal laut, sekolah, universitas, hotel, kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Juga taman-taman kota yang selalu memberikan ruang khusus untuk tiang bendera Turki bersama patung sang pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk. Satu frasa yang sangat terkenal dan populer di Turki adalah Ne Mutlu Türküm Diyene (NMTD, Betapa bahagianya seorang yang menyebut dirinya aku orang Turki). Frasa tersebut sebenarnya diambil dari kutipan pidato Mustafa Kemal Atatürk pada 29 Oktober 1933 yang menandai 10 tahun kemerdekaan Turki. Semboyan ini pada umumnya digunakan sebagai cara untuk mempertegas identitas sebagai seorang Turki. Pada sisi lainnya, juga dijumpai masalah rasial perihal frasa tersebut, karena dianggap tidak mengakomodir kelompok identitas lain yang hidup di Turki. Selain itu, secara umum orang Turki tetap berprinsip bahwa semboyan tersebut adalah medium untuk bertanggungjawab dan melampaui rasa cinta tanah air (Nasionalisem) dengan tujuan membawa Turki lebih maju dan kuat dalam segala bidang.