Endang Endrakasih
Dosen Jurusan Peternakan, Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGOLAHAN SUSU MENJADI PRODUK SABUN SUSU SAPI INDIGOFERA ZOLLINGERIANA (GO-MILK SOAP) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK SAPI PERAH DI DAERAH PANGALENGAN BANDUNG SELATAN Yogi Abdul Ramdan; Sukmawati Utami; Endang Endrakasih
Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Politeknik Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.62 KB) | DOI: 10.51852/jaa.v3i1.385

Abstract

Susu merupakan hasil produk peternakan yang kaya akan kandungan nurtrisi dan memiliki banyak manfaat bagi manusia. Pangalengan merupakan wilayah dataran tinggi yang berada di Propinsi Jawa Barat Kabupaten Bandung. Sebagian besar  mata pencaharian masyarakat di daerah Pangalengan  sebagai peternak sapi perah. Populasi sapi perah di Pangalengan saat ini mencapai 1300 ekor dengan produksi susu sapi mencapai 120 ton per hari. Permasalahnnya yang dihadapi peternak sapi perah di Pangalengan yaitu harga jual susu sapi segar yang relatif rendah yakni Rp. 4500-Rp. 5000/liter.Harga tersebut belum mampu menutupi biaya operasional yang dikelurkan oleh peternak. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai jual susu adalah dengan mengolahnya menjadi produk olahan seperti sabun.  Pengolahan susu menjadi sabun dapat meningkatkan harga jual sampai 4 kali lipat dari harga jual susu segar.  Sabun susu sapi dikenal memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan kulit diantaranya memperbaiki jaringan kulit yang rusak, mencegah kanker kulit, menghilangkan sel kulit mati, melembabkan kulit dan juga menjaga keasmaan pH kulit. Sedangkan tanaman Indogofera zollingeriana merupakan tanaman yang memiliki kandungan vitamin A, D, E dan K serta bahan aktif  berupa betakaroten yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan ini dibutuhkan untuk melindungi kulit dari radikal bebas yang merusak dan menjadi penyebab utama penuanaan dini.Fungsi lain dari betakaroten untuk membantu mencegaheritema/kulit memerah akibat radiasi UV.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data secara langsung berbasis penyuluhan kepadapara peternak. Sabun alami campuran susu sapi dan daun Indigofera zollingeriana yang diberi nama GO-MILK SOAP  ini memadukan khasiat dari susu sapi dan Indigofera, yang kaya akan manfaat dan aman untuk kulitmeski digunakan dalam jangka waktu panjang karena komposisi bahan yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami.
EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale) DAN MADU (Mel) SEBAGAI PENGAWET ALAMI SUSU PASTEURISASI Doni Abeng; Liza Ramadhani; Endang Endrakasih; Robiah Robiah
Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Politeknik Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.472 KB) | DOI: 10.51852/jaa.v3i1.386

Abstract

Pemanfaatan bahan bioaktif alami  seperti jahe dan madu sebagai bahan pengawet menjadi salah satu alternatif dalam mempertahan mutu susu pasteurisasi. Jahe  merupakan sumber daya hayati Indonesia yang dimanfaatkan sebagai bumbu dan obat. Jahe mengandung senyawa minyak menguap (volatil) dan minyak tidak menguap (non-volatil), serta pati. Minyak menguap atau minyak atsiri, merupakan komponen pemberi aroma (bau) khas pada jahe. Madu mengandung senyawa antibakteri yang dapat mencegah pertumbuhan mikroba sehingga dapat memberikan efek awet terhadap susu pasteurisasi. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan ekstrak jahe dan madu untuk mengetahui pengaruhnya terhadap lama penyimpanan susu pasteurisasi. Jahe diekstraksi tanpa bahan campuran lain. Variabel perlakuan terdiri dari susu pasteurisasi tanpa gula dan penambahan gula 10%, pasteurisasi ditambahkan gula dan jahe, pasteurisasi gula dan madu, pasteurisasi gula madu dan jahe serta pasteurisasi madu  tanpa gula. Perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Peubah yang diamati yaitu tingkat keasaman susu (pH) dan waktu penyimpanan sebagai perlakuan berulang (0 jam-48 jam). Pengamatan dilakukan setiap 6 jam sekali. Masing–masing ulangan terdiri atas 100 ml susu pasteurisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya simpan terlama pada susu pasteurisasi dengan penambahan madu tanpa gula. Semakin tinggi kadar konsentrasi madu (madu yang ditambahkan 10%, 15%, 20%) daya simpan susu semakin lama. Semakin tinggi kadar konsentrasi jahe susu pasteurisasi semakin mudah rusak. pH susu tidak bergantung pada kondisi susu, namun pada lama penyimpanan. Semakin lama penyimpanan susu, pH nya semakin rendah namun tidak mempengaruhi kondisi fisiknya.