Sukarno Hadi
Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karakater Hamba Tuhan Menurut 1 Timotius 6:11-12 Sukarno Hadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Nopember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.891 KB) | DOI: 10.55097/sabda.v1i2.15

Abstract

Character is one of the elements related to the principles and values of life that influence a person's thoughts, attitudes and behavior. To be a servant of God is a call from God personally to the person He wants. Many servants of God lose the focus of their ministry and lose God's character in their lives. A pastor in ministry must have the character of a servant of GodThe method in writing scientific papers is descriptive qualitative using literature study. The concept of the character of God's servants in 1 Timothy 6: 11-12, namely: First, stay away from all forms of evil. All forms of crime such as arrogance or pretending to be ignorant, looking for questions and fighting words that cause envy, injury, slander, suspicion, and bickering, wrong motivation in worship (1 Tim. 6: 4-5), greed / greed that is shown love of money (1 Tim. 6: 9-10. Second, pursuing all forms of virtue, which are the principles and nature of serving God and others. The first form of virtue is justice. Timothy must pursue justice, worship or piety, faithfulness, love. , patience, gentleness (1 Tim. 6:11), Third, defend his vocation by competing in a good / true faith contest (1 Tim. 6:12) Keywords: Concept, Character, Servant of God. Abstrak Karakter adalah salah satu unsur  yang terkait dengan prinsip dan nilai hidup yang mempengaruhi pikiran, sikap, serta perilaku seseorang. Menjadi hamba Tuhan adalah sebuah panggilan dari Allah secara pribadi kepada orang yang dikehendakiNya. Banyak hamba-hamba Tuhan kehilangan fokus pelayanan dan kehilangan karakter Allah dalam kehidupannya. Seorang gembala dalam pelayanan harus  memiliki karakter hamba TuhanMetode dalam penulisan karya ilmiah ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi pustaka . Konsep tentang  karakter hamba Tuhan dalam 1 Timotius 6:11-12 yaitu:Pertama, menjauhi segala bentuk kejahatan. Segala bentuk kejahatan seperti kesombongan atau berlagak tahu, mencari-cari soal dan bersilat kata yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, dan percekcokan, motivasi yang salah dalam beribadah (1 Tim. 6:4-5), keserakahan/ketamakan yang ditunjukkan cinta uang (1 Tim. 6:9-10.Kedua, mengejar segala bentuk kebajikan, yang menjadi prinsip dan sifat dasar dalam melayani Tuhan dan sesama. Bentuk kebajikan yang pertama adalah keadilan. Timotius harus mengejar keadilan , ibadah atau kesalehan, Kesetiaan. kasih, kesabaran, kelemah-lembutan (1 Tim.6:11), Ketiga, mempertahankan panggilannya dengan cara bertanding dalam pertandingan iman yang baik/benar (1 Tim.6:12) Kata kunci: Konsep, Karakter, Hamba Tuhan.
Dosa sebagai Ὀφείλημα: Telaah Leksikal Doa Bapa Kami dan Relasinya dengan Konsep חוֹב (ḥōb) dalam Tradisi Ibrani Didit Yuliantono Adi; Sulistiono Sulistiono; Sukarno Hadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.326

Abstract

This article examines the concept of sin as debt in the Lord’s Prayer through a lexical study of the Greek term opheilēma and an exploration of its conceptual roots in the Hebrew tradition. The study challenges the common assumption that sin is resolved simply by ceasing sinful behavior. Using a qualitative approach that integrates philological analysis, historical exegesis, and a review of recent scholarship, the research demonstrates that opheilēma in Matthew 6:12 refers to an unresolved moral and relational obligation rather than an abstract moral failure. This finding aligns with the Old Testament understanding of sin as a burden of responsibility that requires relational restoration. Consequently, forgiveness emerges not as a mere emotional response but as an act that resolves obligation and restores relationship. The study highlights the conceptual continuity between the Old and New Testaments and offers a theological correction to reductionist views of sin in contemporary Christian discourse.ABstrakArtikel ini bertujuan untuk  mengkaji konsep dosa sebagai hutang dalam Doa Bapa Kami melalui studi leksikal atas istilah Yunani opheilēma. Hal tersebut juga akan ditelusuri secara konseptual dalam tradisi Ibrani. Penelitian ini berangkat dari asumsi populer bahwa dosa dianggap selesai ketika seseorang berhenti melakukan dosa. Asumsi tersebut diuji secara kritis dengan pendekatan kualitatif yang memadukan analisis filologis, eksegesis historis, dan kajian literatur mutakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opheilēma dalam Matius 6:12 tidak menunjuk pada kesalahan abstrak, melainkan pada kewajiban moral dan relasional yang belum terselesaikan. Temuan ini selaras dengan pemahaman Perjanjian Lama yang melihat dosa sebagai beban tanggung jawab yang menuntut pemulihan relasi, bukan sekadar penghentian perilaku menyimpang. Dengan demikian, dosa dipahami sebagai realitas yang menuntut pengampunan sebagai tindakan penyelesaian, baik secara teologis maupun sosial. Artikel ini menawarkan koreksi teologis terhadap pemahaman reduksionis tentang dosa dalam konteks Kristen kontemporer. Kata Kunci: Doa, Bapa Kami, hutang, pengampunan, studi leksikal.
Mengulik Peran Istri Gembala dalam Menyokong Pelayanan Suami di Gereja Beraliran Pentakostal Yolanda Arista Wibowo; Ruwi Hastuti; Sukarno Hadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.174

Abstract

Pastoral ministry in Pentecostal churches is often viewed as the primary responsibility of a congregational pastor. However, the wife's contribution in supporting her husband's pastoral ministry also plays an important role that has not been widely studied. The problem that is attempted to be studied in this research is related to the tendency that the pastor's wife is not considered to have a role in pastoral ministry. This article aims to examine the role of wives in supporting their husbands' ministry in the Pentecostal church both theologically and in ministry practice. This research uses a qualitative-descriptive method with a literature review approach.. In conclusion, wives have a central role in supporting their husband's ministry through spiritual support, emotional support, practical support, and being a role model. Apart from that, through various things, the pastor's wife is able to have a significant impact in terms of maintaining the balance of her husband's ministry in the pastoral realm and family responsibilities.  AbstrakPelayanan pastoral di gereja Pentakostal sering kali dipandang sebagai tanggung jawab utama seorang gembala jemaat. Namun, kontribusi istri dalam mendukung pelayanan pastoral suami juga memainkan peran penting yang belum banyak diteliti. Masalah yang coba dikaji dalam penelitian ini terkait adanya kecenderungan istri gembala yang tidak dianggap peranannya dalam pelayanan pastoral. Artikel ini bermaksud untuk mengkaji peran istri dalam mendukung pelayanan suami di gereja Pentakostal baik secara teologis maupun praktik pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan kajian literatur. Disimpulkan, istri memiliki peran sentral dalam menyokong pelayanan suami melalui dukungan spritual, dukungan emosional, dukungan praktis, serta menjadi role model. Selain itu, melalui berbagai perannya, istri gembala mampu memberi dampak yang signifikan juga dalam hal menjaga keseimbangan pelayanan suami di ranah pastoral dan tanggung jawab keluarga.   Kata Kunci: Gereja Pentakostal; Istri Gembala; Pelayanan Pastoral.