Yuyun Kamsiati
Puskesmas Banjar Agung Kabupaten Lampung Selatan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Balita Stunting Usia 24-36 Bulan Tahun 2018 Nurul Aryastuti; Yuyun Kamsiati
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 9, No 3 (2020): Volume 9 Nomor 3
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v9i3.1850

Abstract

Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan menurut usia dibawah -2 standar median kurva pertumbuhan anak WHO (WHO, 2010). Angka stunting Kabupaten Lampung Selatan  tahun 2017 mencapai 30,3 %. Di Puskesmas  Banjar Agung tahun 2017 didapatkan 31 balita mengalami stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan stunting balita usia 24-36 bulan. Penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran langsung dan melihat buku KIA. Populasi adalah balita berusia 24-36 bulan di Puskesmas Banjar Agung sejumlah 474 balita, sampel 362 responden dengan teknik proporsional random sampling. Analisa data univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan angka stunting balita usia 24-36 bulan sebesar 26%. Ada hubungan antara riwayat kurang energi kronis pada ibu (p <0.001, OR 16.1, 95% CI 5.9-43.9), tinggi badan ibu (p<0.001, OR 12.9, 95%CI 3.6-46.9), usia ibu saat hamil (p 0.038, OR 2.8, 95%CI 1.1-6.8), riwayat BBLR (p <0.001, OR 14.1, 95%CI 2.9-66.4), riwayat ASI tidak Ekslusif (p <0.001, OR 9.5, 95%CI 5.5-16.3)  dan persediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat (p <0.001, OR 8.9, 95%CI 5.3-15.3). Faktor paling dominan adalah riwayat kurang energi kronis pada ibu saat hamil (OR 12.6, 95%CI 3.9-40.8). Disarankan agar Puskesmas melakukan penanganan terhadap balita stunting, bekerja sama dengan lintas sektor terkait membuat komitmen yang mendukung kebijakan penundaan usia perkawinan <20 tahun, penerapan ASI ekslusif, perbaikan sanitasi lingkungan dan peningkatan akses air bersih bagi masyarakat.