Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISA ASPEK-ASPEK DALAM PROSEDUR CHANGE ORDER PADA PROYEK KONSTRUKSI Michael Halmar Kosasi; Andi Andi; Lie Arijanto
Dimensi Utama Teknik Sipil Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Program Studi Magister Teknik Sipil - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.669 KB) | DOI: 10.9744/duts.6.1.9-16

Abstract

Change order merupakan perubahan kondisi kontrak yang mengubah harga, dan schedule proyek. Penelitian sebelumnya menunjukan claim change order mencapai 50% dari keseluruhan claim, dimana 76% diantaranya merupakan change order lisan dan separuhnya mengalami kegagalan claim. Tujuan penelitian adalah mengetahui berbagai aspek dalam prosedur change order. Metode penelitian yaitu dengan membuat kuesioner berdasarkan literatur terhadap “frekuensi kejadian” dan “tingkat kepentingan”. Data dianalisa deskriptif untuk mendalami kondisi proyek dan literatur beserta penyebabnya secara mendalam, yang kemudian dilakukan analisa perbedaan kontraktor dan MK melalui uji T-Test. Berdasarkan analisa diketahui saat identifikasi, change order diprakarsai owner, kontraktor, MK dengan site instruction, selanjutnya kontraktor harus mengajukan proposal gambar, spesifikasi, harga, dokumentasi. Selanjutnya owner akan mengevaluasi harga satuan dan mengukur volume bersih berdasar perubahan gambar. Pada tahapan approval, owner memberikan tanda tangan berdasarkan harga yang disetujui. Payment dilakukan dengan invoice terpisah sesuai progress change order beserta biaya tidak langsung, sedangkan tambahan waktu diberikan dalam hari kalender Change orders are changes in contract conditions change prices, and the project schedule. Previous research shows change order claims reaches 50% of total claim, where 76% given in verbal, and half have failed. The research objective is to determine the various aspects of the change order procedure. The research method is to create a questionnaire based on the literature of the "frequency of occurrence" and "level of interest". Data were analyzed descriptively to explore the conditions of the project and literature and how it happens, analyzed the differences contractors and MK through T-Test. Based on the analysis found that identification phase, change orders initiated by the owner, the contractor, MK with site instruction, then the contractor must submit a proposal drawings, specifications, price, documentation. Next phase, owner will evaluate the unit price and measuring the net volume based on changes drawing. At approval phase, owner provides a signature based on the agreed price. Payment is done by a separate invoice based on progress including indirect costs, while additional time is given in calendar days.
ANALISA ASPEK-ASPEK DALAM PROSEDUR CHANGE ORDER PADA PROYEK KONSTRUKSI Michael Halmar Kosasi; Andi Andi; Lie Arijanto
Dimensi Utama Teknik Sipil Vol. 6 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : Program Studi Magister Teknik Sipil - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/duts.6.1.9-16

Abstract

Change order merupakan perubahan kondisi kontrak yang mengubah harga, dan schedule proyek. Penelitian sebelumnya menunjukan claim change order mencapai 50% dari keseluruhan claim, dimana 76% diantaranya merupakan change order lisan dan separuhnya mengalami kegagalan claim. Tujuan penelitian adalah mengetahui berbagai aspek dalam prosedur change order. Metode penelitian yaitu dengan membuat kuesioner berdasarkan literatur terhadap “frekuensi kejadian” dan “tingkat kepentingan”. Data dianalisa deskriptif untuk mendalami kondisi proyek dan literatur beserta penyebabnya secara mendalam, yang kemudian dilakukan analisa perbedaan kontraktor dan MK melalui uji T-Test. Berdasarkan analisa diketahui saat identifikasi, change order diprakarsai owner, kontraktor, MK dengan site instruction, selanjutnya kontraktor harus mengajukan proposal gambar, spesifikasi, harga, dokumentasi. Selanjutnya owner akan mengevaluasi harga satuan dan mengukur volume bersih berdasar perubahan gambar. Pada tahapan approval, owner memberikan tanda tangan berdasarkan harga yang disetujui. Payment dilakukan dengan invoice terpisah sesuai progress change order beserta biaya tidak langsung, sedangkan tambahan waktu diberikan dalam hari kalender Change orders are changes in contract conditions change prices, and the project schedule. Previous research shows change order claims reaches 50% of total claim, where 76% given in verbal, and half have failed. The research objective is to determine the various aspects of the change order procedure. The research method is to create a questionnaire based on the literature of the "frequency of occurrence" and "level of interest". Data were analyzed descriptively to explore the conditions of the project and literature and how it happens, analyzed the differences contractors and MK through T-Test. Based on the analysis found that identification phase, change orders initiated by the owner, the contractor, MK with site instruction, then the contractor must submit a proposal drawings, specifications, price, documentation. Next phase, owner will evaluate the unit price and measuring the net volume based on changes drawing. At approval phase, owner provides a signature based on the agreed price. Payment is done by a separate invoice based on progress including indirect costs, while additional time is given in calendar days.
IMPLEMENTASI VALUE STREAM MAPPING PADA PEMBANGUNAN PROYEK RUKO Steven, Daniel; Lie Arijanto
Dimensi Utama Teknik Sipil Vol. 12 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Magister Teknik Sipil - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/duts.12.2.190-210

Abstract

Proyek pembangunan ruko sering menghadapi berbagai tantangan berupa pemborosan, seperti waktu tunggu, pekerjaan ulang, pergerakan yang tidak efisien, stok berlebihan, transportasi tidak optimal, proses berlebih, dan produksi berlebih. Penelitian ini bertujuan memperlancar aliran proses pembangunan ruko dengan menggunakan Value Stream Mapping (VSM), sehingga dapat meningkatkan efisiensi tahap akhir dengan memetakan dan mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non value added activity). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif analitis dengan studi kasus pada proyek pembangunan ruko di Eastgate, Surabaya. Pekerjaan yang diamati meliputi plesteran, acian, waterproofing, atap, tampak depan, dan plafon. Data aktivitas kerja dikumpulkan untuk mengidentifikasi pemborosan, kemudian digunakan untuk membuat future state value stream mapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan aktivitas seperti perbaikan plesteran, perapian dimensi pengecoran, jajan, jalan-jalan di luar jam istirahat, mengobrol dengan tukang lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan dan transportasi bahan yang tidak efisien dapat dihilangkan.
ANALISIS RISIKO DAN PENJADWALAN PADA PROYEK MULTIKOMPLEKS. STUDI KASUS : EASTGATE PROJECT, SURABAYA Hariadi, Yustinus Melvern; Lie Arijanto
Dimensi Utama Teknik Sipil Vol. 13 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Program Studi Magister Teknik Sipil - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/duts.13.1.1-16

Abstract

Risiko yang muncul pada proyek konstruksi berdampak pada keberhasilan waktu proyek. Risiko perlu dianalisis agar proyek dapat selesai sesuai dengan durasi yang direncanakan. Pada penelitian ini, risiko diteliti pada proyek Eastgate, Surabaya. Proyek ini adalah proyek multikompleks dengan berbagai aktivitas yang berjalan secara simultan dan saling tumpang tindih. Pada proyek ini, risiko yang diidentifikasi meliputi risiko material, tenaga kerja, manajerial, karakteristik lapangan, dan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, faktor premanisme/faktor lingkungan dan kondisi lapangan yang belum siap menjadi risiko yang tergolong high risk. Aktivitas yang terdampak oleh risiko ini memiliki probabilitas yang rendah dalam mencapai durasi rencananya. Aktivitas-aktivitas yang terdampak oleh risiko ini antara lain pekerjaan Grand Entrance, Saluran Kota, Median dan Berem Jalan, Aspal, PJU dan Kelistrikan Kawasan, serta pekerjaan Landscape. Pada aktivitas kritis proyek juga menunjukan probabilitas yang rendah dalam mencapai durasi rencananya, karena aktivitas-aktivitas pada jalur kritis juga terdampak oleh risiko yang tergolong high risk.