Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESPON FIBER KELAPA SAWIT DAN TANAH MINERAL INCEPTISOL TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) Baren Puspita; Tri Margiarso
PROSIDING SEMINASTIKA Vol 2 No 1 (2019): 2nd SEMINASTIKA 2019
Publisher : Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian untuk memanfaatkan limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berupa fiber yang dihasilkan dari serut buah/brondolan sawit. Dalam hal ini, fiber kelapa sawit terdapat kandungan antara lain kalium (K) sebesar 9,2 %, karbonat (CO3) sebesar 2.6 %, nitrogen (N) sebesar 0,04 % posfat (P) sebesar 1,4 % dan silika (SiO2) sebesar 59,1 %. Tanah yang dibutuhkan adalah tanah mineral Inceptisol. Peranan media tersebut memberikan kuantitas dan kualitas hara tanah. Ketika hara tanah baru telah terbentuk maka dapat diaplikasikan untuk media pembibitan kelapa sawit. Sehingga harapan ke depan dapat dikembangkannya bibit-bibit unggul yang berasal dari benih bersertifikat nasional (telah diakui Negara yakni PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon pemberian pupuk fiber kelapa sawit dan tanah mineral inceptisol dengan takaran yang berbeda akan memberikan pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis gueneensis Jacq) Varietas Dumpy turunan Dy x P SP-1. Tahapan metode penelitian menggunakan metode kuantitatif Rancangan Acak Lengkap (RAL) Petak Terbagi. Mekanisme penelitian ini yakni dengan melihat hubungan antara fiber dan mineralogi inceptisol. Metode ini diterapkan agar dapat diketahui stimulan kedua media dasar dalam polybag. Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran reaksi mengenai peranan dari fiber tersebut.
ANALISIS USAHA TANI TEBU DI KECAMATAN BAMBANGLIPURO KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Baren Puspita
Jurnal Magrobis Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analysis on sugarcane farming in Bambanglipuro district, Bantul regency, special regency of Yogyakarta has been done to the difference of farming system and to analyze more profitable sugarcane farming between Joint Venture Sugarcane Society (TR.KSU), Partnership Sugarcane Society (TR.KMT), and Independent Sugarcane Society (TR. MAN) farmers.The basic method used is descriptive method and analysis so the analysis on sugarcane farming is worth the effort. Sampling location is at Bambanglipuro district, Bantul Regency with 60 samples taken consisting of 20 Joint Venture Sugarcane Society (TR.KSU) farmers, 20 Partnership Sugarcane Society (TR.KMT) farmers, and 20 Independent Sugarcane Society (TR. MAN) farmers. The result of the research shows that Venture Sugarcane Society (TR.KSU) farmers make profit Rp. 19.180.112/Ha on PC and Rp. 15.531.800/Ha on RC. Partnership Sugarcane Society (TR.KMT) farmers make profit Rp. 18.911.388/Ha on PC and Rp. 15.419.800/Ha on RC, and Independent Sugarcane Society (TR. MAN) farmers make profit Rp 22.983.188/Ha on PC and Rp. 17.985.710/Ha on RC.Value of R/C ratio sugarcane farming per Ha for TR.KSU, TR.KMT, and TR.MAN farmers is more than one. This shows that either PC or RC sugarcane farming is worth the effort.Keywords: Sugarcane farming analysis, society’s sugarcane, partnership, farming suitability