Hopizal Wadi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dekonstruksi Tafsir Ayat-Ayat Berbasis Gender Dalam Perspektif Pemikiran Feminisme Barat Dan Islam Wely Dozan; Hopizal Wadi; Jaswadi Jaswadi
AL-WARDAH: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama Vol 15, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : IAIN TERNATE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46339/al-wardah.v15i1.638

Abstract

Akhir-akhir ini, diskursus terhadap kajian gender merupakan persoalan penting untuk digali dalam berbagai perspektif khususnya dalam pemikiran barat dan Islam. Gender selama ini marak berkembang, lebih-lebih mendapatkan perhatian penting sehingga kemudian gender mengalami dinamika yang cukup signifikan untuk dirumuskan melalui upaya kesungguhan para cendekiawan-cendekiawan Muslim dan pemikiran barat untuk menguarikan kembali terhadap isu gender sekaligus pembelaan terhadap perempuan. Fokus penelitian ini melihat beberapa aspek mendasar yang menjadi pokok-pokok permasalahan yang dikaji adalah dekonstruksi tafsir ayat-ayat gender dalam perspektif pemikiran feminisme barat dan Islam yang dianalisis sebagai pembahasan sekaligus menjawab problematika penelitian tersebut. Jenis penelitian adalah pendekatan studi pustaka (library research) yaitu menganalisis data dalam berbagai keragaman yang termuat berbagai jurnal, buku, artikel sebagai bahan mendukung dalam merumuskan jawaban penelitian ini. Secara garis besar yaitu konsep gender merupakan peran penting untuk melindungi perempuan dalam aspek posisi perempuan untuk merealisasikan keadilan berbasis gender. Dekonstruksi tafsir ayat-ayat berbasis gender dilakukan sebagai upaya penting untuk menghilangkan budaya partriarkhi, karena perempuan statusnya sebagai mahluk yang utuh memiliki peran dalam sejarah peradaban manusia. (Objektivis Netral Gender) semata-mata melindungi perempuan baik dari aspek biologis, perbedaan, psikologis, untuk memperjuangkan keadilan dan kesataraan gender. Sehingga feminisme sebagai jalan alternatif untuk berjuang menyuarakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan kemudian tidak menyebabkan ketimpangan dan diskriminasi terhadap perempuan.
MENANGKAL STIGMA ISLAMOPHOBIA: MENGAKTUALISASIKAN KONSEP MODERASI BERAGAMA DI ERA KONTEMPORER Hopizal Wadi; Rohimi Rohimi
Jurnal Inen Paer Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Inen Paer Edisi Desember
Publisher : Pusat Studi Kebudayaan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/jip.v2i1.682

Abstract

Artikel ini secara spesifik mengkaji tentang Islamofobia yang menjadi perbincangan dunia atas keresahan dan ketakutan ummat Islam. kemudian, penulis berupaya untuk mendeskripsikan konsep Islam wasatiyyah sebagai jawaban untuk menangkal stigma Islamofobia di Indonesia, sekaligus menganalisis keidealannya bagi ummat manusia. kemunculan Islam wasatiyyah akan menjadikan ummat Islam merasakan tentram dan damai tanpa kekerasan atas nama ras, ideologi, golongan bahkan agama. Sehingga eksistensi Islam wasatiyyah sebagai pintu masuk untuk mencapai persatuan dan keutuhan dalam bernegara serta bermasyarakat. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan peran Islam wasatiyyah dalam menjawab tantangan Islamofobia yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia. Kemudian, artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis yang berbasis kepustakaan (library research) dari berbagai sumber refrensi ilmiah seperti artikel-artikel ilmiah, buku-buku dan literatur-literatur yang berkaitan dengan tema bahasan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsep Islam wasatiyyah sebagai jalan ideal untuk menangkal berkembangnya Islamofobia di Indonesia sehingga harus dipertahankan secara konsisten. Kemudian, posisi Islam wasatiyyah sebagai jawaban atas stigma Islamfobia, dengan mengedepankan cara pandang yang lebih damai, toleran, cinta serta berkeadilan sehingga membuat citra Islam sedikit bergeser dari sentimen kekerasan.