Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS SEMIOTIKA JULIA KRISTEVA DALAM FILM “SEXY KILLERS” (Pendekatan Semanalisis hingga Intertektualitas) Siti Nur Alfia Abdullah
AL-TADABBUR Vol 5, No 2 (2019): AL-TADABBUR
Publisher : IAIN TERNATE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya sebuah film yang menceritakan tentang keadaan bangsa Indonesia yang melibatkan para petinggi-petinggi bangsa dan juga masyarakatnya yang mana mempunyai pemahaman yang berbeda dalam melihat sebuah teknologi, menjadi suatu hal yang patut untuk ditelaah kembali, dikarenakan sejak film tersebut muncul, telah banyak menuai berbagai pujian dan banyak pula yang mengkritisi serta memaknainya dengan cara yang  berbeda, yakni film “Sexy Killers. Ini menjadi sebuah dasar penulis dalam melakukan penelitian untuk  melihat perbedaan tersebut dari berbagai macam bentuk pemaknaan yang dibangun, dengan memakai teori semiotika dari Julia Kristeva, tentang semanalisis hingga intertektualitas. Walaupun teori tersebut terfokus pada bahasa puitis, namun penulis ingin mencoba menerapkannya dalam sebuah media film yang jarang dilakukan dalam peneltian lain. Hasil penelitian menjelaskan bahwa makna tidaklah mesti dipahami secara kaku dan otoriter, namun makna memiliki perkembangan yang terus berinovasi, “Sexy Killers” dalam perwujudannya merupakan teks full yang tidak bisa dirubah dalam Kristeva disebut dengan genoteksnya, kemudian fenoteks merupakan makna yang berkembang di tengah masyarakat saat menyaksikan film “Sexy Killers” makna yang dihasilkan pun berbeda beda, bisa jadi makna tersebut dipahami sama dengan tujuan dari si sutradara film sendiri sebagai bentuk kritis terhadap pemerintah yang tidak bijak dalam melakukan pembangunan tambang batu bara, atau bahkan proses hadirnya film tersebut dimaknai hanya  sebatas informasi sesaat dan tidak memiliki pengaruh apa-apa. Karenanya makna fenoteks ini lebih bersifat dinamis berdasar kepada siapa yang memahaminya, pemerintah dalam hal ini sebagai pembuat aturan memaknai pembangunan batu bara sebagai bentuk kesejahteraan rakyat, namun rakyat memahaminya sebagai bentuk penderitaan.