Hermain Teguh Prayitno
Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Pati

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATEGI PEMANFAATAN KOTORAN SAPI Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 10, No 1 (2014): Juni
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.064 KB) | DOI: 10.33658/jl.v10i1.76

Abstract

ENGLISHCow feces abundant in the pati district. In the theory, anaerobic organic matter change into inorganic produce energy. Meanwhile, scarcity and rising prices of LPG and chemical fertilizers are common, due to the disparity subsidized and non-subsidized price. Purpose of the study is to know the strategy of utilization cow faces, with descriptive quantitative method and SWOT analysis. Internal factors and external factors assessed by the results of 2.38 and 2.92, the positioning strategy of growth through horizontal integration and stability that is intensified and innovation process of making biogas, liquid manure, solid manure becomes easier, cheaper and can be emulated to provide own needs, and towards the avaibility of farmers to face post-subsidy removal. INDONESIAKotoran sapi berlimpah di kabupaten pati. Dalam teori, perubahan anaerob bahan organik menjadi anorganik menghasilkan energi. Sementara, kelangkaan dan peningkatan harga LPG dan pupuk kimia sering terjadi, akibat adanya disparitas harga subsidi dan non subsidi. Tujuan penelitian ingin mengetahui strategi pemanfaatan kotoran sapi, dengan metode deskriptif kuantitatif dan analisis SWOT. Faktor internal dan faktor eksternal dinilai dengan hasil 2,38 dan 2,92 pada posisi strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal dan stabilitas yaitu menggiatkan dan menginovasi proses pembuatan biogas, pupuk cair, pupuk padat menjadi lebih mudah, murah dan dapat ditiru untuk mencukupi kebutuhan sendiri, dan menuju ketahanan peternak dan petani menghadapi paska pencabutan subsidi.
PEMETAAN POTENSI BIOGAS DAN PUPUK DARI KOTORAN SAPI UNTUK MENDUKUNG WISATA PAMELO DI DESA BAGENG KECAMATAN GEMBONG KABUPATEN PATI Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.658 KB) | DOI: 10.33658/jl.v11i2.66

Abstract

ENGLISHBageng village is a village which has pummelo plant and the highest number of cattle in Gembong Subdistrict. Therefore, this area known as the Pummelo Tourism Village. High number of cattle not followed by good handling of cow waste so that in some areas experience the environmental pollution. To reach the better pummelo tourism village, it necessary to improve the quality of the environment. One of the way is by mapping the potential of biogas from cow waste. This study aims to: 1) describe the condition of cattle in Bageng village; 2) mapping the potential of biogas and manure from cow waste for development of Pummelo. This research is exploratory. The primary data required includes cage density, number of cattle, the amount of pummelo and public information obtained from the questionnaire. Secondary data were obtained from village and subdistrict monograph. Data processing is also reinforced with satellite images of google earth, the google MAP data. The results showed that : 1) The number of cattle counted 508-720 head with 8.7 tons of cow waste/day; 2) The largest biogas potency contained in Rubiyah hamlet Bageng village. From this research are expected the use of cow waste as biogas to meet the energy needs of the communities as well as to meet the needs of Pummelo plant manure. INDONESIADesa Bageng merupakan desa yang memiliki tanaman jeruk pamelo dan jumlah ternak sapi tertinggi di Kecamatan Gembong. Oleh karenanya, daerah ini dikenal sebagai Desa Wisata Pamelo. Jumlah ternak sapi yang tinggi tidak diikuti dengan penanganan kotoran sapi yang baik sehingga di beberapa daerah mengalami pencemaran lingkungan. Untuk menuju Desa Wisata Pamelo yang lebih baik, diperlukan adanya peningkatan kualitas lingkungan. Salah satunya dengan cara pemetaan potensi biogas dari kotoran sapi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menggambarkan kondisi ternak sapi Desa Bageng; 2) memetakan potensi biogas dan pupuk dari pemanfaatan kotoran sapi untuk perkembangan Jeruk Pamelo. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Data primer yang dibutuhkan meliputi kerapatan kandang, jumlah ternak, jumlah jeruk pamelo dan informasi masyarakat yang diperoleh dari kuesioner. Data sekunder diperoleh dari Monografi Desa dan Kecamatan. Pengolahan data juga diperkuat dengan foto citra satelit google earth, data google MAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Jumlah ternak sapi terhitung 508 – 720 ekor dengan 8,7 ton kotoran sapi /hari; 2) Potensi biogas terbesar terdapat di Dukuh Rubiyah Desa Bageng. Dari penelitian ini diharapkan adanya pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas untuk mencukupi kebutuhan masyarakat akan energi sekaligus untuk memenuhi kebutuhan pupuk tanaman Jeruk Pamelo.
PENURUNAN BAU LIMBAH CAIR INDUSTRI TEPUNG IKAN MENGGUNAKAN CUKA, AERASI, OZONE DENGAN INDIKATOR LALAT Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.274 KB) | DOI: 10.33658/jl.v12i2.46

Abstract

INDONESIAPermasalahan bau di industri tepung ikan di Kabupaten Pati dapat dirasakan jika kita menempuh perjalanan Pati ke Juwana. Bau berasal dari cerobong asap dan lingkungan industri, terutama pada Instalasi Pengolahan Air Limbah. Perkiraan bau berasal dari bau bawaan ikan busuk yang tidak dirawat ( pengawetan ) oleh nelayan dan pedagang.Bau bawaan berasal dari ikan yang pecah perut masuk ke IPAL bersamaan dengan pembersihan lantai, kemudian terangkat ke udara melalui aerasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh aerasi, ozonisasi, dan dalam kondisi asam terhadap produksi bau dengan indikator keberadaan lalat.Upaya menetralkan bau bawaan pada pengolahan awal ini dilakukan dengan metode eksploratif eksperimental, variabel cuka, aerasi, dan ozonisasi. Indikator pengamatan adanya jenis dan jumlah lalat. Analisis menghasilkan bahwa campuran limbah cair dan cuka di aerasi dan di ozonisasi mengeluarkan bau segar yang disukai lalat rumah, akan tetapi tidak ekonomis. Lalat hijau menyukai bau busuk hasil dari aerasi dengan korelasi 0,579 ke tiga botol dan signifikan 0,048. Artinya pengolahan menggunakan ozon memungkinkan untuk menurunkan bau pada limbah cair pada pengolahan awal IPAL industri ikan.
PENGOLAHAN KOTORAN SAPI DENGAN TEKNOLOGI BIOGAS REAKTOR KECIL Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 10, No 2 (2014): Desember
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.217 KB) | DOI: 10.33658/jl.v10i2.84

Abstract

ENGLISHResearch on alternative energy and fertilizer has been done and applied, but the public not interest yet to make this alternative energy and fertilizer. This is due to the huge costs, the process is complicated, and low economic value . Biogas processing, liquid fertilizers and solid. If the large volume of water mix will increase the volume of the reactor and the implications for the huge cost . The research objective was to determine variations in the sample which is capable of representing the processing of the biogas process and product stability. The method used in laboratory scale experiments and determination of the best results using factor analysts . The results of the research is reactor B and A that can be used as a reference treatment that produces biogas manure optimal, and the volume of 0.56 liters of biogas per one kilogram of cow dung with a processing time of 38 days. INDONESIAPenelitian mengenai energi dan pupuk alternatif sudah banyak dilakukan dan diterapkan, akan tetapi minat masyarakat untuk membuat energi dan pupuk alternatif ini belum ada. Hal ini disebabkan oleh biaya yang besar, prosesnya yang rumit, dan nilai ekonominya rendah. Pengolahan biogas, pupuk cair dan padat. Jika dengan volume campuran air yang besar akan membesarkan volume reaktor dan berimplikasi pada besarnya biaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variasi sampel mana yang mampu mewakili proses pengolahan dengan kesetabilan proses dan produk biogas. Metode yang digunakan percobaan skala laboratorium dan penentuan hasil terbaik menggunakan analis faktor. Hasil penelitian yaitu reaktor B dan A yang dapat digunakan sebagai acuan pengolahan kotoran sapi yang menghasilkan biogas optimal, dan volumenya 0,56 liter biogas setiap satu kilogram kotoran sapi dengan waktu pengolahan 38 hari.
PERENCANAAN PEMBUATAN REAKTOR BIOGAS DAN PUPUK ORGANIK Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 11, No 1 (2015): Juni
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.643 KB) | DOI: 10.33658/jl.v11i1.58

Abstract

ENGLISHIndonesian economic state has not been stable yet, so that in the short term period, it can affect community’s food sustainability, especially for farmer. Independency regarding energy and fertilizer need to be reached through the ability to process cow dung becoming biogas and fertilizer. The follow-up of previous research resulted a guidance to set a processing tool and a procedure to set a biogas processing. It is needed 33 kg of cow dung (equal to two adult-cow dung) and results 600 liters of biogas, 12.2 liters of liquid fertilizer, and 24.4 kg of solid manure per day. INDONESIASaat ini perekonomian indonesia belum stabil, dalam jangka pendek akan mampu mengganggu ketahanan pangan masyarakat, khususnya petani dan peternak. Kemandirian energi dan pupuk diharapkan segera bangkit melalui kemampuan sendiri mengolah feses sapi menjadi biogas dan pupuk. Kelanjutan dari hasil penelitian terdahulu mampu menghasilkan panduan masyarakat dalam merakit alat pengolah dan tata cara operasi dalam bentuk perencanaan pengolahan biogas dan pupuk. Bahan baku 33Kg (setara dengan dua ekor sapi dewasa) setiap hari direncanakan diolah menjadi biogas 600 liter, pupuk cair 12,2 liter, dan ampas basah 24,4Kg setiap hari.
STRATEGI PENGEMBANGAN MANDIRI ENERGI DAN PUPUK ORGANIK DI DUKUH RUBIYAH DESA BAGENG KECAMATAN GEMBONG KABUPATEN PATI Hermain Teguh Prayitno
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 12, No 1 (2016): Juni
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.671 KB) | DOI: 10.33658/jl.v12i1.48

Abstract

ENGLISHRubiyah sub village has the potential to be developed becoming a self-sufficient energy and fertilizer sub village. It is because the topography of Rubiyah sub village is composed of mountains and the sub village close to rivers which makes a lot of people working in the cattle husbandry sector. The purpose of the study is to formulate strategies in developing Rubiyah sub village becoming a self-sufficient energy and fertilizer sub village. This research uses a descriptive quantitative method. The primary data are obtained by interviewing breeders and owners of biogas installation and organic fertilizer in Rubiyah sub village, Bageng Village Pati Regency. While secondary data are derived from relevant reports and publications. The sampling method is a purposive sampling. The data are analysed by SWOT analysis. The result shows that internal external matrix is located in a position of growth concentration through horizontal integration. The main strategies are: 1) to rebuild and to increase the number of biogas digester by involving the local community as the masons; 2) to increase the production of organic fertilizer. Other strategies are the establishment of market and supporting organizations. INDONESIADukuh Rubiyah memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi dukuh mandiri energi dan pupuk organik. Hal ini karena topografi Dukuh Rubiyah yang berupa pegunungan dan dekat dengan sungai menjadikan masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai beternak sapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dalam pengembangan mandiri energi dan pupuk organik di Dukuh Rubiyah Desa Bageng. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data primer berasal dari hasil wawancara dengan peternak dan pemilik instalasi biogas dan pupuk organik. Sedangkan data sekunder berasal dari penelitian dan dokumen yang relevan. Metode pengambilan sampel responden adalah purposive sampling. Lokasi penelitian di Dukuh Rubiyah Desa Bageng Kecamatan Gembong Kabupaten Pati. Analisis data menggunakan SWOT. Hasil penelitian adalah matriks internal eksternal berada pada posisi pertumbuhan (Growth) konsentrasi melalui integrasi horisontal, sedangkan strategi utama yaitu berupa pembangunan kembali dan memperbanyak bangunan biogas dan pupuk organik dengan melibatkan masyarakat sendiri sebagai perakitnya. Strategi lain yaitu pembangunan pasar dan pendirian organisasi penunjang.