Areal pengembangan tanaman karet di Indonesia hampir tersebar pada seluruh propinsi, termasuk di wilayah Indonesia timur yang beriklim kering. Meskipun luas perkebunan karet di wilayah beriklim kering tergolong sangat kecil (sekitar 1,6%), namun pengembangannya perlu dilakukan seoptimal mungkin. Pada daerah kering dengan curah hujan < 1500 mm/tahun, air merupakan faktor pembatas utama terhadap laju pertumbuhan dan produktivitas tanaman karet. Kondisi tersebut (iklim kering) sukar dimodifikasi dan dikendalikan kecuali dalam skala mikro, yaitu melalui pendekatan dengan cara penyesuaian antara kultur teknis dengan karakter iklim yang ada. Penerapan paket teknologi meliputi teknologi penyediaan bahan tanam yang sesuai pada daerah beriklim kering, teknologi manajemen lengas, dan penerapan teknologi sistem eksploitasi yang tepat diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi lateks pada tanaman karet. Hasil pengamatan di beberapa kebun karet di Jawa Timur menunjukkan bahwa sebelum diterapkan paket teknologi, pertumbuhan TBM karet cenderung di bawah standar, namun setelah diterapkan paket teknologi performa tanaman dan pertumbuhan lilit batang menjadi lebih baik. Penerapan paket teknologi pada TM, berupa penjagaan lengas tanah, peningkatan efektivitas serapan hara, dan penerapan sistem eksploitasi berdasarkan tipologinya mampu mendukung optimasi penyadapan sehingga produksi lateks meningkat.