Nurliaty Nurliaty
Akademi Keperawatan Darmo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KARAKTERISTIK PENDERITA ASMA BRONCHIAL DI PUSKESMAS PADANG BULAN MEDAN TAHUN 2020 Nurliaty Nurliaty
Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara Vol 9. No 1 (2021) Edisi Januari
Publisher : Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.304 KB) | DOI: 10.48134/jurkessutra.v9i1.59

Abstract

Asma bronkial adalah kesulitan bernafas yang ditandai dengan gejala sesak napas, batuk dan mengi. Pada umumnya serangan asma disebabkan oleh alergen yang tampil dalam bentuk Asma merupakan suatu kondisi paru-paru yang kronis yang ditandai dengan kesulitan bernafas. Asma dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur dan jenis ingestan, inhalan dan kontakdengan kulit. Karakteristik Penderita Asma Bronkial di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2020. Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif  yaitu untuk mengetahui Karakteristik Penderita Asma Bronkial di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2020. Populasi sebanyak 30 responden yang keseluruhannya dijadikan sampel (total sampling). Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder dari rekam medik, dimana peneliti mengambil data dari rekam medik pada tahun 2020 tentang kasus pasien dengan diagnosa medis asma bronkial dengan menggunakan format pengumpulan data. Karakteristik Penderita Asma Bronkial berdasarkan usia di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2020 mayoritas terdapat pada kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 10 orang (33,3%), dan minoritas pada usia 20-29 tahun sebanyak 5 orang (16,7%)berdasarkan usia asma pada orang dewasa sering kemungkinan itu terjadi dari mulai anak-anak, makin dewasa seseorang itu makin lemah kekuatan anti bodinya jadi di harapkan supaya menjaga kesehatannya masing-masing misalnya dengan memakan makanan yang bergizi,minum vitamin,dan sebagainya, berdasarkan pekerjaan mayoritas terdapat pada wiraswasta sebanyak 11 orang (36,7%), orang yang bekerja disuatu pabrik akan lebih rentang terkena asma dibanding yang bekerja di perkantoran jadi bagi yang pekerjaannya di pabrik harap menggunakan masker sewaktu bekerja supaya debu-debu dari pabrik tersebut tidak terhirup oleh hidung, dan minoritas terdapat pada PNS sebanyak 3 orang (10%), berdasarkan jenis kelamin  mayoritas  laki-laki sebanyak 18 orang (60 %), dan minoritas adalah perempuan sebanyak 12 orang (40%), asma sering terjadi pada laki-laki dua kali lipat lebih banyak dibanding perempuan oleh karena itu kita harus menjaga kesehatan dengan baik terutama bagi kaum laki-laki karena lebih rentan terserang asma dibanding perempuan. Kata kunci: Karakteristik Penderita Asma Bronkial 
LATIHAN BATUK EFEKTIF PADA PASIEN PASKA OPERASI DI RUANG BEDAH RSU ADVENT MEDAN TAHUN 2019 Nurliaty Nurliaty
Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara Vol 8, N0 2 (2020): Edisi Juli
Publisher : Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.99 KB) | DOI: 10.48134/jurkessutra.v8i2.29

Abstract

Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan sekret secara maksimal.Latihan batuk efektif dilakukan sebelum tindakan pembedahan (pre operasi) secara keseluruhan untuk mencapai kesuksesan dalam pembedahan.Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat Quasi Eksperimen dengan rancangan penelitian two group post test only yang bertujuan untuk mengetahui “kemampuan batuk efektif antara yang diberikan latihan batuk dengan yang tidak diberikan latihan batuk pada pasien pasca oparasi di ruang bedah RSU Advent Medan 2019”. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien pasca oparasi di ruang bedah dari bulan Mei sampai Juni 2019 yang berjumlah  110 orang. Pengambilan sampel dengan tehnik Simple Random Sampling  sehingga didapatkan jumlah sampel  sebanyak 30 orang yang dibagi 2 atas kelompok yaiti 15 kelompok intervensi dan 15 kelompok kontrol. Data diolah dengan SPSS komputer. Analisa dengan uji Chi-Square pada α 0,005.Hasil penelitian dengan Chi-Square didapatkan (P Value : 0,003) yang berarti ada perbedaan kemampuan batuk efektif kelompok intervensi yang diberikan latihan batuk dengan kelompok kontrol yang tidak diberikan latihan batuk. Hasil penelitian ini menyarankan latihan batuk penting dimana pasien dapat menghemat energi sehingga pasien tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan sekret secara maksimal sehingga sangat disarankan kepada pelayanan keperawatan medikal bedah dapat menerapkan intervensi ini.
Efektifitas Bladder Training Terhadap Kemampuan Mengontrol Eliminasi Urine Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesare di RSU Advent Tahun 2019 Nurliaty Nurliaty
Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara Vol 8, N0 2 (2020): Edisi Juli
Publisher : Jurkessutra : Jurnal Kesehatan Surya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.174 KB) | DOI: 10.48134/jurkessutra.v8i2.24

Abstract

Abstrak Pendahuluan. Secsio sesarea dengan anestesi spinal dapat menimbulkan resiko inkontinensia urine.  Untuk mencegah terjadinya inkontinensia urine pada ibu post seksio sesarea dapat dicegah dengan melakukan intervensi bladder Training yang dimulai 8 jam setelah operasi.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain Quasi eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui “efektifitas bladder training terhadap kemampuan mengontrol eliminasi urine pada pasien post seksio sesarea di RSU Advent Tahun 2019”. Populasi dalan penelitian ini adalah seluruh pasien post seksio sesarea dengan anestesi spinal dari bulan Mei sampai bulan Juni 2019 yang berjumlah 74 orang. Pengambilan sampel dengan teknik Simple Random Sampling sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 26 orang yang dibagi atas 2 kelompok yaitu 13 kelompok kontrol dan 13 kelompok intervensi. Data dianalisa dengan uji statistic chi-square pada α 0,05. \Hasil. Hasil penelitian dengan chi- square didapatkan p = 0,018 yang berarti ada perbedaan yang signifikan kemampuan mengontrol eliminasi urine antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi setelah dilakukan tindakan bladder training.Kesimpulan. Hasil penelitian ini menyarankan bladder training dilakukan mulai 8 jam post seksio dan efektif untuk mencegah terjadinya inkontinensia urine pada ibu post seksio sesarea, sehingga sangat disarankan kepada pelayanan keperawatan maternitas dapat menerapkan intervensi ini.
The Relationship Between Behavior Of Type II Diabetes Mellitus Patients With Diet Therapy Compliance In Medan Selayang Area Year 2020 Nurliaty Nurliaty; Reny Juliana Sihombing
Jurnal EduHealth Vol. 11 No. 2 (2021): March, Jurnal EduHealth
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.956 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by a lack of the hormone insulin to process carbohydrate metabolism normally, adherence is the level of patient carrying out the method of treatment and behavior recommended by a doctor or by others. Insulin has a major role in regulating glucose levels in the blood, namely entering glucose into cells. This study aims to analyze the relationship between the behavior of type II diabetes mellitus sufferers and adherence to dietary therapy in Medan Selayang District in 2020 which was carried out from May to August 2020, with a correlation description design using the total sampling technique of 58 type II DM sufferers who participated in this study. . Data collection using a questionnaire sheet. Data analysis was performed using univariate analysis and then using Spearman's correlation test to see a significant relationship between the behavior of type II DM patients and adherence to diet therapy. The results of the study showed that there was a significant relationship between the behavior level of type II DM sufferers and adherence to diet therapy (Sig. (2-tailed) = 0.03, r = 0.59) where out of 58 people (75.9%) had type II Diabetes Mellitus In moderate behavior there were 33 people (56.9%) who did not comply with diet therapy and 11 people (19.0%) adhered to diet therapy. So it can be concluded that there is a significant relationship between the behavior of type II DM sufferers and adherence to diet therapy in Medan Selayang District in 2020.