Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KAJIAN KUALITAS TERHADAP BUKU MATERI POKOK PENGETAHUAN BAHAN PANGAN HEWANI - UNIVERSITAS TERBUKA Artama, Trimurti; Suhardianto, Anang; Yuliatmoko, Welli
Jurnal Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh Vol 10 No 2 (2009)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is to reveal accuracy, recency, legibility,language, and physical appearance the main course material on Animal Food Substance(PANG 4221) by expert perception, lecturers, and students. The result of this study is expected to provide some useful recommendation for the revision of the course material of the Open University (UT). The data were obtained by capturing information from students of UT and non UT. The data obtained were analyzed by using descriptive qualitative methods. In addition, evaluation of the course material delevoped was conducted following the PAU-PPI format. The results the course material has high accuracy, legibility, language, materials, format, print, finishing and binding (score 3-4). However, despite high scores every aspect still needs to be revised because of some in consistencies. The recency, cover design, and content design have the lowest scores (2-3). These aspects must absolutely be revised. It can be concluded that the course material should be revised to include all findings from this study.
PEMANFAATAN UMBI TALAS SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI TEPUNG TERIGU DALAM PEMBUATAN COOKIES YANG DISUPLEMENTASI DENGAN KACANG HIJAU Yuliatmoko, Welli; Satyatama, Dian Indrayani
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taro flour can be used as a wheat flour substitution in cookies making, although its quality is still relatively low, especially in terms of taste and nutritional composition. An alternative way to improve its nutritional composition is by the addition of green beans, as a protein source. This study was aimed to obtain the cookies formulation that use Lampung Taro flour enriched with green beans flour as a wheat flour substitution. The cookies were tested organoleptically by panelists using hedonic scale including color, aroma, taste, texture and general appearance. The acceptable cookies were analyzed their chemical characteristics. The results showed that Taro flour cookies with the content of 30%, 50%, and 60% Lampung Taro flour have received the best judgment from panelists. From the nutritional point these cookies were considered meet the nutritional value specified by SNI 1992 but the protein content was still below standard. The addition of 10% green beans flour was not able to improve the nutritional value of protein in the cookies. Taro flour can be used as a wheat flour substitution in cookies making, although its quality is still relatively low, especially in terms of taste and nutritional composition. An alternative way to improve its nutritional composition is by the addition of green beans, as a protein source. This study was aimed to obtain the cookies formulation that use Lampung Taro flour enriched with green beans flour as a wheat flour substitution. The cookies were tested organoleptically by panelists using hedonic scale including color, aroma, taste, texture and general appearance. The acceptable cookies were analyzed their chemical characteristics. The results showed that Taro flour cookies with the content of 30%, 50%, and 60% Lampung Taro flour have received the best judgment from panelists. From the nutritional point these cookies were considered meet the nutritional value specified by SNI 1992 but the protein content was still below standard. The addition of 10% green beans flour was not able to improve the nutritional value of protein in the cookies.
DRY LAB SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN MUTU PRAKTIKUM Yuliatmoko, Welli
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2012: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPraktikum adalah subsistem yang merupakan kegiatan terstruktur dan terjadwal yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu yang berkaitan dengan suatu pengetahuan. Karena kompetensi yang hendak dicapai oleh suatu kegiatan praktikum tergolong dalam ranah psikomotor maka kegiatan praktikum khususnya di laboratorium mutlak harus dilakukan. Namun kenyataannya, beberapa kegiatan praktikum di laboratorium sering kali tidak seluruhnya dapat dipraktekan oleh para peserta didik. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti biaya, waktu, Sumber Daya Manusia, dan sarana dan prasarana. Sementara itu, kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi memungkinkan dikembangkan beberapa program yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk meningkatkan mutu kegiatan praktikum di laboratorium. Salah satunya adalah program Dry Lab. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pemanfaatan Dry Lab sebagai alternatif peningkatan mutu kegiatan praktikum. Dry Lab merupakan praktikum yang dilakukan secara virtual dengan simulasi melalui komputer. Dengan demikian, Dry Lab dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan Dry Lab hendaknya bersinergi dengan kegiatan praktikum Wet Lab sehingga dapat meningkatkan mutu dari kegiatan praktikum itu sendiri. Selain itu, pengembangan Dry Lab sebaiknya ditujukan untuk kegiatan praktikum yang tidak dapat dilaksanakan secara Wet Lab karena alasan tertentu, seperti biaya, waktu, sumber daya manusia, alat, dan sarana dan prasarana. Begitu pula dengan desain materinya harus mencerminkan kegiatan pelaksanaan praktikum sesungguhnya meskipun dirancang secara virtual dengan simulasi melalui komputer.
DRY LAB SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN MUTU PRAKTIKUM Welli Yuliatmoko
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2012: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPraktikum adalah subsistem yang merupakan kegiatan terstruktur dan terjadwal yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu yang berkaitan dengan suatu pengetahuan. Karena kompetensi yang hendak dicapai oleh suatu kegiatan praktikum tergolong dalam ranah psikomotor maka kegiatan praktikum khususnya di laboratorium mutlak harus dilakukan. Namun kenyataannya, beberapa kegiatan praktikum di laboratorium sering kali tidak seluruhnya dapat dipraktekan oleh para peserta didik. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti biaya, waktu, Sumber Daya Manusia, dan sarana dan prasarana. Sementara itu, kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi memungkinkan dikembangkan beberapa program yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk meningkatkan mutu kegiatan praktikum di laboratorium. Salah satunya adalah program Dry Lab. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pemanfaatan Dry Lab sebagai alternatif peningkatan mutu kegiatan praktikum. Dry Lab merupakan praktikum yang dilakukan secara virtual dengan simulasi melalui komputer. Dengan demikian, Dry Lab dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan Dry Lab hendaknya bersinergi dengan kegiatan praktikum Wet Lab sehingga dapat meningkatkan mutu dari kegiatan praktikum itu sendiri. Selain itu, pengembangan Dry Lab sebaiknya ditujukan untuk kegiatan praktikum yang tidak dapat dilaksanakan secara Wet Lab karena alasan tertentu, seperti biaya, waktu, sumber daya manusia, alat, dan sarana dan prasarana. Begitu pula dengan desain materinya harus mencerminkan kegiatan pelaksanaan praktikum sesungguhnya meskipun dirancang secara virtual dengan simulasi melalui komputer.