Antonius Tse
STKIP Widya Yuwana

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

WAJAH BANGSA INDONESIA BARU: POTRET KUALITAS KELUARGA Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 2 No 1 (2009): Oktober 2009
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.674 KB)

Abstract

Sebagai negara berkembang, Indonesia terus memacu dirinya untuk bersanding dengan negara-negara maju di dunia. Gairah itu tampak pada upaya keras pemerintah memajukan warga bangsa Indonesia dalam ragam bidang: sosial, ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, religi, pendidikan, industri, komunikasi, pariwisata, dsb. Menariknya, berbagai perilaku destruktif seperti pencurian, pembunuhan, perampokan, terorisme, separatis, korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, kemiskinan, dll semakin marak terjadi justru di era penuh gairah pembangunan itu. Rupanya, gairah pembangunan bangsa belum menyentuh akar kebangsaan Indonesia sendiri. Tulisan ini mengajak kita untuk menilik dan menata kembali pembangunan bangsa dari akar kebangsaanIndonesia yaitu keluarga.
PEMBELAJARAN AGAMA KATOLIK YANG INSPIRATIF Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 3 No 2 (2010): April 2010
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1295.954 KB)

Abstract

Salah satu kerinduan terdalam manusia adalah kerinduan untuk bersatu dengan Yang Ilahi, Yang Kudus. Kerinduan akan persatuan dengan Yang Kudus ini mendorong manusia untuk melakukan berbagai upaya yang memungkinkannya dapat mencapai kesatuan itu meskipun belum final, belum sempurna. Agama dan pembelajaran agama Katolik merupakan salah satu wujud dari sekian upaya manusia untuk menggapai persatuan dengan Nan Kudus itu. Agama dan pembelajaran agama Katolik merupakan “jalan” menuju pengalaman “disapa”, pengalaman “dirangkul”, pengalaman direngkuh, pengalaman dilingkupi oleh Yang Maha Kudus. Agama dan pembelajaran agama Katolik merupakan sebuah kemungkinan untuk “mengobati” rasa haus manusia akan Allah, akan Allah yang hidup. Agama dan pembelajaran agama Katolik dapat memupuk dambaan terdalam manusia untuk menatap wajah Allahnya (bdk.Mzr 42:2-3). Sayangnya, pembelajaran agama Katolik selama ini masih terkesan formalistik. Hal ini tampak pada pembelajaran agama Katolik yang masih memprioritaskan pencapaian target kurikulum, masih kurangnya persiapan yang sungguh-sungguh dan antusias dari para pembelajar agama Katolik , penerapan strategi pembelajaran agama Katolik yang cenderung stagnan dan masih minimnya pembelajar agama Katolik yang menginspirasi pebelajar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Akibatnya, cepat atau lambat pembelajaran agama Katolik akan kehilangan spirit dan tujuannya yang utama yaitu dorongan kepada pembaharuan batin, keterpautan hati pada Yang Ilahi dan peningkatan kualitas hidup sebagai buah dari keterpautan itu. Tulisan ini bermaksud mengajak para pembelajar agama Katolik untuk menimba strategi pembelajaran agama Katolik yang inspiratif pada Sang Guru, Yesus Kristus.
PENDIDIKAN BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP: PROSES MENUJU KEPEKAAN TERHADAP ALAM SEMESTA Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.061 KB)

Abstract

Alam dan lingkungan hidup merupakan kerabat manusia. Manusia membutuhkan alam dan lingkungan untuk dapat melangsungkan hidupnya. Alam dan lingkungan hidup tanpa manusiapun akan tiada bermakna. Ada simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam dan lingkungan hidup. Eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan alam yang menyebabkan rusaknya ekosistem memperlihatkan betapa manusia modern telah lalai menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya yang luhur untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup. Manusia modern terobsesi untuk menguasai alam daripada menjadikannya kerabat. Global warming telah menghentak berbagai pihak untuk menata kembali kekerabatan ini. Menurut hemat penulis, diperlukan upaya yang lebih mendasar untuk membaharui kekerabatan dalam alam semesta dengan membangun kepekaan, membangkitkan rasa kagum serta kesadaran akan panggilan generasi muda untuk bertanggung jawab atas alam dan lingkungan hidupnya melalui pendidikan berwawasan lingkungan hidup.
KELUARGA DAN PENDIDIKAN IMAN ANAK DI ERA GLOBALISASI Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 5 No 3 (2011): April 2011
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1733.072 KB)

Abstract

Keluarga merupakan akar kehidupan Gereja, masyarakat, dan bangsa manusia. Hidup keluarga merupakan suatu bentuk kehidupan yang memancarkan nuansa surgawi di bumi. Gereja Katolik telah memaknai keluarga Kristiani sebagai Gereja kecil atau Gereja rumah tangga di mana warisan iman Kristen diajarkan, dihayati dan amalkan. Salah satu ancaman terhadap posisi keluarga sebagai tempat pendidikan dan penghayatan iman ialah globalisasi, khususnya teknologi komunikasi global. Kemajuan teknologi komunikasi global membuka peluang selebar-lebarnya bagi setiap orang untuk mengakses berbagai informasi baik untuk kemajuan karier, perkembangan pribadi dan iman, ataupun sebaliknya menghambat dan menghancurkan kepribadian, iman dan harapan seseorang. Menyadari tantangan globalisasi ini, keluarga Katolik hendaknya menjadi tempat utama bagi pendidikan iman, sarana pengudusan danpenyucian hidup anak dan setiap anggota keluarga. Di dalam keluarga ini, orang tua mendidik dan menanamkan nilai-nilai iman kepada anak-anak lewat kata-kata dan teladan hidup sehari-hari.
MENATA MASA DEPAN GEREJA DAN BANGSA MELALUI PENDIDIKAN IMAN REMAJA (KATEKESE REMAJA) Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 6 No 3 (2011): Oktober 2011
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.116 KB) | DOI: 10.34150/jpak.v6i3.147

Abstract

Remaja memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan Gereja dan bangsa di masa depan. Rasa tanggung jawab ini perlu ditanamkan dan dibina sejak anak berusia dini dan dilanjutkan pada usia remaja. Pendidikan iman remaja merupakan salah satu sarana dalam menanamkan dan membina rasa tanggung jawab remaja terhadap iman pribadi, iman Gereja dan cinta bangsa. Supaya penanaman dan pembinaan rasa tanggungjawab terse but efektif, para pendidik iman remaja harus memiliki pengenalan yang memadai terhadap remaja, yaitu kondisi psikis, pergulatan-pergulatan hidup, kebutuhan serta masalah yang mengitari mereka. Sebab secara psikologis usia remaja merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan manusia dengan kebutuhan dan masalah yang khas. Kondisi ini berpengaruh terhadap isi, bentuk, peran pembina, metode dan hasil pembinaan.
STRATEGI MENJADIKAN REMAJA MUSIM SEMI BAGI MASYARAKAT, BANGSA DAN GEREJA Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 7 No 4 (2012): April 2012
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.086 KB) | DOI: 10.34150/jpak.v7i4.159

Abstract

Dalam beberapa kasus, misalnya; pencurian, pembunuhan, perampokan, penyebaran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dsb, remaja tidak hanya menjadi korban melainkan telah berperan sebagai aktor intelektual. Menyikapi kondisi ini dibutuhkan strategi yang bermutu berupa upaya-upaya prefentif yang bersifat praktis di antaranya: menata pola pikir, membangun citra diri yang positif, memupuk kepercayaan diri, memekarkan semangat orang kudus, merancang visi hidup, membangun sinergi, dan dilandasi semangat kasih Kristus. Dengan strategi ini diharapkan remaja sebagai "musim semi" bagi masyarakat, bangsa dan Gereja dapat diselamatkan. Ekaristi kudus merupakan sumber kekuatan supranatural bagi Gereja untuk melakukan apapun yang baik dan berguna bagi remaja.
MEREDAM KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA MELALUI PENDIDIKAN BAHASA AGAMA Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 8 No 4 (2012): Oktober 2012
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4759.964 KB) | DOI: 10.34150/jpak.v8i4.175

Abstract

Peranan agama sebagai oase yaitu tempat pengalaman menyenangkan di tengah suasana yang serba kalut terus diuji. Pasalnya" suhu kekerasan atas nama agama belum juga surut, Agama kerap dijadikan pembenar berbagai tindakan anarkis sehingga di mana-mana agama diasosiasikan dengan kekerasan. Sesungguhnya, kekerasan dengan alasan apapun termasuk kekerasan atas nama agama bahkan atas nama Tuhan sekalipun merupakan jenis kejahatan dan pelanggaran atas hak asasi manusia. Bahasa agama disinyalir sebagai salah satu pemicu terjadinya kekerasan bertopeng agama. Maka, pendidikan bahasa agama perlu digiatkan untuk meredam kekerasan atas nama agama. Melalui pendidikan bahasa agama diharapkan turut mendorong tumbuhnya saling pengertian antar pemeluk agama sehingga misi damai agama tidak dinodai apalagi digantikan oleh kekerasan.
PERANAN KELUARGA KRISTIANI SEBAGAI MEDAN PENDIDIKAN DASAR IMAN DAN MANUSIAWI Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 10 No 5 (2013): Oktober 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1543.15 KB) | DOI: 10.34150/jpak.v10i5.183

Abstract

Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan anak. Setiap anak lahir dalam keluarga. Karena itu, banyak orang masih mengakui keluarga sebagai medan pendidikan yang pertama dan utama anak. Sayangnya, kepercayaan tersebut belum selaras dengan usaha orang tua mendidik anak-anak dalam rumah tangga. Sejumlah faktor penghalang telah merintangi orangtua dalam menunaikan tanggungjawab mereka antara lain ketidak-pahaman orangtua mengenai bentuk tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan utama. Tulisan ini bermaksud menjawab persoalan tersebut dengan menyajikan beberapa gagasan tentang peran keluarga kristiani sebagai medan pendidikan dasar iman dan manusiawi. Penuh harapan, semoga dari keluarga-keluarga kristiani "lahir" warga masyarakat yang takut akan Tuhan, setia pada tugas, berakhlak mulia dan baik pembawaannya.
PARTISIPASI ORANG MUDA KATOLIK DALAM LITURGI DI PAROKI SANTO YUSUP BATURETNO WONOGIRI JAWA TENGAH Maria Goretti Utami; Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 20 No 10 (2018): Oktober 2018
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.801 KB) | DOI: 10.34150/jpak.v20i10.214

Abstract

In the present, there is a phenomenon that the catholic young no longer interested to the activities in the church, especially liturgcal activities. The participation of young peoples in the liturgy of the Catholic Church is very low. For example, in a Sunday Mass, there are very few young peoples participating in the Church. However, most ofthose participating in the Sunday mass are the old people. Based on the reality of youth involvement in the liturgy, the researcher of wanted to explore the extent to which the young people participating in the liturgy of the Catholic Church. In the study, researcher used qualitative approach. Data were collected through interviews. Results of the study revealed that very few young people involved in the liturgical activities. However, only few respondents involved the liturgical activities as altar boys, lectors, chairs and so on. There are some reasons that made the young catholics did not involve, and in the liturgical activities such as laziness and many other activities they involved. There are some action that could be taken to encourage the young people to involve in the liturgycal activities such as to give them more motivation and encouragement to be involved more in the liturgical activites.