Adolf Bastian Simamora
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERSPEKTIF BIBLIKAL TENTANG AGAMA DAN KEKERASAN DALAM PERISTIWA PENYALIBAN YESUS Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v1i2.11

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana perspektif biblikal tentang agama dan kekerasan dalam peristiwa penyaliban Yesus. Analisis dari bagaimana narasi yang berhubungan dengan masalah Yudaisme yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus dalam catatan biblikal Injil. Diceritakan bahwa karena khotbat-khotbah Yesus yang juga mengecam para pemimpin agama Yahudi, ahli –ahli Taurat, Farisi , Saduki, dan Herodian berakibat konflik. Sehingga pemimpin agama merancang suatu strategi untuk menyingkirkan Yesus dengan dalih agama (Yudaime). Konflik berkembang dan klimaksnya terjadi penganiyaan dan penyaliban Yesus. Konflik ini melibatkan kelompok penganut Yudaisme dan sekte-sektenya. Lantas pertanyaan berikutnya adalah apakah faktor-faktor utama pemicu munculnya kekerasan (penganiayaan, penyiksaan) terhadap Yesus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini dibagi ke dalam empat. Pertama, perspektif Yudaisme tentang agama dan kekerasan. Kedua, konflik Yesus dengan pemimpin agama Yahudi. Ketiga, “penganiayaan dan “penyaliban“ Yesus dianggap jalan keluar terhadap konflik antara Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi. Dan keempat, “ucapan bahagia” dari khotbah Yesus di Bukit menjadi solusi teologis menghadapi persoalan agama dan kekerasan.
KRISTALISASI KEPEMIMPINAN BARNABAS DALAM KONTEKS RAKYAT INDONESIA MEMILIH PEMIMPIN PADA PEMILU 2019 Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v2i2.26

Abstract

Pesta demokrasi pada Pemilu April 2019 sudah semakin mendekat. Fokus dan topik dalam pemilu bukan saja bagaimana agar sukses terlaksana, namun yang sangat penting adalah apakah dan bagaimana rakyat mengetahui dan memahami siapa calon pemimpin yang akan mereka pilih. Tulisan ini mendeskripsikan kristalisasi kepemimpinan Barnabas dalam konteks rakyat Indonesia akan memilih pemimpin pada Pemilu April 2019 ini. Pemilu ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh negeri Indonesia. Momen ini sangat penting sebab akan menentukan bagaimana masa depan bangsa Indonesia. Sebab rakyat akan memilih siapa yang menjadi presiden dan wakil presiden untuk lima tahun ke depan. Selain itu, rakyat juga akan memilih para anggota DPR, anggota DPD, anggota DPRD untuk masa periode lima tahun mendatang. Pemilu 2019 ini dilakasanakan secara serempak di seluruh negeri Indonesia. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis akan mendeskripsikan suatu solusi terhadap persoalan tentang bagaimana kriteria pemimpin yang berkualitas. Pada Bab 1, Pendahuluan mendeskripsikan Pemilu, dan masalah kepemimpinan serta harapan masyarakat terhadap pemimpin mereka yaitu presiden dan wakil presiden, anggota DPR, DPD, dan DPRD . Bab 2, Pembahasan tentang kristalisasi kepemimpinan Barnabas bersumber dari kajian eksegesis teks Kisah Para Rasul 4 : 36-37 ;11:19-30. Bab 3, relevansi dalam konteks rakyat Indonesia memilih pemimpin pada pemilu 2019. Apa dan bagaimana rakyat Indonesia memilih atau mencari pemimpin yang baik, amanah, taqwa yang memiliki integritas dan kompetensi yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh rakyat Indonesia. Bab 4, penutup yang mendeskripsikan kesimpulan dan saran, dimana penulis menyimpulkan bahwa kepemimpinan Barnabas patut menjadi model dan pendekatan kepemimpinan dalam konteks rakyat Indonesia memilih pemimpinnya untuk masa lima tahun ke depan pada Pemilu 2019 ini.
POLITIK MENURUT ALKITAB DAN IMPLIKASINYA BAGI PERAN GEREJA DALAM PUSARAN POLITIK DI INDONESIA Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v2i1.16

Abstract

Saat ini warga Indonesia disibukkan dengan kegiatan politik yakni berhubungan dengan Pemilihan Legislatif ditingkat dua, satu dan pusat secara serempak dan juga pemilihan Presiden dan wakil Presiden pada tahun 2019. Berita ini dimuat dalam media sosial, surat kabar maupun televisi tentang gereja-gereja atau perkumpulan pendeta dari aras tertentu yang mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Pilpres tertentu. Bagaimana pandangan gereja terhadap berita ini? Apakah yang menjadi dasar pedoman peran gereja dalam menjalankan hak dan kewajiban berpolitik di negara kita?Tulisan ini mengulas masalah penelitian tEntang pandangan politik Alkitab khususnya pandangan Kitab Injil dan Kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Makalah ini membahas dasar teologis tentang pandangan yang setuju dan tidak setuju bahwa gereja harus terlibat dalam politik di tanah air ini. Tujuan penelitian dari makalah ini adalah menjelaskan pemahaman politik Alkitab dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Prosedur Penelitian dari makalah ini menggunakan metode kajian kepustakaan khususnya pandangan politik Alkitab yang terdapat dalam kitab Injil dan kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia.Kesimpulan makalah ini mengacu kepada pandangan politik Alkitab bahwa Gereja harus menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara menurut pandangan politik kitab Injil dan kitab Roma. Gereja bukan anti pluralistik dan mendukung kebebasan warganya berpolitik. Implikasi peran gereja secara nyata bahwa gereja secara individual dapat menjadi politikus, sedangkan gereja secara institusional tidak berpolitik praktis. Namun gereja tetap aktif menjalankan fungsi sosial kontrol melakukan “suara kenabian” di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia.