Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBUATAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG BIJI PALA (Myristica fragrans Houtt) SEBAGAI PENGAWET ALAMI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) Jumarni Ely
GLOBAL HEALTH SCIENCE Vol 4, No 4 (2019): Desember 2019
Publisher : Communication and Social Dinamics (CSD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.443 KB) | DOI: 10.33846/ghs4405

Abstract

Latar belakang: Asap cair merupakan kondensasi asap pembakaran kayu (Karseno et al. 2002). Asap cair merupakan pirolisis kayu. Lebih dari 300 substansi telah diisolasi dan diidentifikasi dan kebanyakan telah ditentukan secara kuantitatif. Niniek (1999) komponen aktif asap cair (suhu pirolisis 300oC) sebagai penghambat autooksidasi lemak adalah fenol (0,42%), guaikol (0,15%), dan pirokatekol (0,93%). Ikan mengandung protein, kandungan air pada ikan membuat cepat mengalami pembusukan. Cara pengolahan ialah dengan pengasapan. Asap cair yang digunakan untuk pengawetan ikan yaitu tempurung pala (Myristica fragrans houtt). Tujuan: Untuk membuat Asap Cair Tempurung Biji Pala (Myristica fragrans houtt), Uji Organoleptik, dan Total Angka Kuman pada Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) berdasarkan waktu penyimpanan 24 jam 48 jam dan 72 jam. Metode: Ekperimen semu Hasil: Uji organoleptik ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) asap cair tempurung pala (Myristica fragrans houtt) 24 jam dan 42 jam Kenampakan: utuh, warna mengkilap spesifik produk ikan panggang, Bau: spesifik ikan panggang kuat, Rasa: spesifik ikan panggang kuat, Tekstur: padat, kompak, antar jaringan sangat erat, Jamur: tidak ada dan Lendir: tidak ada, sedangkan 72 jam Kenampakan: utuh, warna kurang mengkilap spesifik produk ikan panggang, Bau: spesifik ikan panggang kuat, Rasa: spesifik ikan panggang kuat, Tekstur: padat, kompak, antar jaringan sangat erat Jamur: ada dan Lendir: ada. Uji Total Angka Kuman 24 jam = 12.898, 42 jam = 35.860 dan 72 jam = 789.000. Kata Kunci: Asap cair tempurung biji pala, Uji organoleptik, Total angka kuman
Pemanfaatan Ekstrak Kulit Biji Jambu Mete (Anacarium occidentale) Sebagai Insektisida Nabati Nyamuk Aedes Aegypti Jumarni Ely
GLOBAL HEALTH SCIENCE Vol 5, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Communication and Social Dinamics (CSD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.316 KB) | DOI: 10.33846/ghs5103

Abstract

Cashew Nutshells extract also work as natural larvicides. Purpose: to find out the dose, time and the number of death Aedes aegypti mosquito. This type of research is a type of experimental research using the one pretest posttest design. There is no comparison group (control). Research development is carried out. The first observation (pre-test) sample in this study is 50 Ae. aegypti mosquitoes that can be used to produce breeding larvae. A trial study using a dose of cashew nutshell extract showed that administering a dose of 1 ml, 2 ml, 2.5 ml, 3 ml, 3.5 ml of cashew nutshell extract which was more effective against the risk of virus was dose 3, 5 ml For the time of death of a mosquito after extracting cashew nutshells (Anacardium occidentale) the faster time in the 20th minute with a total of 17 mosquito deaths. Meanwhile, if seen from the number of mosquito deaths from doses of 1 ml, 2 ml, 2.5 ml, 3 ml, 3.5 ml as many as 50 mosquitoes died. The greater the dose, the higher the number of deaths, and the fewer time of death. With the use of cashew nutshell extract can be seen from the dose, time of death, and the number of mosquito deaths. Further research needs to be carried out on controlling mosquito vectors in different research applications, namely identification of variables that have not been studied can be developed into future research topics with better results. Keywords: plant-based insecticide; dosage; time; number of Ae.aegypti deaths ABSTRAK Ekstra kulit biji mete juga berpotensi sebagai larvasida alami. Kulit biji mete yang selama ini hanya menjadi limbah di wilayah Namlea ternyata memiliki kandungan senyawa kimiawi yang dapat berfungsi sebagai larvasida. Tujuan: untuk mengetahui dosis, waktu, dan jumlah kematian nyamuk Aedes aegypti Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan One Group Pretest Posttest rancangan ini tidak ada kelompok pembanding (control) tetapi pengembangannya dilakukan observasi pertama (pre test ) sampel dalam penelitian ini adalah 50 ekor nyamuk Ae.aegypti yang di dapat dari hasil perkembangbiakan larva. Penelitian dengan uji coba efektivitas pemberian dosis ekstrak kulit biji jambu mete menunjukan bahwa pemberian dosis 1 ml, 2 ml, 2,5 ml, 3 ml, 3,5 ml ekstrak kulit biji jambu mete yang lebih efektif terhadap kematian nyamuk adalah dosis 3,5 ml Untuk waktu kematian nyamuk setelah diberi ekstrak kulit biji jambu mete (Anacarium occidentale) waktu yang lebih cepat dimenit ke 20 dengan jumlah kematian nyamuk sebanyak 17 ekor. Sedangkan jika dilihat dari jumlah kematian nyamuk dari dosis 1 ml, 2 ml, 2,5 ml, 3 ml, 3,5 ml sebanyak 50 ekor nyamuk mati. Semakin besar pemberian dosis maka jumlah kematian semakin banyak dan waktu kematian semakin sedikit. Dengan penggunaan ekstrak kulit biji jambu mete dapat di lihat dari pemberian dosis, waktu kematian, dan jumlah kematian nyamuk. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengendalain vector nyamuk dalam aplikasi penelitian yang berbeda yaitu identifikasi variabel yang belum diteliti, dapat dikembangkan menjadi topik penelitian mendatang dengan hasil yang lebih baik. Kata Kunci: insektisida nabati; dosis; waktu; jumlah kematian Ae. aegypti