Realitas sawer dan dangdut memiliki makna cukup dalam jika disimak keinginan yang ingin didapatkan sang penyawer. Runtuhnya kelas terjadi dalam ruang antara personel musik dan penyawer. Sawer layaknya tiket masuk untuk berkuasa atas kedekatan dengan penyanyi. “uang saweran” mampu menghilangkan identitas dan profesi penyawer karena bagi mereka buruh pabrik pun tak segan menyawer dengan catatan dia suka. Sebelum “ritual” sawer berlangsung panggung adalah milik bersama dan dapat dinikmati publik. Saat penyawer naik panggung dan memulai transaksinya seketika itu lah panggung berhasil direbut. Hanya sisa sebagian saja milik penonton lain, karena bagi penyawer merebut panggung terjadi saat interaksi dilakukan dengan penyanyi. Kuasa aktualisasi diri dapat ditumpahkan dan seolah ketidakpedulian akan kondisi sekitar luntur. Merebut panggung dilakukan sebagai konsumsi pemenuhan kebutuhan akan panggung. Moral dalam ideologi dan sistem komunikasi, struktur pertukaran adalah termasuk konsumsi (Baudrillard, 2013). Komunikasi kultural ditambahkan oleh penyanyi dengan penyawer dan penyawer dengan penonton. Eksistensi dipertontonkan penyawer di atas panggung kepada semua penonton bahwa dia dapat merebut kuasa. Komunikasi non verbal ini adalah interpretasi perilaku dan simbol sebagai akibat pembobolan ruang. Akhirnya, orang melihat dangdut wajib hukumnya dengan sawer. Transformasi kelas, perebutan panggung dan pertunjukan komunikasi kultural adalah salah satu faktor penyebab orang suka dengan sawer. Kata kunci : Sawer, Kultur, Penyanyi, Penonton, Kelas Sosial