Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Berat Potong dengan Berat, Luas dan Tebal Pelt Kelinci (The Relation of Slaughter Weight with the Weight, the Wide and the Thickness of Rabbit's Pelt) Husmy Yurmiaty
Jurnal Ilmu Ternak Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v6i1.2266

Abstract

Ternak kelinci banyak dipelihara di pedesaan, karena mampu hidup dengan baik pada berbagai macam kondisi lingkungan dan mudah beradaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bobot potong dengan berat, luas dan tebal pelt kelinci, sehingga dapat memprediksi produksi peltberdasarkan bobot potongnya. Penelitian menggunakan 25 ekor kelinci peranakan New Zealand White jantan dengan berat potong pada kisaran 1700 – 1990 gram. Data dari peubah yang diukur dianalisis secara statistik menggunakan regresi linier untuk mengetahui hubungan antara bobot potong dengan berat, luas dan tebal pelt. Hasil uji linieritas regresi menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) antara berat potong kelinci dengan berat, luas dan tebal  pelt.  Hubungan antara bobot potong dengan berat pelt nyata (P<0,05) mengikuti persamaan regresi  y =  0,185 x – 191,77 (R2 = 0,78 dan r= 0,88), dan hubungan terhadap luas pelt nyata (P<0,05) mengikuti persamaan regresi  y = 1,4904 x -  1,043,6 (R2 = 0,75 dan r = 0,86), sedangkan hubungan antara berat potong dengan tebal pelt tidak nyata (P>0,05) dengan persamaan regresi  y = 0,0005 x - 0,2324 (R2 = 0,14 dan r = 0,37).Kata kunci :  Kelinci, Pelt
Hubungan Berat Potong Kambing Kacang Jantan dengan Kuantitas Kulit Mentah Segar (The Relationship of Slaughter Weight of Male Kambing Kacang with the Quantity of Leather) Husmy Yurmiaty
Jurnal Ilmu Ternak Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v6i2.2279

Abstract

Kambing Kacang banyak dipelihara di pedesaan, karena mampu hidup dengan baik pada berbagai macam kondisi lingkungan dan mudah beradaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bobot kulit segar kambing Kacang dan bagaimana hubungannya antara bobot potong dan kuanitas kulit mentah segar (leather), sehingga dapat memprediksi produksi kulit mentah berdasarkan bobot potongnya. Penelitian menggunakan 25 ekor kambing Kacang jantan dengan berat potong pada kisaran 10,50 – 14,75 Kg. Data dari peubah yang diukur dianalisis secara statistik menggunakan regresi linier untuk mengetahui hubungan antara bobot potong dengan berat, luas dan tebal kulit. Hasil uji linieritas regresi menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) antara berat potong kambing Kacang  jantan dengan berat, luas dan tebal kulit mentah segar.  Hubungan antara bobot potong dengan berat kulit mentah segar  mengikuti persamaan regresi  y =  0,066 x + 0,2291 (R2 = 0,83 dan r= 0,91), dan hubungan terhadap luas kulit mentah segar mengikuti persamaan regresi  y = 0,0081 x + 0,2145 (R2 = 0,29 dan r = 0,53), sedangkan hubungan antara berat potong dengan tebal kulit mentah segar mengikuti persamaan regresi  y = 0,0225 x + 0,6512 (R2 = 0,18 dan r = 0,43).Kata kunci :  Kambing, Potong, Kulit
Penggunaan Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala) dalam Ransum terhadap Produksi Pelt dan Kerontokan Bulu Kelinci Husmy Yurmiaty
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2237

Abstract

Lamtoro merupakan tananaman leguminosa yang mengandung gizi lebih baik dibandingkan dengan rumput lapangan, namun penggunaannya perlu dibatasi karena mengandung senyawa mimosin yang dapat memberikan efek negatif pada kulit, khususnya pelt kelinci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada tingkat berapa persen penggunaan lamtoro dalam ransum memberikan pengaruh terhadap produksi pelt dan kerontokkan bulu kelinci peranakan New Zealand White.  Penelitian menggunakan 21 ekor kelinci jantan  peranakan New Zealand White umur 8 minggu dengan berat pada kisaran 700 – 1100 gram dengan koefisien variasi 8,34%. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini dengan perlakuan tiga macam ransum yang mengandung tepung daun lamtoro (0%, 10% dan 20%), setiap perlakuan diulang 6 kali. Peubah yang diukur meliputi berat kulit, luas pelt dan uji kerontokan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa  produksi pelt kelinci peranakan New Zealand White (berat, tebal dan luas) nyata terbaik (P<0,05)  pada penggunaan  10 % daun lamtoro dalam ransum. Penggunaan 20 % daun lamtoro dalam ransum nyata (P<0,05) menyebabkan kerontokkan bulu kelinci peranakan New Zealand WhiteKata kunci:  daun lamtoro,  rontok bulu