Fransiska Yustiana
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF MATERIAL PADA PEMBANGUNAN BENDUNG (Studi Kasus Pembangunan Bendung Aporo-Sulawesi Tenggara) Ratnayanti, Rini; Nugraha, Mulya; Yustiana, Fransiska
Jurnal Teknik Sipil ITENAS Vol 5, No 1 (2007): APRIL 2007
Publisher : Jurnal Teknik Sipil ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4042.579 KB)

Abstract

The high of project cost to built a strong costruction can be minimized  by planning optimization. Optimum planning include to plan an optimum structure planning, to choose an appropriate construction technique, construction material selection, etc. the goal of optimum planning is try to gain the lowest project to select economic material construction. It can be done by selecting construction material alternative. The material alternative applied is based on result of material survey which available. Therefore, selected material alternative is concrete and stone-concrete combination. Being have a list of material price, transport fee is added on the price from survey, the next step is analyzing material cost project site. That cost will be mentioned as the material cost in each alternatives of construction item. Material price, labor salary and equipment cos t have strong influence to count the value of a project. In this case, labor salary determined by regional government in that location. Mean while, equipment cost is gotten by analysed by  of operational equipment cos per hour. After all data achieved , then analyze unit cost of project according to value per unit of working volume. The result of this analysing  shows that project value of concrete dam construction is Rp. 6.036.260.480 and stone-concrete combination dam is Rp. 5.716.901.100. According to both alternatives, the more economical is the choice, that is the working of stone-concrete combination assembly.
Kajian Kapasitas Dimensi Saluran Drainase pada Jalan Adipati Agung Kelurahan Baleendah, Bandung (Hal. 63-74) Tofan, Mochamad; Yustiana, Fransiska
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.441 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.63

Abstract

ABSTRAKBanjir pada umumnya disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu  peningkatan sedimentasi curah hujan, limbah dan vegetasi serta sampah di saluran tersebut. Saluran di Jalan Adipati Agung yang diukur diperiksa dengan membandingkan debit aliran permukaan dan debit aliran curah hujan menggunakan metode Rasional. Intensitas curah hujan ditentukan oleh rumus Ishiguro dan diubah menjadi kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF). Intensitas curah hujan maksimum ditentukan oleh analisis frekuensi dengan distribusi Gumbel dan kala ulang yang digunakan untuk saluran tersebut adalah sepuluh tahun. Dimensi eksisting saluran Adipati Agung tidak sesuai dengan debit aliran permukaan. Perhitung dimensi yang tepat dengan mengubah lebar dan kedalaman saluran persegi serta mengubah material saluran agar mendapat nilai manning yang lebih kecil. Dimensi yang tepat untuk debit aliran permukaan 28,9 m3/detik memiliki lebar 2 m, kedalaman 2,7 m dan material beton dengan nilai manning 0,013 sehingga debit tampungan saluran menjadi 29,15 m3/detik dan saluran rencana dapat diterima.Kata kunci: intensitas, debit, mononobe, rasional, dimensi ABSTRACTFlood is generally caused by several possibilities, increased rainfall sedimentation, due to waste and vegetation and rubibsh on the channel. Existing channel on Adipati Agung street is measured than examined by compared the surface flow discharge with rainfall discharge. Surface flow discharge is determinated by Rational method. Rainfall intensity is determined by Ishiguro formula that suit with Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) curve of intensity data. Maximum rainfall intensity is determined by frequency analysis with Gumbel distribution. It is use the return period of maximum rainfall capacity is ten years. Existing dimension of Adipati Agung channel is not meet with surface flow discharge. So it is has to Calculate the proper dimension by change the width and the depth of rectangular channel and also change the channel material in order to get less value of manning. The proper dimension for surface flow discharge 28,9 m3/sec has 2 m width, 2,7 m depth. Discharge channel Capasity is 29,15 m3/s.Keywords: intensity, discharge, mononobe, rasional, dimension
Perhitungan Evapotranspirasi Acuan untuk Irigasi di Indonesia. (Hal. 39-49) Yustiana, Fransiska; Sitohang, Gabriel Antonio
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.196 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.39

Abstract

ABSTRAKSistem irigasi merupakan suatu cara mengalirkan air ke suatu lahan dimana air dialirkan sesuai kebutuhan. Debit yang dihasilkan dari sistem irigasi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah evapotranspirasi. Nilai evapotranspirasi di Indonesia dihitung menurut Standar Perencanaan Irigasi KP-01 dengan menggunakan rumus Penman FAO Corrected sedangkan menurut SNI 7745:2012 menggunakan rumus Penman-Monteith. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode penghitungan evapotranspirasi acuan yang tepat dengan membandingkan metode KP-01 dan SNI dengan tanaman hidroponik berupa selada air dan seledri dengan menggunakan data klimatologi periode Januari-Agustus tahun 2018. Penelitian ini menunjukkan nilai sebesar 5,60 mm/hari memiliki nilai yang lebih besar dari pada nilai sebesar 4,60 mm/hari dan nilai sebesar 4,94 mm/hari, maka dalam penelitian ini metode SNI 7745:2012 lebih disarankan untuk digunakan dalam menghitung nilai evapotranspirasi acuan karena memiliki nilai yang lebih besar dan membutuhkan data yang lebih sedikit dari metode yang lain.Kata Kunci: Sistem irigasi, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith ABSTRACTThe irrigation system is a distribution of water into a crop yield. Irrigation discharge is determined by several factors, either is reference evapotranspiration. The value of reference evapotranspiration in Indonesia is calculated according to Standar Perencanaan Irigasi KP-01 using the FAO Penman Corrected formula either according to SNI 7745:2012 using the Penman-Monteith formula. This research aims to know acurate methode that calculating the acurate reference of evapotranspiration by comparing the methods of KP-01 and SNI with observed reference evaporation on hydroponic plants. Climatology data period are between the January-August 2018. This research demonstrates the value of is 5.60 mm/day greater than the value of which is 4.60 mm/day and value is 4.94 mm/day. This research recommended that SNI 7745:2012 more acurate in calculating the value of reference evapotranspiration because it has a greater value and require less data than other methods.Keywords: Irrigation systems, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith
Kajian Kapasitas Dimensi Saluran Drainase pada Jalan Adipati Agung Kelurahan Baleendah, Bandung Mochamad Tofan; Fransiska Yustiana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.63

Abstract

ABSTRAKBanjir pada umumnya disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu  peningkatan sedimentasi curah hujan, limbah dan vegetasi serta sampah di saluran tersebut. Saluran di Jalan Adipati Agung yang diukur diperiksa dengan membandingkan debit aliran permukaan dan debit aliran curah hujan menggunakan metode Rasional. Intensitas curah hujan ditentukan oleh rumus Ishiguro dan diubah menjadi kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF). Intensitas curah hujan maksimum ditentukan oleh analisis frekuensi dengan distribusi Gumbel dan kala ulang yang digunakan untuk saluran tersebut adalah sepuluh tahun. Dimensi eksisting saluran Adipati Agung tidak sesuai dengan debit aliran permukaan. Perhitung dimensi yang tepat dengan mengubah lebar dan kedalaman saluran persegi serta mengubah material saluran agar mendapat nilai manning yang lebih kecil. Dimensi yang tepat untuk debit aliran permukaan 28,9 m3/detik memiliki lebar 2 m, kedalaman 2,7 m dan material beton dengan nilai manning 0,013 sehingga debit tampungan saluran menjadi 29,15 m3/detik dan saluran rencana dapat diterima.Kata kunci: intensitas, debit, mononobe, rasional, dimensi ABSTRACTFlood is generally caused by several possibilities, increased rainfall sedimentation, due to waste and vegetation and rubibsh on the channel. Existing channel on Adipati Agung street is measured than examined by compared the surface flow discharge with rainfall discharge. Surface flow discharge is determinated by Rational method. Rainfall intensity is determined by Ishiguro formula that suit with Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) curve of intensity data. Maximum rainfall intensity is determined by frequency analysis with Gumbel distribution. It is use the return period of maximum rainfall capacity is ten years. Existing dimension of Adipati Agung channel is not meet with surface flow discharge. So it is has to Calculate the proper dimension by change the width and the depth of rectangular channel and also change the channel material in order to get less value of manning. The proper dimension for surface flow discharge 28,9 m3/sec has 2 m width, 2,7 m depth. Discharge channel Capasity is 29,15 m3/s.Keywords: intensity, discharge, mononobe, rasional, dimension
Perhitungan Evapotranspirasi Acuan untuk Irigasi di Indonesia Fransiska Yustiana; Gabriel Antonio Sitohang
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.39

Abstract

ABSTRAKSistem irigasi merupakan suatu cara mengalirkan air ke suatu lahan dimana air dialirkan sesuai kebutuhan. Debit yang dihasilkan dari sistem irigasi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah evapotranspirasi. Nilai evapotranspirasi di Indonesia dihitung menurut Standar Perencanaan Irigasi KP-01 dengan menggunakan rumus Penman FAO Corrected sedangkan menurut SNI 7745:2012 menggunakan rumus Penman-Monteith. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode penghitungan evapotranspirasi acuan yang tepat dengan membandingkan metode KP-01 dan SNI dengan tanaman hidroponik berupa selada air dan seledri dengan menggunakan data klimatologi periode Januari-Agustus tahun 2018. Penelitian ini menunjukkan nilai sebesar 5,60 mm/hari memiliki nilai yang lebih besar dari pada nilai sebesar 4,60 mm/hari dan nilai sebesar 4,94 mm/hari, maka dalam penelitian ini metode SNI 7745:2012 lebih disarankan untuk digunakan dalam menghitung nilai evapotranspirasi acuan karena memiliki nilai yang lebih besar dan membutuhkan data yang lebih sedikit dari metode yang lain.Kata Kunci: Sistem irigasi, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith ABSTRACTThe irrigation system is a distribution of water into a crop yield. Irrigation discharge is determined by several factors, either is reference evapotranspiration. The value of reference evapotranspiration in Indonesia is calculated according to Standar Perencanaan Irigasi KP-01 using the FAO Penman Corrected formula either according to SNI 7745:2012 using the Penman-Monteith formula. This research aims to know acurate methode that calculating the acurate reference of evapotranspiration by comparing the methods of KP-01 and SNI with observed reference evaporation on hydroponic plants. Climatology data period are between the January-August 2018. This research demonstrates the value of is 5.60 mm/day greater than the value of which is 4.60 mm/day and value is 4.94 mm/day. This research recommended that SNI 7745:2012 more acurate in calculating the value of reference evapotranspiration because it has a greater value and require less data than other methods.Keywords: Irrigation systems, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith
Perbandingan Metode Perhitungan Faktor Jam Puncak PDAM Tirta Rangga di Kecamatan Pabuaran – Kabupaten Subang Fransiska Yustiana; Wahdan Nurfa Afani Maulana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 7, No 3: November 2021
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v7i3.189

Abstract

ABSTRAKPola penggunaan air suatu daerah pemukiman berfluktuasi dan sangat bergantung pada ketersediaan air. Gaya hidup dan kondisi cuaca penyebab penggunaan air berfluktuasi. Penelitan ini bertujuan menentukan penggunaan air maksimum yaitu dengan menghitung faktor jam puncak maksimum, yang menjadi kriteria perencanaan jaringan distribusi air bersih. Perbandingan faktor jam puncak berdasarkan hasil Dari perhitungan beberapa metode, yaitu metode Red, Tricaricol, Briere, Martinez-solano, Diao dibandingkan dengan nilai faktor jam puncak yang dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, yaitu faktor jam puncak sebesar 1,5 sedangkan faktor harian maksimum adalah 1,1. Nilai faktor jam puncak dipengaruhi oleh pola penggunaan air yang bervariasi menurut lokasinya, ketersediaan air bersih, perkiraan permintaan puncak dalam sistemnya. Faktor puncak dengan metode red merupakan metoda yang lebih akurat karena memiliki nilai faktor jam puncak 1,05 mendekati nilai faktor jam puncak yang ditetapkan Direktorat Jenderal Cipta Karya sebesar 1,5. Metoda Red dianggap dapat mengakomodir perencanaan instalasi penyediaan air di Indonesia, khususnya untuk daerah dengan ketersediaan air terbatas.Kata kunci: faktor jam puncak, penggunaan air ABSTRACTWater consumption always fluctuative in area will from time to time. Human activities change over time that make fluctuative water consumption. This study determine the maximum or peak water consumption rate by calculate the maximum peak faktor. Maximum peak faktor used to design a domestic water plant and domestic water distribution network.  Maximum peak faktor value that determined by  several methods such as the Red method, Tricaricol, Briere, Martinez-solano, Diao are compared to  maximum peak faktor that establised by Direktorat Jenderal Cipta Karya (1.1 for maximum daily faktors and 1.5 for maximum peak faktors). Maximum peak faktor is effected by water consumption rate, life style, and fresh water supply. The Red method give more accurate result in determining maximum peak faktor. In this study, maximum peak faktor that determined by Red method is 1.05 approxt to maximum peak faktor of Direktorat Jenderal Cipta Karya 1.5. Maximum peak faktor that determined by Red method more appropriate to design domestic water supply and distribution instalation in any region in Indonesia that has less fresh water supply.Keywords: maximum peak faktor, water consumption
EVALUASI KAPASITAS DIMENSI KOLAM STABILISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BOJONGSOANG BANDUNG Yustiana, Fransiska; Bhuwana, Almer Patuinanugrahan Shira
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.31987

Abstract

Bojongsoang wastewater treatment plant (WWTP) has been operating since 1992 which treats domestic wastewater from 17 sub-district of Bandung City.  Bandung has potential challenges, in population growth. Population growth will increase fresh water consumption that result In increasing the quantity of domestic wastewater. The purpose of this study was to evaluate the capacity of the Bojongsoang WWTP stabilization pond, whether the existing pond capacity is sufficient for the projected population of 10 years to come by following the design of predetermined waste treatment parameters. The results of the study stated that the Bojongsoang WWTP must add volume of anaerobic pond as 23,132.8 m2 and volume of facultative pond 73,410 m2 so that the Bojongsoang WWTP continues to operate according to the parameter design of detailed technical SPLAD-T guidelines in 2018. Abstrak Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Bojongsoang beroperasi sejak tahun 1992, yang mengolah limbah domestik dari 17 kecamatan di Kota Bandung. Kota Bandung memiliki potensi sekaligus tantangan, yaitu berupa pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk selalu berpotensi pada peningkatan kebutuhan air bersih dan juga peningkatan kuantitas air limbah domestik. Tujuan penelitian Ini adalah melakukan evaluasi pada kapasitas kolam stabilisasi IPAL bojongsoang, apakah kapasitas kolam yang ada masih mencukupi untuk  proyeksi penduduk 10 tahun yang akan datang dengan mengikuti desain parameter pengolahan limbah yang sudah ditetapkan. Hasil penelitian menyatakan bahwa IPAL bojongsoang harus menambah kolam anaerob dengan volume 23.132,8 m2 dan kolam fakultatif dengan volume 73.410 m2 sehingga IPAL Bojongsoang tetap beroperasi sesuai desain parameter yang sesuai pedoman SPLAD-T teknik terinci tahun 2018.
ANALISA DERET WAKTU CURAH HUJAN DAN KARAKTERISTIK IKLIM DI KOTA MAJALENGKA Yustiana, Fransiska; Ibrahim, Najib
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 12, No 2 (2023): Volume 12 Nomor 2 November 2023
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jts.v12i2.32097

Abstract

Pemanasan global bukan lagi issue karena sudah menunjukkan dampak yang nyata. Peningkatan suhu pasti mengubah karakteristik hujan dan menimbulkan cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan perubahan iklim dan bencana. Kota Majalengka harus melakukan analisa kerentanan terhadap bencana akibat perubahan iklim sehingga bisa melakukan antisipasi. Antisipasi bencana terutama kekeringan, yang sudah pernah terjadi beberapa kali. Antisipasi bisa dilakukan dengan melakukan proyeksi curah hujan dan mengetahui perubahan karakteristik iklim. Penelitian ini melakukan analisa deret waktu dan proyeksi jangka pendek menggunakan metoda Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA), berdasarkan data hujan harian maksimum selama 10 tahun (2011 2021) di Kota Majalengka. Analisa karakteristik iklim meliputi indeks musiman, tipe atau pola iklim dan frekuensi kejadian hujan. Kota Majalengka dalam kurun waktu 2011 2021 memiliki indeks musiman yang bervariasi antara 0,50 0,98 dan dengan indeks musiman rata-rata 0,79 yang mengklasifikasikan iklim di Kota Majalengka memiliki karakteristik musim yang selalu mulai dan berakhir pada bulan bulan yang tetap tetapi cenderung memiliki musim kemarau yang lebih panjang. Kota Majalengka rentan terhadap bencana kekeringan. Model Arima terbaik untuk data hujan di Kota Majalengka dengan kurun waktu 2011 2020 adalah model ARIMA (3, 0. 1).