Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KUALITAS PELAYANAN PENYULUH PERTANIAN DAN KEPUASAN PETANI DALAM PENANGANAN DAN PENGOLAHAN HASIL UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) Abubakar Abubakar; Amelia Nani Siregar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.795 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v5i1.265

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Mei 2009, bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan penyuluh pertanian dan kepuasan petani dalam penanganan dan pengolahan hasil ubi jalar di Kecamatan Cibungbulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan penyuluh pertanian lebih rendah daripada tingkat kepentingan petani (petani tidak puas dengan kualitas pelayanan penyuluh pertanian). Pada dimensi tangible, kualitas pelayanan penyuluh pertanian dalam penanganan dan pengolahan hasil ubi jalar masih rendah dan respon petani juga kurang sehingga diabaikan saja. Pada dimensi reliability (kendala) memperlihatkan tingkat kualitas pelayanan penyuluh pertanian sangat tinggi sedangkan respon petani sangat kurang, sehingga dimensi ini dianggap mubazir atau sia-sia. Sedangkan pada kegiatan pengolahan hasil ubi jalar kualitas pelayanan penyuluh pertanian masih rendah sedangkan respon petani juga rendah. Untuk itu dimensi tersebut diabaikan saja. Pada dimensi responsiveness dalam penanganan dan pengolahan hasil ubi jalar menunjukkan bahwa tingkat kepentingan petani sangat tinggi akan tetapi kualitas pelayanan penyuluh pertanian masih rendah, petani belum puas sehingga perlu adanya perbaikan kualitas pelayanan penyuluhan pertanian. Penanganan hasil ubi jalar pada dimensi inssurance menunjukkan bahwa terdapat kepuasan petani terhadap kualitas pelayanan penyuluh pertanian, dan pelayanan penyuluh pertanian sudah dianggap berkualitas, oleh sebab itu dimensi ini perlu dipertahankan. Pada pengolahan hasil ubi jalar menunjukkan tingkat kualitas pelayanan penyuluh pertanian sudah baik akan tetapi respon petani masih kurang. Dengan demikian kegiatan ini dianggap mubazir. Pada dimensi empaty, kualitas pelayanan penyuluh petanian sudah dianggap berkualitas oleh petani dan pelayanan penyuluh pertanian sudah mencapai kepuasan petani didalam penanganan dan pengolahan hasil ubi jalar, untuk itu dimensi ini perlu dipertahankan.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DAN BUDAYA KERJA DENGAN KINERJA PENYULUH PERTANIAN DI KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT Amelia Nani Siregar; Tri Ratna Saridewi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.986 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v5i1.270

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi dan budaya kerja dengan kinerja penyuluh pertanian di kabupaten Subang, baik secara parsial maupun secara bersama-sama. Disamping itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kontribusi motivasi dan budaya kerja terhadap kinerja penyuluh pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat (r = 0,75) antara motivasi dengan kinerja penyuluh pertanian. Budaya kerja mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan kinerja penyuluh pertanian (r = 0,79). Motivasi dan budaya kerja mempunyai hubungan yang sangat kuat (r = 0,81) dengan kinerja penyuluh pertanian. Secara parsial, motivasi memberikan kontribusi sebesar 56% terhadap kinerja, sedangkan budaya kerja berpengaruh 62% terhadap kinerja penyuluh pertanian. Secara bersama-sama, motivasi dan budaya kerja mempunyai efek sinergi sehingga berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian sebesar 66%. Sebagian besar (57,14%) penyuluh pertanian di kabupaten Subang melaksanakan tugas (bekerja) karena kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement), 20,41% penyuluh pertanian bekerja karena kebutuhan untuk berafiliasi dan hanya 4,08% penyuluh pertanian yang bekerja karena kebutuhan akan jabatan (kekuasaan), sedangkan penyuluh pertanian lainnya bekerja karena ketiganya, yaitu kebutuhan akan afiliasi, kekuasaan dan prestasi