Beny Rilianto
RS Pekanbaru Medical Center, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi dan Manajemen Status Epileptikus Beny Rilianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.958

Abstract

Status epileptikus (SE) membutuhkan penanganan awal yang cepat. Kehilangan autoregulasi serebral dan kerusakan neuron dimulai setelah 30 menit aktivitas kejang yang terus-menerus. Penilaian awal berfokus pada kemungkinan adanya gangguan metabolik ataupun kondisi yang membutuhkan tatalaksana segera. Penatalaksanaan tahap awal menyarankan penggunaan benzodiazepin dan fenitoin untuk menghentikan kejang, anestesi dipertimbangkan pada SE refrakter. Prognosis SE sangat bergantung pada etiologi yang mendasarinya.Status epilepticus (SE) requires immediate initial treatment. Loss of cerebral autoregulation and neuronal damage begin after 30 minutes of continuous seizure activity. Initial assessments focus on a possibility of underlying metabolic disorders or condition that requires immediate management. Early management use benzodiazepines and phenytoin to terminate seizures, the use of anesthesia is considered in refractory SE. Prognosis of SE is dependent on the underlying etiology. 
Terapi Trombolitik Intravena untuk Stroke Iskemik Akut - Hambatannya di Negara Berkembang Beny Rilianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i12.904

Abstract

Terapi trombolitik dengan tPA merupakan terapi yang direkomendasikan oleh Heart American Heart Association/American Stroke Association (AHA/ASA) dan European Stroke Organization (ESO) untuk pasien dengan stroke iskemik akut yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Namun demikian, negara berkembang masih mempunyai mortalitas dan angka kecacatan stroke yang tinggi; jumlah pasien yang mendapat tPA di negara berkembang masih sangat rendah. Hambatan dapat terjadi pada fase pre-hospital, in-hospital, serta kurangnya infrastruktur, dan hambatan finansial. Negara berkembang hendaknya berfokus pada strategi prevensi stroke, namun seharusnya juga mengupayakan infrastruktur untuk pelayanan stroke.Thrombolytic therapy with tPA is a therapy recommended by the Heart American Heart Association/American Stroke Association (AHA/ASA) and the European Stroke Oraganization (ESO) for acute ischemic stroke patients with eligible criteria. However, developing countries still have a high stroke mortality and high disability rate; patients who received tPA treatment in developing countries are still very low. Barriers can occur in pre-hospital, in-hospital setting, lack of infrastructure to facilitate thrombolytic therapy, and financial constraint. Developing countries should focus on stroke prevention strategies; however, developing countries should also provides infrastructures for stroke care.