Michael Sie Shun Ling
Fakultas Kedokteran, Unika Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Peran Probiotik sebagai Pencegahan Dermatitis Atopi Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan; Brigitta -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1267

Abstract

Dermatitis atopi (DA) merupakan radang kulit yang bersifat kronik dan residif. DA umumnya muncul pertama kali pada tahun pertama kehidupan. Penyebab DA multifaktorial disertai riwayat atopi lain pada penderita maupun keluarga. Terapi DA simptomatik, sehingga sering gagal dan berdampak pada kualitas hidup pasien maupun keluarganya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa probiotik terutama strain bakteri campuran, sangat bermanfaat sebagai pengobatan dan pencegahan DA.Atopic dermatitis (AD) is a chronic and recidive inflammatory skin disease. AD commonly appear in the first year of life. Cause of AD is multifactorial with past or familial history of other atopy. AD therapy is symptomatic, resulting in frequent failure and impact on the quality of life of patients and their families. Recent research shows that probiotics, especially mixed bacterial strains is very useful as a treatment and prevention of AD.
Tinjauan atas Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1362

Abstract

Salah satu reaksi hipersensitivitas terhadap obat dikenal sebagai sindrom Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS). DRESS merupakan reaksi sistemik yang jarang, meliputi reaksi multisistem berat terhadap obat, dengan gejala demam, ruam kulit, limfadenopati, keterlibatan organ internal dan leukositosis dengan eosinofilia. Diagnosis awal dan tatalaksana yang adekuat dapat membantu mencegah perburukan.DRESS is a rare severe multisystem reaction to drugs, with symptoms of fever, skin rash, lymphadenopathy, involving internal organs and leukocytosis with eosinophilia. Early diagnosis and adequate treatment can help prevent the progression of DRESS.
Diagnosis dan Terapi Skabies Marsha Kurniawan; Michael Sie Shun Ling; Franklind -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.351

Abstract

Skabies atau biasa dikenal sebagai kudis merupakan penyakit kulit yang disebabkan parasit Sarcoptes scabiei varietas hominis. Penyakit ini sering diabaikan, sehingga menjadi salah satu masalah di dunia, termasuk Indonesia. Gejala klinisnya rasa gatal akibat respon alergi tubuh terhadap tungau terutama di kulit dengan stratum korneum tipis. Diagnosis berdasarkan dua dari empat tanda kardinal skabies. Diagnosis banding skabies terdiri dari gigitan serangga, infeksi (bakteri, virus, atau jamur), dermatitis, dan reaksi imun. Kerusakan epidermis akibat infeksi skabies mempermudah komplikasi infeksi sekunder bakteri. Tatalaksana terapi simptomatik untuk rasa gatal, dapat berupa agen topikal atau oral, serta beberapa modalitas terapi terbaru yang masih dikembangkan seperti tea tree oil dan vaksinasi. Scabies is a skin disease caused by a parasite Sarcoptes scabiei hominis. It is easily ignored and has become problem in the world, including in Indonesia. Clinical symptoms are itch due to the allergic response to mites especially on a thin stratum corneum. Diagnosis is made with presence of two out of four cardinal signs of scabies. Differential diagnosis of scabies includes insect bites, infection (bacteria, virus, or fungi), dermatitis, and immune reactions. Damage on epidermis could lead to complication such as bacterial secondary infection. Management consists of symptomatic treatment for itch, oral and topical medications. Latest treatment modalities such as tree oil and vaccination are still being developed.
Peran Probiotik sebagai Pencegahan Dermatitis Atopi Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan; Brigitta -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.34

Abstract

Dermatitis atopi (DA) merupakan radang kulit yang bersifat kronik dan residif. DA umumnya muncul pertama kali pada tahun pertama kehidupan. Penyebab DA multifaktorial disertai riwayat atopi lain pada penderita ataupun keluarga. Terapi DA simptomatik, sehingga sering gagal dan berdampak pada kualitas hidup baik pada pasien maupun keluarganya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa probiotik terutama strain bakteri campuran, sangat bermanfaat sebagai pengobatan dan pencegahan DA. Atopic dermatitis (AD) is a chronic and recidive inflammatory skin disease. AD commonly appear in the first year of life. Cause of AD is multifactorial with past or familial history of other atopy. AD therapy is symptomatic, resulting in frequent failure and impact on the quality of life of patients and their families. Recent research shows that probiotics, especially mixed bacterial strains is very useful as a treatment and prevention of AD.
Tinjauan atas Drug Reaction with Eosinophilia Systemic Symptoms (DRESS) Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i4.59

Abstract

Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) merupakan reaksi sistemik yang jarang, meliputi reaksi multisistem berat terhadap obat, dengan gejala demam, ruam kulit, limfadenopati, keterlibatan organ internal, dan leukositosis dengan eosinofilia. Diagnosis awal dan tatalaksana yang adekuat dapat membantu mencegah perburukan. Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) is a rare severe multisystem reaction to drugs, with symptoms of fever, skin rash, lymphadenopathy, involving internal organs, and leukocytosis with eosinophilia. Early diagnosis and adequate treatment can help prevent the progression of DRESS.
Diagnosis dan Terapi Skabies Marsha Kurniawan; Michael Sie Shun Ling; Franklind
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 2 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.277

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan parasit Sarcoptes scabiei varietas hominis. Penyakit ini sering diabaikan, sehingga menjadi salah satu masalah di dunia, termasuk Indonesia. Gejala klinisnya adalah rasa gatal akibat respons alergi tubuh terhadap tungau terutama di kulit dengan stratum korneum tipis. Diagnosis berdasarkan dua dari empat tanda kardinal skabies. Diagnosis banding skabies terdiri dari gigitan serangga, infeksi (bakteri, virus, atau jamur), dermatitis, dan reaksi imun. Kerusakan epidermis akibat infeksi skabies mempermudah komplikasi infeksi sekunder bakteri. Tatalaksana terapi simptomatik untuk rasa gatal, dapat berupa agen topikal atau oral, serta beberapa modalitas terapi terbaru yang masih dikembangkan seperti tea tree oil dan vaksinasi. Scabies is a skin disease caused by a parasite Sarcoptes scabiei hominis. It is easily ignored and has become problem in the world, including in Indonesia. Clinical symptoms are itch due to the allergic response to mites especially on a thin stratum corneum. Diagnosis is made with presence of two out of four cardinal signs of scabies. Differential diagnosis of scabies includes insect bites, infection (bacteria, virus, or fungi), dermatitis, and immune reactions. Damage on epidermis could lead to complication such as bacterial secondary infection. Management consists of symptomatic treatment for itch, oral and topical medications. Latest treatment modalities such as tree oil and vaccination are still being developed.
Peran Probiotik sebagai Pencegahan Dermatitis Atopi Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan; Brigitta -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.34

Abstract

Dermatitis atopi (DA) merupakan radang kulit yang bersifat kronik dan residif. DA umumnya muncul pertama kali pada tahun pertama kehidupan. Penyebab DA multifaktorial disertai riwayat atopi lain pada penderita ataupun keluarga. Terapi DA simptomatik, sehingga sering gagal dan berdampak pada kualitas hidup baik pada pasien maupun keluarganya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa probiotik terutama strain bakteri campuran, sangat bermanfaat sebagai pengobatan dan pencegahan DA. Atopic dermatitis (AD) is a chronic and recidive inflammatory skin disease. AD commonly appear in the first year of life. Cause of AD is multifactorial with past or familial history of other atopy. AD therapy is symptomatic, resulting in frequent failure and impact on the quality of life of patients and their families. Recent research shows that probiotics, especially mixed bacterial strains is very useful as a treatment and prevention of AD.
Tinjauan atas Drug Reaction with Eosinophilia Systemic Symptoms (DRESS) Michael Sie Shun Ling; Marsha Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i4.59

Abstract

Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) merupakan reaksi sistemik yang jarang, meliputi reaksi multisistem berat terhadap obat, dengan gejala demam, ruam kulit, limfadenopati, keterlibatan organ internal, dan leukositosis dengan eosinofilia. Diagnosis awal dan tatalaksana yang adekuat dapat membantu mencegah perburukan. Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) is a rare severe multisystem reaction to drugs, with symptoms of fever, skin rash, lymphadenopathy, involving internal organs, and leukocytosis with eosinophilia. Early diagnosis and adequate treatment can help prevent the progression of DRESS.
Diagnosis dan Terapi Skabies Marsha Kurniawan; Michael Sie Shun Ling; Franklind
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 2 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.277

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan parasit Sarcoptes scabiei varietas hominis. Penyakit ini sering diabaikan, sehingga menjadi salah satu masalah di dunia, termasuk Indonesia. Gejala klinisnya adalah rasa gatal akibat respons alergi tubuh terhadap tungau terutama di kulit dengan stratum korneum tipis. Diagnosis berdasarkan dua dari empat tanda kardinal skabies. Diagnosis banding skabies terdiri dari gigitan serangga, infeksi (bakteri, virus, atau jamur), dermatitis, dan reaksi imun. Kerusakan epidermis akibat infeksi skabies mempermudah komplikasi infeksi sekunder bakteri. Tatalaksana terapi simptomatik untuk rasa gatal, dapat berupa agen topikal atau oral, serta beberapa modalitas terapi terbaru yang masih dikembangkan seperti tea tree oil dan vaksinasi. Scabies is a skin disease caused by a parasite Sarcoptes scabiei hominis. It is easily ignored and has become problem in the world, including in Indonesia. Clinical symptoms are itch due to the allergic response to mites especially on a thin stratum corneum. Diagnosis is made with presence of two out of four cardinal signs of scabies. Differential diagnosis of scabies includes insect bites, infection (bacteria, virus, or fungi), dermatitis, and immune reactions. Damage on epidermis could lead to complication such as bacterial secondary infection. Management consists of symptomatic treatment for itch, oral and topical medications. Latest treatment modalities such as tree oil and vaccination are still being developed.