Ihda Zuyina Ratna Sari
Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Sistiserkosis dan Taeniasis Ihda Zuyina Ratna Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1768

Abstract

Sistiserkosis dan taeniasis termasuk neglected diseases yang masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Prevalensi sistiserkosis dan taeniasis di Indonesia berkisar 2-48%, tertinggi (hiperendemis sistiserkosis) di Papua. Sistiserkosis disebabkan infeksi larva cacing pita Taenia solium, taeniasis dapat disebabkan oleh cacing dewasa dari spesies T. solium, T. saginata, dan T. asiatica. Sistiserkosis dan taeniasis umumnya terjadi pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi daging babi mentah atau setengah matang dan memiliki personal hygiene serta sanitasi lingkungan yang kurang baik. Sistiserkosis dan taeniasis mungkin asimtomatik. Diagnosis umumnya dengan anamnesis, pemeriksaan feses, dan diagnosis penunjang lainnya. Pengobatan dengan obat antihelmintik atau pembedahan untuk sistiserkosis. Pencegahan dengan menghilangkan sumber infeksi, meningkatkan personal hygiene dan sanitasi lingkungan, vaksinasi, dan pemberian obat cacing pada ternak, khususnya babi dan sapi, pengawasan dan memeriksa daging yang dikonsumsi, dan tidak mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
Gambaran Sistiserkosis dan Taeniasis Ihda Zuyina Ratna Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 3 (2022): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.206

Abstract

Sistiserkosis dan taeniasis termasuk neglected diseases yang masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Prevalensi sistiserkosis dan taeniasis di Indonesia berkisar 2-48%, tertinggi (hiperendemis sistiserkosis) di Papua. Sistiserkosis disebabkan infeksi larva cacing pita Taenia solium, taeniasis dapat disebabkan oleh cacing dewasa dari spesies T. solium, T. saginata, dan T. asiatica. Sistiserkosis dan taeniasis umumnya terjadi pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi daging babi mentah atau setengah matang dan memiliki personal hygiene serta sanitasi lingkungan yang kurang baik. Sistiserkosis dan taeniasis mungkin asimtomatik. Diagnosis umumnya dengan anamnesis, pemeriksaan feses, dan diagnosis penunjang lainnya. Pengobatan dengan obat antihelmintik atau pembedahan untuk sistiserkosis. Pencegahan dengan menghilangkan sumber infeksi, meningkatkan personal hygiene dan sanitasi lingkungan, vaksinasi, dan pemberian obat cacing pada ternak, khususnya babi dan sapi, pengawasan dan memeriksa daging yang dikonsumsi, dan tidak mengonsumsi daging mentah atau setengah matang. Cysticercosis and taeniasis were neglected diseases which are still problematic especially in developing countries including Indonesia. The prevalence of cysticercosis and taeniasis in Indonesia ranges from 2-48%, highest (hyperendemic cysticercosis) in Papua. Cysticercosis is caused by T. soliumlarvae, taeniasis is caused by the adult T. solium, T. saginata, or T. asiatica. Cysticercosis and taeniasis generally occurs in people with habit of consuming raw or undercooked pork with poor personal hygiene and sanitation. Cysticercosis and taeniasis can be asymptomatic. Diagnosis is generally made by anamnesis, feces examination, and other supporting diagnoses. Treatment consist of antihelmintic drugs or by surgery for cysticercosis. Prevention is by eliminating sources of infection, improve personal hygiene and environmental sanitation, vaccination, and worm medication to livestock, especially pigs and cows, supervise and check meat for consumption, and not consuming raw or undercooked meat.
Gambaran Sistiserkosis dan Taeniasis Ihda Zuyina Ratna Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 3 (2022): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.206

Abstract

Sistiserkosis dan taeniasis termasuk neglected diseases yang masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Prevalensi sistiserkosis dan taeniasis di Indonesia berkisar 2-48%, tertinggi (hiperendemis sistiserkosis) di Papua. Sistiserkosis disebabkan infeksi larva cacing pita Taenia solium, taeniasis dapat disebabkan oleh cacing dewasa dari spesies T. solium, T. saginata, dan T. asiatica. Sistiserkosis dan taeniasis umumnya terjadi pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi daging babi mentah atau setengah matang dan memiliki personal hygiene serta sanitasi lingkungan yang kurang baik. Sistiserkosis dan taeniasis mungkin asimtomatik. Diagnosis umumnya dengan anamnesis, pemeriksaan feses, dan diagnosis penunjang lainnya. Pengobatan dengan obat antihelmintik atau pembedahan untuk sistiserkosis. Pencegahan dengan menghilangkan sumber infeksi, meningkatkan personal hygiene dan sanitasi lingkungan, vaksinasi, dan pemberian obat cacing pada ternak, khususnya babi dan sapi, pengawasan dan memeriksa daging yang dikonsumsi, dan tidak mengonsumsi daging mentah atau setengah matang. Cysticercosis and taeniasis were neglected diseases which are still problematic especially in developing countries including Indonesia. The prevalence of cysticercosis and taeniasis in Indonesia ranges from 2-48%, highest (hyperendemic cysticercosis) in Papua. Cysticercosis is caused by T. soliumlarvae, taeniasis is caused by the adult T. solium, T. saginata, or T. asiatica. Cysticercosis and taeniasis generally occurs in people with habit of consuming raw or undercooked pork with poor personal hygiene and sanitation. Cysticercosis and taeniasis can be asymptomatic. Diagnosis is generally made by anamnesis, feces examination, and other supporting diagnoses. Treatment consist of antihelmintic drugs or by surgery for cysticercosis. Prevention is by eliminating sources of infection, improve personal hygiene and environmental sanitation, vaccination, and worm medication to livestock, especially pigs and cows, supervise and check meat for consumption, and not consuming raw or undercooked meat.