Elvira -
Puskesmas Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Acne: Pathophysiology and Management Elvira -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.531

Abstract

Acne is a common multifactorial inflammatory condition of the pilosebaceous follicle. Topical therapy is the first-line therapy with adjunct systemic therapy if results are unsatisfactory. Oral antibiotic, oral contraception pill or isotretinoin are indicated for inflammatory acne. Since the use topical and systemic treatments might be limited in some patients, several laser and other light sources have been developed to treat acne by decreasing the level of P. acnes or decreasing the function of the sebaceous unit. This article reviews the management strategy of acne.Acne merupakan kondisi inflamasi multifaktorial dari folikel polisebaseus. Kalsifikasi acne berdasarkan derajat keparahan ringan, sedang dan berat. Terapi topikal menjadi pilihan utama dengan tambahan terapi sistemik bila hasil belum maksimal. Terapi topikal satu jenis obat dan kombinasi seperti benzoyl peroxide, antibiotik dan retinoid telah dijual bebas. Antibiotik oral, pil kontrasespi atau isotretinoin diindikasikan unutk acne yang disertai inflamasi. Karena beberapa pasien tidak toleran dengan terapi topikal dan sistemik, terapi cahaya dan laser dikembangkan untuk menurunkan jumlah P. acnes dan menurunkan fungsi kelenjar sebaseus. Artikel ini membahas strategi penanganan acne. 
Clinical Manifestations of Ocular Tuberculosis Elvira -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.150

Abstract

Tuberkulosis  (TB)  adalah  infeksi  kronik  oleh Mycobacterium  tuberculosis.  Bakteri  ini  dapat  menginfeksi  mata  dengan  cara  invasi  langsung setelah penyebaran hematogen yang sejalan dengan inflamasi lokal atau melalui reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Manifestasi klinis TB okular dapat menyerupai berbagai bentuk uveitis, tergantung lokasi, respons inang, dan tingkat virulensi bakteri. Diagnosis definitif membutuhkan konfirmasi Mycobacterium  tuberculosis dari jaringan atau cairan okular. Tes kulit tuberkulin dan interferron-gamma  release  assays  (IGRA) dapat  digunakan untuk diagnosis pasien tanpa manifestasi sistemik. Diagnosis dan terapi yang terlambat dapat mengakibatkan kebutaan. Artikel ini akan membahas tentang diagnosis dan terapi TB okular.