Felix Kusmana
Mahasiswa Program Magister Anti-Aging Medicine, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Selenium: Peranannya dalam Berbagai Penyakit dan Alergi Felix Kusmana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i4.852

Abstract

Selenium adalah zat yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, namun berperan penting untuk fungsi biologis, terutama sebagai antioksidan. Selenium inorganik dari tanah akan diserap tanaman dan diubah menjadi bentuk organik, lalu masuk pada rantai makanan yang berujung pada diet manusia. Manfaat selenium yang utama adalah menghasilkan selenoprotein, seperti glutation peroksidase yang berperan besar pada patogenesis berbagai penyakit, seperti kelainan otot, penyakit kardiovaskular, hepatopati, gagal ginjal, kelainan neurologis, HIV, DM tipe 2, kelainan tiroid, infertilitas laki-laki, kanker, penuaan, dan respon alergi. Dosis asupan selenium yang dianjurkan adalah 55 μg/hari, maksimal 400 μg/hari.Selenium is needed in small amounts, but has important roles in biological functions, especially as antioxidant. Inorganic selenium from the soil will be absorbed by plants and converted into organic form, then enter the food chain that led to human diet. The main benefit of selenium is generating selenoproteins, such as glutathione peroxidase that have important roles in the pathogenesis of various diseases, such as muscular disorders, cardiovascular disease, hepatopathy, kidney failure, neurological disorders, HIV, type 2 diabetes, thyroid disorders, male infertility, cancer, aging, and allergic response. Recommended dose of selenium intake is 55 μg/day with a maximum limit 400 μg/day.