Hastarita Lawrenti
Departemen Medical PT Kalbe Farma Tbk. Jakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Letrozole sebagai Terapi Lini Pertama Kanker Payudara Stadium Lokal Lanjut atau Metastatik Reseptor Hormon Positif Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i5.61

Abstract

Estrogen diketahui berperan memacu pertumbuhan dan survival sel epitelial payudara normal dan sel kanker payudara dengan berikatan dan mengaktivasi reseptor estrogen. Sel-sel kanker payudara yang mengekspresikan reseptor estrogen dijumpai pada sekitar 70% kanker payudara; jenis ini disebut kanker payudara reseptor estrogen atau reseptor hormon positif. Salah satu agen endokrin untuk terapi kanker payudara reseptor hormon positif adalah aromatase inhibitor. Letrozole termasuk aromatase inhibitor generasi ketiga yang menghambat enzim aromatase, yang mengubah androgen menjadi estrogen, pada wanita pasca-menopause. Letrozole superior dibandingkan tamoxifen sebagai terapi lini pertama pada wanita pasca-menopause dengan kanker payudara stadium lanjut reseptor hormon positif, dan efikasinya sebanding dengan aromatase inhibitor generasi ketiga lainnya sebagai terapi endokrin adjuvan pada wanita pasca menopause dengan kanker payudara stadium dini reseptor hormon positif. Letrozole juga ditoleransi dengan baik.
Hemofilia dan Perkembangan Terapinya Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1496

Abstract

Hemofilia A dan B adalah gangguan perdarahan yang diturunkan yang ditandai dengan defisiensi protein koagulasi faktor VIII dan IX. Terapi pengganti dengan faktor pembekuan (konsentrat faktor VIII atau IX dari plasma atau rekombinan) masih merupakan terapi hemofilia baik saat perdarahan maupun sebagai profilaksis. Terapi profilaksis merupakan terapi standar untuk pasien hemofilia berat karena dapat mencegah kerusakan sendi, menurunkan frekuensi perdarahan sendi dan lainnya, serta memperbaiki kualitas hidup. Keputusan memilih terapi harus berdasarkan pertimbangan medis dan klinis, dan bersifat individual.Hemophilia A and B are inherited bleeding disorders characterised by deficiency of coagulation protein factor VIII and IX, respectively. Replacement therapy with clotting factors (factor VIII or IX through plasma-derived or recombinant concentrate) is the mainstay of treatment at time of bleeding or as prophylactic based on individual needs. Prophylaxis treatment is standard treatment for patients with severe hemophilia as it prevents joint damage, reduces frequency of joint and other bleeding and improves quality of life. Choice of therapy should be based solely on medical and clinical considerations and individualized. 
Hemofilia dan Perkembangan Terapinya Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 9 (2021): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.129

Abstract

Hemofilia A dan B adalah gangguan perdarahan yang diturunkan yang ditandai dengan defisiensi protein koagulasi faktor VIII dan IX. Terapi pengganti dengan faktor pembekuan (konsentrat faktor VIII atau IX dari plasma atau rekombinan) masih merupakan terapi hemofilia baik saat perdarahan maupun sebagai profilaksis. Terapi profilaksis merupakan terapi standar untuk pasien hemofilia berat karena dapat mencegah kerusakan sendi, menurunkan frekuensi perdarahan sendi dan lainnya, serta memperbaiki kualitas hidup. Keputusan memilih terapi harus berdasarkan pertimbangan medis dan klinis, dan bersifat individual. Hemophilia A and B are inherited bleeding disorders characterised by deficiency of coagulation protein factor VIII and IX, respectively. Replacement therapy with clotting factors (factor VIII or IX through plasma-derived or recombinant concentrate) is the mainstay of treatment at time of bleeding or as prophylactic based on individual needs. Prophylaxis treatment is standard treatment for patients with severe hemophilia as it prevents joint damage, reduces frequency of joint and other bleeding and improves quality of life. Choice of therapy should be based solely on medical and clinical considerations and individualized.
Hemofilia dan Perkembangan Terapinya Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 9 (2021): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.129

Abstract

Hemofilia A dan B adalah gangguan perdarahan yang diturunkan yang ditandai dengan defisiensi protein koagulasi faktor VIII dan IX. Terapi pengganti dengan faktor pembekuan (konsentrat faktor VIII atau IX dari plasma atau rekombinan) masih merupakan terapi hemofilia baik saat perdarahan maupun sebagai profilaksis. Terapi profilaksis merupakan terapi standar untuk pasien hemofilia berat karena dapat mencegah kerusakan sendi, menurunkan frekuensi perdarahan sendi dan lainnya, serta memperbaiki kualitas hidup. Keputusan memilih terapi harus berdasarkan pertimbangan medis dan klinis, dan bersifat individual. Hemophilia A and B are inherited bleeding disorders characterised by deficiency of coagulation protein factor VIII and IX, respectively. Replacement therapy with clotting factors (factor VIII or IX through plasma-derived or recombinant concentrate) is the mainstay of treatment at time of bleeding or as prophylactic based on individual needs. Prophylaxis treatment is standard treatment for patients with severe hemophilia as it prevents joint damage, reduces frequency of joint and other bleeding and improves quality of life. Choice of therapy should be based solely on medical and clinical considerations and individualized.