Jason Theola
Program Studi Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Plasma Konvalesen terhadap Lama Rawat Inap Pasien COVID-19 Muhammad Ikrar Hermanadi; Jason Theola; Kemal Akbar Suryoadji; Dhiya Athaullah Nurfateen Ashadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1460

Abstract

Masih meningkatnya kasus positif dan kematian COVID-19 di Indonesia menuntut fasyankes agar bisa mempersingkat durasi hospitalisasi/rawat inap untuk efisiensi sumber daya kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan. Terapi ajuvan pasien rawat inap antara lain terapi plasma konvalesen (TPK). Review ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian TPK dan terapi standar dibandingkan terapi standar saja terhadap durasi rawat inap pasien COVID-19. Penelusuran artikel secara manual pada empat database, yaitu PubMed, Cochrane, ScienceDirect, dan Scopus. Kata kunci yang digunakan adalah convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Metode seleksi berdasarkan kriteria eligibilitas mendapatkan 1 artikel yang kemudian ditelaah kritis dari segi kesahihan, kepentingan, dan kemamputerapan. Satu artikel tinjauan sistematis merupakan artikel yang sahih dan penting, tetapi kurang memiliki kemamputerapan karena demografi dan kondisi klinis yang tidak sesuai. Review ini menyimpulkan bahwa pemberian TPK tidak memengaruhi durasi rawat inap pasien COVID-19. Diperlukan studi lebih lanjut dengan demografi dan kondisi klinis yang sesuai untuk mendapat keyakinan tertinggi.Indonesia is still in an ongoing trend of positive cases and deaths caused by COVID-19. This condition urges health care facilities to reduce length of stay for more efficient health resources management and higher quality of care. Adjuvant therapy to hospitalized patients includes convalesent plasma therapy (CPT). This review aims to determine the effect of CPT on length of stay of COVID-19 patients in comparison to standard therapy. Literature search is through hand searching and through four databases: PubMed, Cochrane, ScienceDirect, and Scopus. Keywords used are: convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Selection through eligibility criteria resulted in one systematic review article, then critically appraised by its’ validity, importance, and applicability. The article selected is valid and important, yet lack of applicability due to discrepancy in demographics and clinical conditions. The review concluded that CPT does not affect the length of stay of COVID-19 patients. More research with similiar demographics and clinical conditions are needed to achieve highest level of certainty.
Pengaruh Pemberian Plasma Konvalesen terhadap Lama Rawat Inap Pasien COVID-19 Muhammad Ikrar Hermanadi; Jason Theola; Kemal Akbar Suryoadji; Dhiya Athaullah Nurfateen Ashadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 7 (2021): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i7.101

Abstract

Masih meningkatnya kasus positif dan kematian COVID-19 di Indonesia menuntut fasyankes agar bisa mempersingkat durasi hospitalisasi/ rawat inap untuk efisiensi sumber daya kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan. Terapi adjuvan pasien rawat inap antara lain terapi plasma konvalesen (TPK). Review ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian TPK dan terapi standar dibandingkan terapi standar saja terhadap durasi rawat inap pasien COVID-19. Penelusuran artikel secara manual pada empat database, yaitu PubMed, Cochrane, ScienceDirect, dan Scopus. Kata kunci yang digunakan adalah convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Metode seleksi berdasarkan kriteria eligibilitas mendapatkan 1 artikel yang kemudian ditelaah kritis dari segi kesahihan, kepentingan, dan kemamputerapan. Satu artikel tinjauan sistematis merupakan artikel yang sahih dan penting, tetapi kurang memiliki kemamputerapan karena demografi dan kondisi klinis yang tidak sesuai. Review ini menyimpulkan bahwa pemberian TPK tidak memengaruhi durasi rawat inap pasien COVID-19. Diperlukan studi lebih lanjut dengan demografi dan kondisi klinis yang sesuai untuk mendapat keyakinan tertinggi. Indonesia is still in an ongoing trend of positive cases and deaths caused by COVID-19. This condition urges health care facilities to reduce length of stay for more efficient health resources management and higher quality of care. Adjuvant therapy to hospitalized patients includes convalesent plasma therapy (CPT). This review aims to determine the effect of CPT on length of stay of COVID-19 patients in comparison to standard therapy. Literature search is through hand searching and through four databases: PubMed, Cochrane, ScienceDirect, and Scopus. Keywords used are: convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Selection through eligibility criteria resulted in one systematic review article, then critically appraised by its’ validity, importance, and applicability.The article selected is valid and important, yet lack of applicability due to discrepancy in demographics and clinical conditions. The review concluded that CPT does not affect the length of stay of COVID-19 patients.More research with similiar demographics and clinical conditions are needed to achieve highest level of certainty.
Riwayat Merokok sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Karsinoma Hepatoseluler Kemal Akbar Suryoadji; Jason Theola; Muhammad Ikrar Hermanadi; Dhiya Athaullah Nurfateen Ashadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i8.273

Abstract

Kanker hati atau karsinoma hepatoseluler menempati urutan ke-5 kanker terbanyak di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia sebesar 33,8% dan merokok banyak dikaitkan dengan berbagai komplikasi dan peningkatan angka kematian berbagai penyakit. Tinjauan ini merupakan laporan kasus berbasis bukti untuk melihat mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler yang memiliki riwayat perokok. Pencarian artikel dari 4 database, yakni Pubmed, Cochrane, ScienceDirect, dan Scopus dengan kata kunci “((Hepatocellular carcinoma) AND (Smoking) AND (Mortality))” dilakukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi; telaah kritis berdasarkan panduan untuk studi prognosis. Didapatkan 1 studi prognosis mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler dengan riwayat merokok yang telah menjalani telaah kritis dan dapat dinyatakan sebagai studi yang valid, penting, dan aplikatif. Studi tersebut merupakan systematic review dan meta-analisis dengan OR 1,20 (95% CI 1,03-1,40). Riwayat merokok dengan frekuensi minimal 20 batang/hari selama 1 tahun akan meningkatkan risiko mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler sebesar 1,2 kali dibandingkan pasien karsinoma hepatoseluler tanpa riwayat merokok. Liver cancer or hepatocellular carcinoma ranks as the fifth most frequent cancer in Indonesia. Riskesdas 2018 data shows that the prevalence of smokers in Indonesia is 33.8%; and smoking is widely associated with various disease complications, including mortality rate increase for various diseases. This review was an evidence-based case report on the mortality of hepatocellular carcinoma patients with smoking history. An article search was conducted based on 4 databases: Pubmed, Cochrane, ScienceDirect, and Scopus using the keywords “((Hepatocellular carcinoma) AND (Smoking) AND (Mortality))” according to inclusion and exclusion criteria and based on guidelines for prognosis studies. History of smoking with a frequency of at least 20 cigarettes/ day for 1 year will increase the risk of mortality by 1.2 times in hepatocellular carcinoma patients compared to hepatocellular carcinoma patients without a history of smoking.
Pengaruh Pemberian Plasma Konvalesen terhadap Lama Rawat Inap Pasien COVID-19 Muhammad Ikrar Hermanadi; Jason Theola; Kemal Akbar Suryoadji; Dhiya Athaullah Nurfateen Ashadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 7 (2021): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i7.101

Abstract

Masih meningkatnya kasus positif dan kematian COVID-19 di Indonesia menuntut fasyankes agar bisa mempersingkat durasi hospitalisasi/ rawat inap untuk efisiensi sumber daya kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan. Terapi adjuvan pasien rawat inap antara lain terapi plasma konvalesen (TPK). Review ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian TPK dan terapi standar dibandingkan terapi standar saja terhadap durasi rawat inap pasien COVID-19. Penelusuran artikel secara manual pada empat database, yaitu PubMed, Cochrane, ScienceDirect, dan Scopus. Kata kunci yang digunakan adalah convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Metode seleksi berdasarkan kriteria eligibilitas mendapatkan 1 artikel yang kemudian ditelaah kritis dari segi kesahihan, kepentingan, dan kemamputerapan. Satu artikel tinjauan sistematis merupakan artikel yang sahih dan penting, tetapi kurang memiliki kemamputerapan karena demografi dan kondisi klinis yang tidak sesuai. Review ini menyimpulkan bahwa pemberian TPK tidak memengaruhi durasi rawat inap pasien COVID-19. Diperlukan studi lebih lanjut dengan demografi dan kondisi klinis yang sesuai untuk mendapat keyakinan tertinggi. Indonesia is still in an ongoing trend of positive cases and deaths caused by COVID-19. This condition urges health care facilities to reduce length of stay for more efficient health resources management and higher quality of care. Adjuvant therapy to hospitalized patients includes convalesent plasma therapy (CPT). This review aims to determine the effect of CPT on length of stay of COVID-19 patients in comparison to standard therapy. Literature search is through hand searching and through four databases: PubMed, Cochrane, ScienceDirect, and Scopus. Keywords used are: convalescent plasma, COVID-19 therapy, COVID-19 serotherapy, length of stay. Selection through eligibility criteria resulted in one systematic review article, then critically appraised by its’ validity, importance, and applicability.The article selected is valid and important, yet lack of applicability due to discrepancy in demographics and clinical conditions. The review concluded that CPT does not affect the length of stay of COVID-19 patients.More research with similiar demographics and clinical conditions are needed to achieve highest level of certainty.
Riwayat Merokok sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Karsinoma Hepatoseluler Kemal Akbar Suryoadji; Jason Theola; Muhammad Ikrar Hermanadi; Dhiya Athaullah Nurfateen Ashadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 8 (2022): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i8.273

Abstract

Kanker hati atau karsinoma hepatoseluler menempati urutan ke-5 kanker terbanyak di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia sebesar 33,8% dan merokok banyak dikaitkan dengan berbagai komplikasi dan peningkatan angka kematian berbagai penyakit. Tinjauan ini merupakan laporan kasus berbasis bukti untuk melihat mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler yang memiliki riwayat perokok. Pencarian artikel dari 4 database, yakni Pubmed, Cochrane, ScienceDirect, dan Scopus dengan kata kunci “((Hepatocellular carcinoma) AND (Smoking) AND (Mortality))” dilakukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi; telaah kritis berdasarkan panduan untuk studi prognosis. Didapatkan 1 studi prognosis mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler dengan riwayat merokok yang telah menjalani telaah kritis dan dapat dinyatakan sebagai studi yang valid, penting, dan aplikatif. Studi tersebut merupakan systematic review dan meta-analisis dengan OR 1,20 (95% CI 1,03-1,40). Riwayat merokok dengan frekuensi minimal 20 batang/hari selama 1 tahun akan meningkatkan risiko mortalitas pasien karsinoma hepatoseluler sebesar 1,2 kali dibandingkan pasien karsinoma hepatoseluler tanpa riwayat merokok. Liver cancer or hepatocellular carcinoma ranks as the fifth most frequent cancer in Indonesia. Riskesdas 2018 data shows that the prevalence of smokers in Indonesia is 33.8%; and smoking is widely associated with various disease complications, including mortality rate increase for various diseases. This review was an evidence-based case report on the mortality of hepatocellular carcinoma patients with smoking history. An article search was conducted based on 4 databases: Pubmed, Cochrane, ScienceDirect, and Scopus using the keywords “((Hepatocellular carcinoma) AND (Smoking) AND (Mortality))” according to inclusion and exclusion criteria and based on guidelines for prognosis studies. History of smoking with a frequency of at least 20 cigarettes/ day for 1 year will increase the risk of mortality by 1.2 times in hepatocellular carcinoma patients compared to hepatocellular carcinoma patients without a history of smoking.