Raymond Surya
Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Persalinan Preterm Raymond Surya; Sri Pudyastuti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.533

Abstract

Persalinan preterm didefinisikan sebagai persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Insidens persalinan preterm berbeda-beda antar negara. Persalinan preterm berkontribusi langsung terhadap risiko morbiditas dan mortalitas maternal, janin, dan neonatus. Mekanisme persalinan preterm tidak berbeda dengan persalinan aterm yaitu kontraktilitas uterus, pematangan serviks, dan ruptur membran. Persalinan preterm dapat diprediksi melalui pemeriksaan panjang serviks dengan ultrasonografi transvaginal, fibronektin janin, dan IGF binding protein-1 atau placental alpha-microglobulin-1 (PAMG-1). ACOG merekomendasikan tatalaksana ancaman persalinan preterm menggunakan kortikosteroid, magnesium sulfat, tokolitik lini pertama, dan antibiotik sesuai usia kehamilan.Preterm labor is defined as the labor under 37 weeks of gestational age. The incidence was varied among countries. Preterm labor contributes to maternal, fetal, and neonatal morbidity and mortality. The mechanism of preterm labor is similar to term labor including uterine contractility, cervical ripening, and membrane rupture. Preterm labor can be predicted through cervical length measurement by transvaginal ultrasound, fetal fibronectin, and IGF binding protein-1 or placental alpha-microglobulin-1 (PAMG-1). ACOG recommends administration of corticosteroid, magnesium sulphate, first-line tocolytic, and antibiotic appropriate to gestational age.