Nurul Sri Wahyuni
Program Studi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERILAKU ODHA DALAM MENCEGAH PENULARAN HIV/ AIDS Nurul Sri Wahyuni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 2, No 4 (2013): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v2i4.1034

Abstract

Aquired Immune Defesiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodefeciency Virus (HIV). Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo menunjukkan bahwa sejak ditemukan tahun 1999 kasus HIV/ AIDS terus meningkat. Hingga akhir tahun 2011, jumlah penderita HIV/ AIDS sebanyak 43 orang.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dampak kerahasiaan ODHA di masyarakat berkaitan dengan penularan HIV/AIDS dan informasi perilaku ODHA, sikap, dan persepsi ODHA terhadap HIV/ AIDS dan juga cara pencegahan dan upaya yang dilakukan ODHA untuk mencegah penularan HIV pada orang lain.Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif dengan pendekatan kualitatif. Unit analisis pada penelitian ini adalah ODHA di wilayah Kabupaten Ponorogo. Teknik sampling yang akan digunakan adalah Snowball Sampling. Jumlah responden yang akan diambil sesuai informasi yang diperoleh peneliti dari key person. Pengumpulan data dilakukan dengan depth interview. Selanjutnya data dianalisis dengan reduksi data, data display, dan verifikasi data. Selanjutnya akan dilakukan uji kredibilitas data dengan triangulasi sumber.Hasil penelitian ini menyatakan semua responden mengatakan tidak mau menularkan penyakitnya kepada orang lain. Masa lalu informan beragam, ada yang berasal dari pengguna napza suntik, heterosek, tertular dari suaminya. Perlakuan kerahasiaan kepada ODHA harus tetap dilaksanakan karena mereka takut adanya diskriminasi terhadap ODHA. Hal tersebut terjadi karena masyarakat belum paham tentang HIV sehingga mereka masih sangat menstigma HIV. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka memang perlu adanya suatu intervensi ganda yang harus dilakukan, yaitun intervensi kepada masyarakat berupa sosialisai tentang HIV/AIDS. Sedangkan kepada ODHA perlu adanya pendampingan yang berkesinambungan sehingga penularan HIV dapat dicegah.
TERAPI MUSIK EFEKTIF MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN ANAK USIA SEKOLAH Nurul Sri Wahyuni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/jik.v2i3.1023

Abstract

Hospitalisasi atau rawat inap merupakan stressor yang besar yang harus dihadapi oleh anak, karena mereka belum mengerti mengapa harus dirawat juga karena lingkungan yang asing, kebiasaan yang berbeda, atau perpisahan dengan keluarga. Reaksi yang umum dari stress adalah kecemasan. Kecemasan adalah emosi atau perasaan yang timbul oleh penyebab yang tidak pasti atau tidak spesifik, biasanya dimanifestasikan dengan perasaan tidak nyaman dan gelisah. Banyak metode yang digunakan untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien anak, salah satunya yaitu dengan terapi musik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kecemasan pada pasien anak usia sekolah (6-12 tahun) yang dirawat ina p di Ruang Marwa. RSU ‘Aisyiyah Ponorogo sebelum dan sesudah diberikan terapi music serta menganalisa pengaruh terapi music terhadap penurunan tingkat kecemasannya.Penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimental. Dengan desain yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design. Sampel diambil secara purposive sampling, yaitu pasien anak usia sekolah (6-12 tahun) yang dirawat  inap di ruang Marwa RSU ‘Aisyiyah Ponorogo dan tercatat sebagai pasien di bulan Desember 2004. Variable yang diukur adalah tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberi terapi music.Dari hasil penelitian didapatkan data bahwa sebelum diberi terapi music 14,29% responden mengalami cemas ringan, 71,43% cemas sedang, dan 14,29% mengalami cemas berat. Sedangkan setelah diberi terapi music 80,95% responden mengalami cemas ringan, 4,76% cemas sedang, dan 14,29% cemas berat. Dari hasil uji statistik t-test (α = 0,05) didapatkan t hitung (8.604) dengan t tabel (2.086) dan rata-rata penurunan sebesar 4,0476. Karena t hitung lebih besar dari t table berarti hipotesis diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi music terhadap penurunan tingkat kecemasan. Dari hasi temuan diatas disarankan kepada institusi rumah sakit khususunya bidang keperawatan agar terapi music dapat diterapkan pada pasien anak yang dirawat inap.