Alex Stefanus Ginting
Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ibadah yang Sejati menurut Deskripsi Yohanes 4:23-24 Alex Stefanus Ginting; Ewin Johan Sembiring; Ernida Marbun; Asa Binsar Siregar
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 4, No 2: Agustus 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.895 KB) | DOI: 10.53827/lz.v4i2.34

Abstract

Worship is the function of the church in worshiping God so that understanding worship becomes the basis for our worship practice. This research will explore true worship according to the teachings of Jesus Christ in John 4:23-24. The deepening of this teaching will use the descriptive research method. Researchers will remove the true meaning of worship that Jesus meant in John 4:23-24 and also conduct a literature study to support this understanding more clearly. This study found three results from the exploration of true worship, namely true worship is sought by the Father, true worship is worshiping in spirit and truth and the purpose of true worship is for the glory of the Father.AbstrakIbadah merupakan fungsi gereja dalam menyembah kepada Allah sehingga pemahaman akan ibadah menjadi dasar praktek ibadah kita. Penelitian ini akan mendalami ibadah sejati menurut ajaran Yesus Kristus di dalam Yohanes 4:23-24.  Pendalaman ajaran ini akan mengunakan metode penelitian deskripsi. Peneliti akan mengeluarkan arti ibadah dari sejati yang dimaksudkan Yesus di dalam Yohanes 4:23-24 dan juga mengadakan studi kepustakaan untuk mendukung pengertian ini lebih jelas lagi.  Penelitian ini menemukan tiga hasil dari eksplorasi tentang ibadah yang sejati yaitu Ibadah yang sejati dicari Bapa, Ibadah yang sejati menyembah dalam roh dan kebenaran dan tujuan ibadah sejati untuk kemuliaan Bapa.
Injil dan Pluralitas Budaya Asia: Studi Narator Matius 28:19-20 Harming Harming; Alex Stefanus Ginting; Samuel Abdi Hu; Nosita Br. Tarigan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.217

Abstract

This study analyzes the narrative of Matthew 28:19-20—known as the Great Commission—in the context of Asian cultural plurality using a translational model and narrative hermeneutic approach. The main focus of the research is how gospel texts can be translated and interpreted in a relevant and contextual way in the midst of the diversity of cultures, languages, and traditions in Asia. Through qualitative methods and document analysis, this study identifies the importance of understanding local cultures, contextualizing the gospel message, and the role of the church in building cross-cultural dialogue. The results of the study show that effective discipleship and evangelism require collective community involvement, adaptation to the challenges of the digital age, and a reinterpretation of the dimensions of baptism and teaching to remain relevant to the needs of modern society. This research recommends inclusive and adaptive evangelistic strategies, and emphasizes the importance of building intercultural relationships of mutual respect to realize the church's universal and contextual mission. Abstrak:Penelitian ini menganalisis narasi Matius 28:19-20-yang dikenal sebagai Amanat Agung-dalam konteks pluralitas budaya Asia dengan menggunakan pendekatan model translasi dan hermeneutik naratif. Fokus utama penelitian adalah bagaimana teks Injil dapat diterjemahkan dan diinterpretasikan secara relevan dan kontekstual di tengah keragaman budaya, bahasa, dan tradisi di Asia. Melalui metode kualitatif dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi pentingnya pemahaman budaya lokal, kontekstualisasi pesan Injil, serta peran gereja dalam membangun dialog lintas budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan dan penginjilan yang efektif memerlukan keterlibatan komunitas secara kolektif, adaptasi terhadap tantangan era digital, serta pemaknaan ulang dimensi baptisan dan pengajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini merekomendasikan strategi penginjilan yang inklusif dan adaptif, serta menekankan pentingnya membangun hubungan saling menghargai antarbudaya untuk mewujudkan misi gereja yang universal dan kontekstual.Kata Kunci: Injil, Matius, penginjilan, gereja.