Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Korelasi Qiyafah dan Genetika Dalam Menetapkan Nasab Perspektif Imam Syafi’i Abdul Hakim Siregar
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.651 KB) | DOI: 10.30743/best.v2i1.1773

Abstract

Bahwa Qiyafah merupakan istilah metoda yang dipakai untuk mengenali jejak seseorang dalammenetukan nasab berdaarkan ciri-ciri dan kemiripan. Sedangkan qa`if, adalah orang yangmempunyai keahlian khusus melihat orang lain dalam menghubungkan, menetukan nasabberdasarkan tanda-tanda dan kemiripan antara pihak yang diteliti. Menurut asy-Syafi`i, jasa qa`ifdalam menetapkan nasab seseorang dapat diterima sebagai ketetapan hukum. Oleh sebab itu, jikaditemukan persengketaan nasab dimana tidak ada bukti lain atau para pihak sama-sama memilikibukti yang kuat, maka persoalan itu diselesaikan dengan penelitian qa`if. Dalam mendukungpendapatnya, mazhab asy-Syafi`i beralasan dengan hadits Nabi Muhammad saw.dan atsar parasahabatnya. Oleh sebab itu praktik qiyafah diyakini memiliki justifikasi syariah. Genetika adalahsalah satu cabang dari ilmu biologi yang membahas tentang sifat keturunan yang diwariskan sertavariasi yang mungkin timbul di dalamnya. Praktik qiyafah maupun genetika sama-sama bertujuanuntuk meneliti sifat keturunan yang diturunkan secara turun temurun. Dilihat dari kesamaan fungsidan tujuan ini, maka qiyafah memiliki relevansi dengan ilmu genetika dalam menetapkan nasabseseorang. Dan ketetapan ilmu modern yang berdasarkan hasil tes DNA sama kekuatan hukumnyadengan ketetapan qiyafah perspektik imam Syafi`i.
Melirik Urgensitas Spiritualitas Pada Masyarakat Modern dan Kaitanya Dengan Pendidikan Dalam Kehidupan Abdul Hakim Siregar
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 1, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.373 KB) | DOI: 10.30743/best.v1i2.790

Abstract

Allah mengingatkan manusia bahwa : Kamu akan menyaksikan manusia itu betapa hebatnya mereka mengejar kehidupan dunia, malah ada diiantara manusia itu menyatakan bahwa dunia inilah segalanya (tak ada Tuhan kalau tak ada dunia ini, padahal dunia ini ada kerana ada Tuhan.) , mereka memaksakan dirinya supaya hidup seribu tahun, padahal panjangnya umum seseorang bukan jaminan masuk sorga.- Alquran 2/96. Dengan isyarat ini, perlu rasanaya melirik sejenak bagaimana sebenarnya urgensitas spiritualitas  pada masyarakat modern, dan dengan demikian akan diperoleh manfaat agama sebagai alternatif menenangkan jiwa dan akan menghindarkan diri dari sifat semena-,ena dalam hidup ini. Spiritualitas, merupakan sikap manusia yang memiliki fundamentalitas hidup dan konsisten, yang tidak sependapat dengan sikap tersebut, apapun alasannya, dianggap melanggar hak-hak kemajuan hidup manusia dan mereka yang melanggar hak-hak manusia merupakan beban mental membuat ketidak nyamanan pergaulan, akan terbuka kemungkinan saling salah menyalahkan, perdebatan yang bisa membawa sifat iri hati dan seterusnya. Kehadiran spiritualisme dalam kehidupan manusia modern tidak terlepas dari upaya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dan penjernihan hati ( tashfiyatul qalbi) yang bertujuan untuk menerima kahadiran Tuhan yang Maha pencipta alam semesta dalam semua aktivitasnya dan menandakan keterbatasan manusia dalam sesuatu hal