Tjahjono D Gondhowiardjo
Departement of Ophthalmology, Universitas Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Sudut Pandang dan Tanggung Jawab Profesi Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 43 No 1 (2017): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v43i1.128

Abstract

Dalam era globalisasi infomasi ini, kita selalu dituntut untuk melakukan atau menerapkan semua tindakan atau keputusan berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based). Ironinya, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah tersentuh atau memahami apakah evidence-based itu. Oleh karena itu, edisi ini memuat dua buah makalah meta-analisis yang berupaya untuk menjelaskan tahapan pencapaian kesimpulan yang berdasarkan bukti yang kuat dari berbagai tingkatan kesahihan suatu laporan; baik dalam prosedur diagnose klinik, maupun dalam pola penatalaksanaan terkini. Tanpa kesadaran akan proses pencapaian standar evidence-based, maka dengan mudah kita akan menggunakan suatu jenis obat, hanya berdasarkan hasil suatu makalah, misalnya efek penggunaan myrtogenol yang ditampilkan dalam edisi ini. Disisi lain, perlu disadari bahwa pemahaman dogmatis dari ketentuan evidence-based tsb, mempunyai dampak negatif, yaitu pembatasan terhadap pemikiran kreativitas dan innovasi untuk mengatasi masalah yang ada di negara berkembang, baik karena ketiadaan sarana maupun prasarana; apalagi membuat terobosan untuk kebaruan pengembangan keilmuan. Dengan kata lain, kita akan terus digiring untuk menjadi pengguna teknologi baru berdasarkan pengetahuan yang berkembang di negara-negara industri. Sebagaimana biasanya, makalah yang ditampilkan masih didominasi oleh institusi pendidikan; yang umumnya dibuat oleh peserta didik. Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa seringkali terkesan sebagai output dari tahapan pendidikan, yaitu belajar meneliti dengan membuktikan suatu keadaan / teknologi yang relatif sudah baku. Di sisi lain, hal ini mempunyai nilai positif karena dapat menunjukkan bahwa perlakuan atau tindakan yang sederhana dan baku, seperti metode pencil push up, suntikan oxytetracyclin intra lesi dapat memberi hasil pengobatan yang sesuai dengan harapan. Data retrospektif yang ditampilkan dapat dibaca sekedar sebagai data deskriptif, yang relatif juga merupakan informasi baku; seperti misalnya insiden kekeruhan kapsul posterior lensa pasca operasi katarak, dan keberhasilan tindakan fotokoagulasi laser pada robekan retina. Dari sisi lain, hal itu dapat dilihat, atau digunakan sebagai data pembanding terhadap kualitas pelayanan di insititusinya sendiri atau institusi lainnya. Hal itu disebabkan karena pada hakekatnya kekeruhan kapsul lensa posterior adalah akibat dari ketidaksempurnaan teknik operasi katarak yang kita lakukan; begitu pula dengan robekan retina pasca fotokoagulasi laser terkait dengan kecepatan waktu tindakan, serta ketepatan dosis dan tembakan laser pada proses fotokoagulasi tersebut. Makalah yang membahas perbandingan kadar Placenta Growth factor dengan dan tanpa intervensi Aflibercept; secara tidak langsung menunjukkan bahwa, kita membutuhkan peran disiplin lain untuk dapat memahami perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran secara umum; dan tentunya diharapkan dapat mengembangkannya dengan melakukan inovasi yang lebih spesifik untuk profesi kita. Hal yang serupa dengan laporan penatalaksanaan tumor Triton langsung menunjukkan bahwa tanpa peran pemeriksaan histopatologi maka kondisi mata pasien berpotensi untuk menjadi buta dan bahkan mungkin kematiannya. Kedua contoh tersebut, pada hakekatnya menggambarkan kebutuhan kita untuk dapat bekerjasama baik dalam aspek inter-disiplin, maupun intra-disiplin (baca: sebagai profesi kita sendiri) dengan semangat kolegialitas untuk kemaslahatan pasien-pasien kita, profesi oftalmologi di masa mendatang. Perkembangan profesi yang sehat, menuntut adanya keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan profesi, namun kenyataan menunjukkan bahwa dalam berbagai kegiatan organisasi maupun ilmiah, mayoritas anggota yang berperan sebagai ujung tombak profesi kita di masyarakat dan yang berada di berbagai tingkatan pelayanan kesehatan relative bersikap pasif. Di sisi lain, hal itu merupakan alasan yang mendasar bagi mereka yang mengemban amanah organisasi profesi kita untuk dapat mengarahkan anggota untuk dapat menyamakan persepsi, kemampuan klinis dan keterampilan operatif yang siap untuk beradaptasi dalam gelombang perubahan saat ini dengan diterapkannya sistim Jaminan Kesehatan Nasional dan era pasar bebas ASEAN mendatang.
Dikotomi Paradigma dalam Pendidikan dan Pelayanan Oftalmologi Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 44 No 1 (2018): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v44i1.154

Abstract

Edisi ini menampilkan dua makalah terkait dengan keberhasilan penatalaksanaan trauma bolamata yang dapat mengancam kebutaan. Makalah pertama menunjukkan pentingnya untuk segera melakukan pemeriksaan neuro imaging pada dugaan adanya benda asing intra okular, yang sangat membantu penatalaksaan dan tindakan bedah selanjutnya. Makalah kedua, memperlihatkan bahwa pemberian methylprednisolon intra vena awitan dini (kurang dari 24 jam) pasca trauma tumpul pada syaraf optik (Neuropati Optik Traumatik) dapat memberikan perbaikan tajam penglihatan yang signifikan, walaupun tidak didapatkan adanya faktor-faktor yang bisa dijadikan sebagai prediktor. Disisi lain, ketebalan serabut syaraf retina (RFNL) di kuadrant temporal yang terlihat dengan pemeriksaan digital Optical Coherence Tomography (OCT) dapat menjadi prediktor fungsi penglihatan sentral pada penderita Non Arteritik Iskemik Neuropati (NAION). Secara tidak langsung, ketiga makalah tsb menunjukkan bahwa sekalipun mungkin terdapat ketergantungan kita pada bantuan pemeriksaan imaging digital, namun ketajaman eksekusi klinis tetap harus menjadi hal utama dalam penanganan kedaruratan penglihatan. Kondisi pasien yang berpotensi menyebabkan kebutaan dan relatif sering dijumpai adalah ulkus kornea; yang menurut World Health Organization (WHO) merupakan penyebab kebutaan ke empat di dunia. Sayangnya, makalah deskriptif terkait ulkus kornea yang ditampilkan terasa penuh dengan duplikasi penampilan data (pada teks, grafik atau tabel), sehingga kita kurang dapat menga mbil manfaat pembelajaran. Hal itu, disebabkan karena kurang menampilkan substansi yang seharusnya dapat di tonjolkan, yang justru mungkin menjadi faktor pembeda atau kesamaan (compare and contrast) dengan laporan serupa yang berasal dari insititusi dengan situasi dan lingkungan yang berbeda. Begitu pula dengan kesimpulan yang terasa datar dan umum. Makalah yang menunjukkan adanya keterkaitan yang bermakna pada aktivitas luar gedung yang kurang dari empat (4) jam per hari pada pelajar sekolah dengan kondisi myopia, kedalaman pembahasan-nya akan menjadi lebih tajam apabila dilakukan analisa bi variate. Issu yang menarik ini, telah menjadi dasar kebijakan dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar di Negara maju, yang meng-alokasi-kan sejumlah waktu tertentu bagi para peserta didik untuk beraktifitas /belajar diluar gedung. Katarak, adalah keadaan yang hampir selalu terjadi pada penderita pasca vitrektomi, terutama dengan penggunaan minyak silikon. Tindakan fakoemulsifikasi merupakan treatment of choice untuk keadaan tsb, namun termasuk dalam katagori tindakan yang sulit; sehingga dalam era BPJS ini masuk dalam kriteria yang seharusnya di tangani pada rumah sakit rujukan tipe A. Artikel yang ditampilkan, menunjukkan bahwa tindakan fakoemulsifikasi terbukti dapat meningkatkan kemampuan penglihatan penderita dengan angka komplikasi yang rendah apabila dilakukan oleh operator yang handal, namun kemungkinan terjadi nya re-detachment terpantau meningkat pada penderita yang minyak silikon nya telah dikeluarkan. Hal ini merupakan suatu kenyataan dan implementasi langsung dari konsep “volume pressure” sebagai bagian dari homeostasis regulasi cairan akueous bolamata.
Pola Fikir dan Perilaku Pembelajaran Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 44 No 2 (2018): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v44i2.168

Abstract

Terdapat beberapa hal positif dalam edisi kali ini, yang terkait dengan perkembangan majalah kita bersama ini; yaitu adanya dua sumber makalah yang berbeda dari rutinitas selama ini. Makalah pertama, berasal institusi pelayanan nun jauh di ujung timur negeri kita yang tercinta ini, yang walaupun hanya berupa telaah kepustakaan, namun menampilkan bahasan perkembangan teknologi yang relatif mutahir sebagai penatalaksanaan suatu keadaan klinis yang berpotensi mempunyai prevalensi yang cukup tinggi. Namun, ironi-nya belum banyak dilaporkan oleh sejawat yang berada di kota besar atau institusi pendidikan sekalipun; hal itu mungkin disebabkan karena keterbatasan kemampuan klinis untuk mengenali gejala dan petanda, ataupun karena ketiadaan alat diagnostik. Makalah kedua, adalah laporan penanganan kasus Orbital Cellulitis, berasal dari disiplin THT, namun terkait erat dengan profesi kita dengan topik yang dapat dikatagorikan sebagai kegawatan mata, yang apabila tidak dikenali dan ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kebutaan, atau bahkan kematian. Sejalan dengan itu, telaah kepustakaan mengenai Methanol-induced Toxic Optic Neuropathy dapat di- katagori-kan juga sebagai kegawat daruratan mata. Kedua keadaan ini, tidak jarang kita jumpai, secara tidak langsung menunjukkan rendahnya tingkat pengetahuan dan kondisi sosial masyarakat kita; dan tentunya merupakan bagian dari tugas kita dalam memberikan penyuluhan kesehatan mata. Kedua makalah ini, perlu kita pahami dan dalami dengan sebaik-baik nya, sehingga kita mampu melakukan penanganan dan tindakan dengan tepat dan cepat untuk menghindari terjadi nya kebutaan pada pasien kita. Prinsip dasar dan tujuan suatu teknologi baru adalah “lebih baik (better), lebih cepat (faster), dan lebih murah (cheaper)” dari teknologi baku yang telah digunakan selama ini. Di bidang kedokteran maka penerapan teknologi tentunya harus di dasari dengan prinsip “saver (aman, tidak merugikan pasien)”. Oleh karena itu, semakin canggih suatu teknologi, maka akan tampak semakin sederhana; namun sebagai pengguna (user) seharusnya sebelum diterapkan, kita harus terlebih dahulu memper-luas dan mendalami pengetahuan dasar dan terapan yang terkait dengan teknologi baru tsb. Sedikitnya terdapat beberapa prinsip yang harus kita sadari; suatu teknologi akan berhasil guna secara optimal bila diterapkan pada suatu sistem (techno-system) dan infra-struktur (techno-structure) yang sesuai, karena teknologi dikembangkan oleh seorang pemikir (techno-logist) sesuai dengan filosofi yang di anut-nya (techno- sophy). Pada suatu kebaharuan yang bersifat keterampilan, diperlukan pelatihan tindakan (wetlab); asistensi tindakan dan supervisi untuk memastikan keamanan tindakan dan optimalisasi hasil tindakan. Sesuai dengan tingkat kesulitan dan keamanan tindakan, maka diperlukan pengakuan keterampilan tsb (sertifikat kompetensi). Secara ilmiah, suatu evaluasi/publikasi hasil teknologi baru harus di-dasar-kan pada metodologi yang benar sehingga didapatkan kesimpulan yang sahih, dan dapat dipertanggung jawabkan....
Pergeseran Pola Penyebab Kebutaan dalam Kaitan Analisa Biaya Kesehatan Tjahjono D Gondhowiardjo
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 1 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i1.177

Abstract

Secara global telah diterima bahwa perkembangan kemampuan ekonomi suatu Negara, berjalan parallel dengan peningkatan usia harapan hidup masyarakat-nya. Saat ini, usia harapan hidup penduduk Indonesia, berkisar antara 69 tahun (pria) dan 72 tahun (wanita). Kondisi demograpik ini secara tidak langsung akan terkait dengan pergeseran distribusi pola penyakit, terutama pergeseran pola penyakit berdasarkan infeksi menjadi pola penyakit/keadaan degeneratif yang terkait dengan gaya hidup. Hal itu dapat terlihat pada edisi ini, yang di-dominasi oleh makalah segment posterior yang terkait dengan peningkatan usia harapan hidup dan degenerasi (age related macular degeneration), atau kondisi yang secara tidak langsung merupakan refleksi gaya hidup (Diabetes Mellitus atau kualitas viskositas darah). Kondisi tsb memperlihatkan bahwa, walaupun jaringan bolamata bersifat sangat spesifik dan merupakan suatu kompartemen yang relatif terpisah dengan adanya sawar darah-bolamata, namun tetap terkait dengan berbagai kondisi sistemik; sehingga bolamata dapat menjadi “jendela” kondisi sistemik. Pergeseran pola penyebab kebutaan ke sisi segmen posterior, menuntut peningkatkan peralatan diagnostik digital dan peralatan intervensi yang lebih canggih, seperti foto-koagulasi laser, vitrektomi dan penggunaan berbagai jenis gas, yang tentunya menuntut keterampilan khusus baik bagi operator maupun paramedis-nya; serta pengobatan anti vascular endothelial growth factor (anti VEGF) secara serial yang relatif mahal, sebagaimana ketiga makalah yang ditampilkan. Pergeseran pola penyakit tsb, secara tidak langsung menuntut kita, baik sebagai insititusi pelayanan ataupun pendidikan, maupun sebagai individu untuk ikut menyesuaikan diri, terutama dalam mengembangkan pola fikir untuk selalu dapat memberikan yang terbaik bagi pasien-pasien kita. Namun sayangnya, tanpa sadar kita telah membuat dinding-dinding pembatas yang cenderung membatasi upaya pencapaian tujuan; dan yang relatif dibuat tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi lokal. Berbagai batasan tsb, baik yang terjadi secara internal, maupun external telah membelenggu kita terhadap kemungkinan menumbuhkan daya inovasi maupun kreativitas untuk pengembangan keilmuan demi kemaslahatan masyarakat. Pada era jaminan kesehatan saat ini, pengobatan anti VEGF awalnya mendapat pembiayaan, namun kemudian di hentikan karena pembiayaan terhadap upaya pencegahan kebutaan yang dianggap terlalu tinggi. Hal itu terjadi, antara lain karena penolakan terhadap bukti ilmiah yang menyatakan bahwa sekalipun preparat anti VEGF dengan harga yang lebih murah, terdaftar untuk kondisi lain; namun terbukti tidak ada perbedaan effektivitas dibandingkan dengan jenis obat yang spesifik untuk kelainan mata yang lebih mahal. Selain itu, karena pengabaian pernyataan Badan Kesehatan Dunia yang menyatakan bahwa obat tsb termasuk obat essential untuk pencegahan kebutaan. Penghentian pendanaan itu, merupakan ironi karena di berbagai Negara tetangga dengan pendapatan domestik yang lebih tinggi, justru memperbolehkan penggunaan obat tsb. Di berbagai Negara maju, dasar penentuan prioritas pendanaan pemerintah dibuat berdasarkan kajian biaya penatalaksaan / tindakan langsung, serta kerugian akibat terjadi pengabaian karena hilangnya potensi individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam sisi sosial dan ekonomi bagi Negara (health technology assessment / HTA), berjalan lurus dengan besaran nilai prevalensi, dan Year of Lost Life due to Disability (YLD) serta (disability of activity loss / DALY) akibat suatu kondisi / penyakit. Nilai YLD dan DALY menampilkan besaran kehilangan produktivitas individu, akibat suatu penyakit dan dampaknya pada besaran biaya kesehatan yang harus ditanggung; data tersebut dibandingkan dengan nilai serupa untuk penyakit/keadaan lain, seperti stroke, gangguan kardio-vaskular, berbagai jenis kanker dll.