Muhammad Imdad
Dosen Universitas Nurul Jadid, Jember Jawa Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tau×Ôd Ahlussunnah Wal-Jamā’ah: Antara Imām Al-Asy‘Arī dan Ibn Taymiyyah Muhammad Imdad
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.118

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana al-Asy'arī dan Ibnu Taymiyyah merumuskan konsep tauÍÊd dengan menguraikan kesamaan dan perbedaan mereka. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dan teknik analisis deskriptif, penulis memaparkan hasil tulisan ini secara gamblang dari masing-masing pemikiran para tokoh. Adapun pembahasan dari penelitian ini yaitu: Secara umum, perbedaan antara keduanya tidak mengecualikan keduanya, dan pengikut mereka dari Ahlussunnah. Untuk itu, pemahaman ahlussunnah dan tolok ukurnya akan terlebih dahulu disebarkan. Dan kesimpulannya yaitu: Terdapat beberapa perbedaan yang dapat dicatat dari perbandingan kedua konsep tauÍÊd. Di antaranya, keduanya memberi penekanan berbeda dalam formulasi tauÍÊd. Konsep tauÍÊd Al-Asy‘arī, yang dalam pembentukannya lebih banyak merespon kemunculan aliran-aliran non ahlussunnah saat itu, lebih bersifat intelektual-rasional, suatu kecenderungan yang diwarisi oleh pengikutnya. Ibn Taymiyyah, di sisi lain, yang lebih banyak merespon kondisi internal Ahlussunnah wa ’l-JamÉ’ah pada zamannya, membangun konsep tauÍÊdnya secara relatif lebih detail dan lengkap, dengan menghubungkan aspek kognitif dan praktis. Perbedaan lainnya dapat dilihat dari cara pandang terhadap hubungan antara kata al-ilah dan al-rabb. Konsep tauÍÊd al-Asy‘arī menegaskan bahwa keduanya memiliki makna dasar berbeda tapi memiliki signifikansi (madlËl) yang sama sehingga tidak terbayangkan mengimani salah satunya beserta pengingkaran terhadap yang lain. Namun keduanya sepakat mengimani semua berita yang datangnya dari al-Quran dan hadits yang mendeskripsikan Sifat Allah swt tanpa hal itu berimplikasi pada penyamaan pada makhluk. Keduanya juga sepakat bahwa Allah swt Maha Esa, tak ada yang menyerupai-Nya dalam Sifat dan Nama-Nya, tak ada yang membantunya dalam mencipta dan mengatur seluruh makhluk. Di samping hal-hal lain yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadits yang pasti makna dan transmisinya (qath‘iyu ’l-dalÉlah wa ’l-wurËd).