Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REPRESENTASI PASAR TUMPAH DI SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI REALITAS SOSIAL DALAM KARYA SKETSA Ardianti Permata Ayu; Hafid Alibasyah
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 5 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1470.629 KB) | DOI: 10.52969/jsnc.v5i2.80

Abstract

Pasar tumpah dapat dikatakan sebagai fenomena sosial yang terjadi di ruang publik, juga dapat digolongkan sebagai pasar tradisional yang mempunyai relasi langsung dengan realitas kemasyarakatan, menyajikan barang jualan dengan tanpa berhias---spontan, jujur, apa adanya, tidak memikirkan penataan atau display tertentu---, bersifat arbitrer, dalam ruang temporal karena tidak permanen, bahkan terkadang menunjukkan adanya kontestasi dalam keberlangsungannya. Adapun segala bentuk permasalahan yang ditimbulkan---kemacetan, mengotori lingkungan tetap membuat kegiatan ini terus berlangsung dan menjamur di pelbagai daerah. Dalam hal ini konteks-konteks sosial, seperti relasi kuasa dan ‘supply-demand’ dihubungkan dengan waktu dan peristiwa, ikut berperan dalam membangun pasar tumpah. Studi ini mengkaji pergulatan konteks sosial yang terjadi di pasar tumpah khususnya di Jalan Suryakencana, kota Bogor. Adapun realita dan konteks sosial yang ada di pasar tumpah tersebut menjadi dasar bagi pengamatan kesenirupaan, sebagai konsep visual, yang akan direpresentasikan ke dalam penciptaan karya seni visual yaitu sketsa. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif, yang dilakukan melalui observasi langsung dan studi literatur dengan pendekatan kajian budaya.
Hubungan Susastra Pada Gambar Studi Kasus Komik Setangkai Daun Sorga Karya Taguan Hardjo Hafid Alibasyah
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 6 No 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v6i2.101

Abstract

Komik Medan tak berbeda dengan banyak komik lain yang diminati oleh banyak orang. Komik Medan mempunyai perjalanannya sendiri, berupa spirit yang datang dari kehendak perlawanan terhadap hegemoni era penjajahan, meninggalkan pengaruh imperialisme dalam banyak lini kehidupan. Latar belakang ini menjadi inspirasi bagi sebuah perlawanan dengan menghidupkan kembali riwayat dongeng, hikayat, cerita kerakyatan sebagai tema-tema yang telah lama dikenali turun-temurun Dan hal ini memberikan spirit kelahiran sebuah identitas yang menjadikan komik Medan mempunyai kekhususan. Tema-tema semacam inilah yang kemudian mencari bentuk ungkap serta tampilannya. Antara susastera dengan ungkapan visual, telah menjadikan komik Medan menemukan semacam pakem dari suasana kelokalan, figur serta latar belakang visualnya. Kostum figur- figur pelakunya diupayakan menjelaskan apa dan bagaimana sikap hidup dalam budaya setempat. Komik Medan dengan semangat kelokalannya, melibatkan potensi kearifan ajaran benar, serta bermoral baik melalui susastera. Penelitian Bersifat non benda (intangible) sebuah cara pandang terhadap Sastra Visual, pemaknaan suatu karya komunikasi sebagai sesuatu yang terlihat, terbaca dan terasa mengungkap hubungan susastra dengan visual/gambar-gambar yang terdapat dalam komik Medan, dan berupaya pengembangan model-cara melihat dengan mengejar tahu ragam ungkap tertentu dari sesuatu hal yang mempengaruhi dari seorang seniman komikus yaitu Taguan Harjo. Pemilihan Taguan Harjo sebagai sampling mengingat prestasi jumlah produk komiknya serta anggapan kedekatan aspek gambar dengan susastera pada karyanya. Salah satu karya komik Taguan yang berjudul “Setangkai Daun Sorga”, adalah merupakan intepretasi dari sastra Perancis, memperlihatkan pengungkapan kata menjadi visualisasi telah membentuk identitas yang berbeda. Sebagai contoh, muatan kata sebagai pengikat cerita dituliskan bergabung dengan halaman gambar tanpa bingkai kata-kata atau bidang balon, seperti lazimnya banyak tampilan komik yang lain. Penelitian ini mengetengahkan telusuran sebuah komik ciptaan dengan mengupas posisi naskah susastera dalam bandingan sastra terjemahan ke dalam gejala bahasa lokalnya kepada bentukan komik-intergrasi kata dan pengadeganan dalam gambar. Komik kemudian dapat dilihat bukan saja sebagai permainan gambar dan runtutan peristiwa, bahkan sebagai kebudayaan, komik dinikmati sebagai ruang baru dalam berekspresi dalam atmosfir susastera.