Nurcahaya Gea
STT Banua Niha Keriso Protestan Sundermann Nias

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hakikat Pelayan Jemaat dari Perspektif Allah: Studi Hermeneutik terhadap Metafora dalam 2 Korintus 2:14a Nurcahaya Gea
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 12 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.23

Abstract

Artikel ini ditulis dalam rangka membantu para Pendeta Jemaat menjawab pergumulan mereka oleh karena tuntutan Jemaat terhadap kriteria pendidikan dan kecakapan yang harus mereka miliki, untuk merespons perkembangan zaman. Tuntutan tersebut mendorong para pelayan berusaha memenuhinya dengan menempuh pendidikan atau pelatihan atas usaha sendiri. Namun di sisi lain, hal itu menimbulkan problema baru. Para pelayan semakin kurang mengandalkan kekuatan spiritualitas dalam melayani. Pelayanan semakin berorientasi pada prestasi. Akibatnya tidak sedikit pelayan yang lupa akan hakikat pelayanan. Tingginya biaya untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan, yang tidak diimbangi oleh kemampuan Jemaat menanggulangi biaya hidup pelayan, menyebabkan pelayanan pelayan berorientasi pada kepentingan dirinya. Untuk menjawab pergumulan tersebut, penulis menyodorkan perspektif lain tentang hakikat pelayan, dengan menelusuri pengalaman dan pandangan Paulus, melalui kajian literatur, dengan melakukan studi hermeneutik atas 2 Korintus 2:14a. Ayat tersebut mengandung sebuah metafora, yakni tawanan perang, yang digunakan Paulus untuk mengemukakan pembelaannya terhadap kerasulannya, yang sedang mendapat serangan dari pihak luar Jemaat, yang berhasil memprovokasi Jemaat Korintus, sehingga Jemaat itu mulai menilai Paulus berdasarkan tradisi pada waktu itu, yaitu mengandalkan kemampuan manusia. Dengan ukuran itu mereka menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Menghadapi tuduhan tersebut, Paulus menggambarkan kerasulannya dengan menggunakan metafora tawanan perang yang rela dipermalukan dan digiring ke dalam maut (2 Kor 2:14a) demi kemuliaan sang pemenang yang menawannya. Melalui metafora itu, Paulus mendemonstrasikan pelayanan Yesus, yang rela menyerahkan diriNya ke dalam maut untuk melakukan kehendak BapaNya. Untuk itu Paulus memandang bahwa kemampuannya melayani tidak dengan mengandalkan usaha-usaha manusia, melainkan kemampuan yang semata-mata berasal (keluar) dari Allah saja.
Menang Tanpa Konfrontatif: Studi tentang Konsep Kemenangan dalam Masyarakat Nias Nurcahaya Gea
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 13 No. 2 (2020): December 2020
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v13i2.44

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana masyarakat Nias memahami konsep kemenangan; apakah konsep tersebut masih hidup di tengah kehidupan masyarakat Nias; serta bagaimana masyarakat merespon berbagai tantangan, baik masalah kemiskinan maupun bencana yang ada di sekelilingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bauran metode penelitian sejarah dan fenomenologi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis tematik dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenangan bagi masyarakat Nias (Ono Niha) adalah memperoleh lakhömi sebagai refleksi dari pola hidup di Teteholi Ana'a, mencakup fetaro atau bosi (strata), fokhö  atau fo'ana'a (harta), fo'onekhe (pendidikan) dan fa'abölö (kekuatan), serta fonga'ötö (keturunan). Karena itu seluruh aktivitas hidup diarahkan untuk memperoleh lakhömi itu. Tradisi ini tidak pernah musnah, terus tampak dalam kehidupan kesehariannya, walaupun dalam cara dan bentuk yang berbeda. Terungkap juga bahwa Ono Niha selalu berusaha mencari alternatif tanpa konfrontatif dalam menghadapi permasalahan, demi mencapai kemenangan. Sikap hidup solutif yang ditampilkan adalah dengan cara mundur atau berpisah sebagai jalan alternatif tanpa konfrontatif. Masyarakat Nias secara khusus pada konteks penelitian memahami sumber penderitaan sebagai amarah Tuhan karena tidak mematuhi perintah-Nya. Pandangan dan sikap tersebut terlihat tidaklah solutif terhadap persoalan yang ada. Menyalahkan Tuhan, roh-roh jahat dan lainnya sebagai sumber penderitaan adalah pandangan tradisional yang masih dilingkupi oleh pemahaman kosmologi dunia atas dan dunia bawah, dimana dewa-dewi mau mempersulit manusia.