Usman Thalib
Dosen Pendidikan Sejarah, Universitas Pattimura, Ambon.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEJARAH BAHARI ORANG BANDA: Menelusuri Jejak Kebaharian Orang Banda Yang Hilang Usman Thalib
PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol 2 No 1 (2016): PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah perairan Indonesia sebagai kesatuan dari berbagai macam satuan bahari (sea systems), maka proses integrasi dapat difahami berdasarkan sejarah masing-masing sistem itu yang kian berkembang menjadi satuan yang lebih besar, seperti laut Banda, laut Flores dan laut Jawa yang pada masa kemudian menjadi wilayah inti dari kepulauan Indonesia. Penelitian ini pada intinya mempersoalkan kaitan antara Banda sebagai produsen tunggal buah pala dengan perdagangan pala serta jaringan pelayaran niaga, dimana orang-orang Banda terlibat langsung sebagai pelaut sekaligus pedagang yang mengantar-pulaukan rempah-rempah termasuk cengkih. Sejalan dengan itu unsur pengetahuan menjadi penting, terutama yang terkait dengan teknologi pembuatan perahu dalam berbagai jenis, ketrampilan navigasi yang disertai dengan pengetahuan geografi untuk mengenal lokasi-lokasi yang dikunjungi serta hidrologi untuk mengetahui arus laut pada waktu-waktu tertentu. Dengan metode kualitatif melalui tahap heuristic, kritik sumber dan interpretasi atas data serta historiografi, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi ekologis kepulauan Banda dan eksistensi Pala sebagai komoditas perdagangan adalah factor yang memicu lahirnya masyarakat bahari Banda yang memiliki pengetahuan dan pandangan tentang laut dengan segala aspek kebahariannya. Sejarah sosial masyarakat Banda memperlihatkan adanya perkembangan komunitas dengan ciri-ciri yang sangat berbeda. Pada era pra kolonial, inisiatif dan aktivitas dunia kebaharian didominasi dan ditentukan oleh komunitas Asli Banda.Sedangkan pada era kolonial (penjajahan) inisiatif dan aktivitas dunia kebaharian didominasi dan ditentukan oleh pihak penjajah.Sementara pada era pasca kolonial telah terbentuk sebuah komunitas Banda Baru yang merupakan campuran dari berbagai etnik yang membentuk sebuah etnik baru yang bisa dilabelkan sebagai komunitas Banda Baru.
ORANG BANDA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH MARITIM Usman Thalib
PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol 3 No 1 (2017): PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini menggunakan pendekatan sejarah maritim dengan fokus masalah pada bagaimana orang-orang Banda memanfaatkan laut dalam kaitannya dengan perdagangan antar pulau, armada pelayaran dan teknologi penangkapan ikan. untuk mendapatkan gambaran historis dari ketiga aspek tersebut digunakan paradigma penelitian kualitatif dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian membuktikan bahwa; (i) orang-orang Banda telah menggunakan laut sebagai sarana perdagangan antar pulau sejak sebelum abad ke-16. Perdagangan antar pulau itu melalui kota-kota pesisir di pantai utara Jawa, pantai timur sumatera dan terus ke Malaka. Bahkan mereka memiliki pemukiman tersendiri Di Malaka. Armada dagang orang-orang Banda tidak tidak saja mengangkut pala dan fuli dari Banda Neira, tetapi juga mengangkut cengkih dari Ternate dan di antar pulaukan sampai ke Malaka. (ii) Armada pelayaran orang-orang Banda terdiri dari berbagai jenis untuk berbagai kepentingan. Armada pelayaran samudera untuk kepentingan perdagangan antar pulau, sedangkan armada pelayaran pesisir untuk kepentingan penangkapan ikan. (iii) Tenologi penangkapan ikan orang-orang Banda terdiri dari berbagai jenis alat pancing, berbagai jenis jaring dan berbagai jenis perangkap. Hasil tangkapan selain dipasarkan di pasar lokal, juga diantarpulaukan ke kota Ambon, Seram bagian Selatan dan Tual di Maluku Tenggara.