Artikel ini membandingkan karakter mendasar dari tiga paradigma arus utama (mainstream) dalam kajian hubungan internasional, yaitu realisme klasik, liberalisme, dan marxisme. Perspektif dunia dalam realisme diibaratkan sebagai tatanan bola billiard, bahwa negara bangsa menjadi aktor utama. Negara mencoba untuk memenuhi kepentingannya menggunakan power yang dimiliki. Power sebagai sebuah kapabilitas negara untuk bertindak. Setiap negara adalah berdaulat (sovereignty) dan dapat menentukan arah kebijakannya sendiri (self-determination) sehingga realisme menganggap bahwa negara adalah sebuah entitas tertinggi dalam sistem internasional. Tatanan dunia menurut Perspektif Liberalisme diibaratkan sebagai jejaring laba-laba. Liberalisme memiliki pandangan yang positif pada sifat manusia, dan yakin dengan sifat tersebut akan terjalin kerja sama yang baik sehingga tercapailah perdamaian dunia. Aktor hubungan internasional bagi Liberalisme tidak hanya negara, tetapi juga aktor-aktor lain dalam kerja sama transnasional seperti organisasi internasional, perusahaan multinasional, dan lain-lain. Marxisme memandang tata dunia saat ini seperti seekor gurita. Dalam pandangan kaum Marxis, sistem internasional merupakan sistem kapitalis yang selalu mengejar akumulasi modal. Kesetaraan dan kebebasan merupakan hal yang dijunjung tinggi, negara dikendalikan oleh kepentingan kaum borjuis selaku pemilik modal. Marxis juga meyakini bahwa suatu saat revolusi politik akan mampu menghapuskan sistem kapitalis dan akan digantikan oleh sistem sosialis. Melalui upaya perbandingan dan analisis ketiga pendekatan klasik ini, penulis berargumen bahwa realisme klasik merupakan perspektif penting yang paling dibutuhkan dalam kajian hubungan internasional.