Abdul Majid
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UNSIQ

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FILSAFAT AL-FARABI DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN ISLAM Abdul Majid
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1597

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengupas tentang filsafat al-Farabi dalam praktek pendidikan Islam. Dimana al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Dalam hal ini Al-Farabi dapat juga disebut sebagai penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang sebenarnya, Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya Aristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin “Harmonisasi pendapat Plato dan Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yang memadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atau Abu naser. Filsafat al-Farabi yang demikian merekonstruksi praktek pendidikan Islam untuk mengembangkan adanya integralitas antara pemikiran naturalisme dan nativisme dengan empirisme. Perpaduan antara keyakinan akan pentingnya pembawaan, namun tetap memperhatikan adanya pengaruh pengalaman empirik seorang warga belajar. Dalam konteks pembelajaran, seorang guru bisa memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat mengembangkan potensi-potensi, bakat, minat peserta didik untuk menemukan jati dirinya sendiri pada eranya.