Yafet Kala Pandu
Universitas Sanata Dharma

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PREDIKSI PENDUDUK KABUPATEN ALOR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PERTUMBUHAN LOGISTIK PADA BEBERAPA TAHUN MENDATANG Yafet Kala Pandu
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika Vol 2 No 1 (2020): Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika | Desember 2019 - Mei 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/asimtot.v2i1.502

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui hasil prediksi pertumbuhan penduduk di Kabupaten Alor dengan menggunakan model populasi logistik. Dan (2) mengetahui jumlah penduduk Kabupaten Alor pada tahun 2030 dari hasil estimasi menggunakan model pertumbuhan logistik. Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka. Instrumen penelitian yang digunakan adalah buku, jurnal dan internet. Metode pengumpulan data diperoleh melalui kajian pustaka berupa buku – buku jurnal dan internet. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2019. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Untuk melakukan proyeksi penduduk dengan menggunakan model logistik maka terlebih dahulu ditentukan nilai maksimum penampungan (carrying capacity) yang nilai variabelnya . Setelah menentukan nilai kita menghitung semua bentuk logistik yang dari persamaan P07. Dari model – model yang telah diperoleh dapat membandingkan dengan hasil sensus dan dilihat model yang paling akurat untuk dijadikan sebagai model akhir untuk melakukan prediksi jumlah di masa mendatang. Dari makalah ini diperoleh model logistik VI lebih akurat untuk memprediksi jumlah penduduk kabupaten Alor dengan daya tampung 293669 jiwa. Bentuk persamaan dari model logistik VI (2) Dengan menggunakan model logistic VI dapat diprediksi jumlah penduduk kabupaten Alor pada tahun 2030 yakni sebanyak jiwa.
KAJIAN ETNOMATEMATIKA TERHADAP MOKO SEBAGAI MAS KAWIN (BELIS) PADA PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT ALOR Yafet Kala Pandu; Suwarsono
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika Vol 2 No 2 (2020): Asimtot: Jurnal Kependidikan Matematika | Juni 2020 - November 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/asimtot.v2i2.768

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko sebagai mas kawin di Alor (2) mengetahui sejarah serta makna penggunaan moko sebagai mas kawin di Alor. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Alor yang mana diwakili oleh 2 orang warga yang merupakan tua adat. Objek dalam penelitian ini adalah sejarah dan makna moko, aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) sejarah penggunaan moko sebagai belis di masyarakat alor berasal dari budaya Dongson yang berpusat di Vietnam Utara. Penggunaan moko sebagai belis dalam kehidupan masyarakat Alor adalah sebagai tradisi nenek moyang yang telah melakukan sumpah dan komitmen sebagai mahar atau mas kawin. Makna Penggunaan moko sebagai Belis adalah sebagai sakralitas perkawinan, sosial, identitas masyarakat Alor, konservasi. (2) Aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko sebagai belis di masyarakat alor adalah menghitung, mengukur, mendesain, locating dan playing. Ditemukan konsep-konsep matematika sebagai pola dalam membuat moko. Konsep matematika yang terkandung dalam moko adalah tabung, lingkarang, belah ketupat. Hal ini menunjukan bahwa matematika tumbuh dan berkembang dalam keteraturan adat masyarakat tertentu yang disebut dengan istilah etnomatematika. Konsep matematika pada moko dapat digunakan dalam proses pembelajaran dan juga untuk memperkenalkan budaya, diharapkan juga cara penerapan proses pembelajaran berbasis budaya.