Rani Himayani
Departemen Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Diagnosis dan Tatalaksana Oklusi Pembuluh Darah Retina Sentral Aulia Nur Fadilah; Rani Himayani; Mukhlis Imanto
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 4 No 1 (2022): Februari 2022, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v4i1.766

Abstract

Oklusi arteri retina sentral (CRAO) merupakan salah satu keadaan kegawatdaruratan mata. Diagnosis dan tatalaksana dari CRAO yang cepat dan tepat penting dilakukan karena CRAO dapat mengakibatkan keadaan kehilangan penglihatan permanen jika terjadi keterlambatan penanganan. Insidensi dari CRAO di Amerika Serikat yaitu 1 dari 10.000 pasien rawat jalan dan di negara Jepang sendiri, berdasarkan Database of Health Insurance Claims pada tahun 2011-2015, insiden dari CRAO cukup tinggi yaitu 5.84 (95% CI, 5.71 – 5.97) per 100.000 penduduk per tahun. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui diagnosis dan tatalaksana dari CRAO. Artikel ini ditulis menggunakan metode literature review yang dilakukan dengan literature searching dari berbagai jurnal baik nasional serta internasional dari tahun 2008 – 2021 dan dipilih 19 artikel dan 2 buku. Penulis mendapatkan refrensi dari database NCBI, Pubmed, dan Google Scholar dengan kata kunci “Central Retinal Artery Oclusions”, “Diagnosis CRAO”, dan “Management CRAO”. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap artikel yang didapatkan dengan menggunakan metode systemic literature review, termasuk di dalamnya kegiatan pengumpulan, evaluasi, dan pengembangan penelitian dengan fokus tertentu. Pasien dengan CRAO biasanya mengalami kehilangan pandangan unilateral secara mendadak yang tidak disertai dengan rasa nyeri dan pada funduskopi biasanya didapatkan cherry red spot. Untuk penatalaksanaannya, dilakukan triase di unit gawat darurat terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan penatalaksanaan farmakologi dan dapat dilanjutkan dengan pembedahan.
Diagnosis dan Tatalaksana Oklusi Pembuluh Darah Retina Sentral Aulia Nur Fadilah; Rani Himayani; Mukhlis Imanto
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 4 No 1 (2022): Februari 2022, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v4i1.766

Abstract

Oklusi arteri retina sentral (CRAO) merupakan salah satu keadaan kegawatdaruratan mata. Diagnosis dan tatalaksana dari CRAO yang cepat dan tepat penting dilakukan karena CRAO dapat mengakibatkan keadaan kehilangan penglihatan permanen jika terjadi keterlambatan penanganan. Insidensi dari CRAO di Amerika Serikat yaitu 1 dari 10.000 pasien rawat jalan dan di negara Jepang sendiri, berdasarkan Database of Health Insurance Claims pada tahun 2011-2015, insiden dari CRAO cukup tinggi yaitu 5.84 (95% CI, 5.71 – 5.97) per 100.000 penduduk per tahun. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui diagnosis dan tatalaksana dari CRAO. Artikel ini ditulis menggunakan metode literature review yang dilakukan dengan literature searching dari berbagai jurnal baik nasional serta internasional dari tahun 2008 – 2021 dan dipilih 19 artikel dan 2 buku. Penulis mendapatkan refrensi dari database NCBI, Pubmed, dan Google Scholar dengan kata kunci “Central Retinal Artery Oclusions”, “Diagnosis CRAO”, dan “Management CRAO”. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap artikel yang didapatkan dengan menggunakan metode systemic literature review, termasuk di dalamnya kegiatan pengumpulan, evaluasi, dan pengembangan penelitian dengan fokus tertentu. Pasien dengan CRAO biasanya mengalami kehilangan pandangan unilateral secara mendadak yang tidak disertai dengan rasa nyeri dan pada funduskopi biasanya didapatkan cherry red spot. Untuk penatalaksanaannya, dilakukan triase di unit gawat darurat terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan penatalaksanaan farmakologi dan dapat dilanjutkan dengan pembedahan.
FAKTOR RISIKO COMPUTER VISION SYNDROME PADA MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG Debby Cinthya Damiri Valentina; M Yusran; Riyan Wahyudo; Rani Himayani
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 7 No 2 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.2 Edisi Mei - Oktob
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v7i2.50

Abstract

ABSTRACT Introduction: Computer vision syndrome (CVS) is a syndrome that occur due to excessive interaction with computers. Individual, environmental, and computer related risk factors increase CVS prevalence and cause eyes, visual, and extraocular related symptoms. This research aims to observe the relation between risk factors and CVS prevalence in students of Computer Science Major of Mathematics and Natural Sciences Faculty of Lampung University. Method: This research was an analitic survey with cross sectional study. Samples consisted of 56 students of 2014-2016 class year using proportional stratified random sampling techniques. This research used questionnaires and direct measurement of eyes distance and angle gaze of respondents. Collected datas then were analyzed by using univariate and bivariate analysis. Result: The prevalence of CVS obtained from samples was 39 students (69,6%). Statistic tests between risk factors and CVS are listed as follow, gender (p=0,909 OR=1,069), working years (p=0,007 OR=6,188), daily duration of computer exposures (p=0,022 OR=7,708), wearing spectacles (p=0,043 OR=8,000), taking a break (p=0,111 OR=2,786), eyes distance (p=0,028 OR=3,750), and angle gaze (p=0,047 OR=5,000). Conclusion: The significantly related risk factors to CVS were working years, daily duration of exposures, wearing spectacles, eyes distance, and angle gaze towards computer monitors. Keywords: computer vision syndrome, risk factors