Desi Rahmalia
Universitas Respati Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Residen Pada Program TC Sebelum Mengikuti Voluntary Conselling Test (VCT) Di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Tahun 2017 Richa Febriana Sari; Desi Rahmalia
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.626 KB) | DOI: 10.52643/jukmas.v2i2.581

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi penyakit yang pandemic, menyerang jutaan penduduk di dunia yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. HIV merupakan virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh yang dapat menularkan virusnya melalui hubungan seks beresiko dan menggunakan alat suntik. Voluntary Counseling Test (VCT) merupakan pintu masuk untuk membantu masyarakat mendapatkan pelayanan mengenai tes HIV, baik berupa informasi, edukasi, therapy dan dukungan psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan residen pada Program TC sebelum mengikuti Voluntary Conselling Test (VCT) di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Jumlah populasi berjumlah 250 orang dengan sampel penelitian 92 responden yaitu responden yang melakukan Rehabilitasi pada fase Entry Unit dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (Chi Square α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara perilaku dengan kecemasan residen mengikuti pemeriksaan VCT,  (P value = 0,018 dengan OR = 1,318) , sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kecemasan residen mengikuti pemeriksaan VCT dengan pvalue > α (0,05) adalah Pengetahuan HIV/AIDS (P value= 0,904) dan dukungan keluarga (P value = 0,757). Saran peneliti adalah diharapkan Dinas Kesehatan dapat memberikan informasi-informasi kesehatan melalui poster atau media layanan masyarakat yang berkaitan dengan  HIV/AIDS dan VCT, masyarakat juga diharapkan untuk menambah pengetahuan tentang HIV/AIDS dan VCT agar memahami bahwa VCT itu penting dalam upaya pecegahan HIV/AIDS.Kata kunci : HIV/AIDS, VCT, kecemasan, perilaku, pengetahuan dan dukungan keluarga
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pedagang dalam Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Jajanan Anak Sekolah di SDN TelukPucung VII Kota Bekasi Tahun 2019 Yeti Miratania; Desi Rahmalia
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.822 KB) | DOI: 10.52643/jukmas.v3i2.601

Abstract

Penggunaan bahan tambahan pangan digunakan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan nya. Bahan tambahan pangan (Food Additive) dan zat kimia berupa pemanis, penyedap, pengawet, antioksidan, aroma, pengemulsi/pengental, zat gizi, pewarna dan lain-lain. Banyak pedagang jajanan menggunakan bahan tambahan pangan secara berlebihan hanya untuk mendapatkan keuntungan tanpa mementingkan kesehatan konsumen nya . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pedagang dalam penggunaan bahan tambahan pangan jajanan anak sekolah di SDN Teluk Pucung VII Kota Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Jumlah populasi dan sampel sebanyak 35 responden yaitu pedagang jajanan anak sekolah dengan menggunakan teknik Total Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan melakukan uji kimia makanan jajanan dengan menggunakan Chem Kit. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (Chi Square α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan terhadap Perilaku Pedagang P value = 0,012 dengan OR = 11.5, ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku pedagang P value = 0,003 dengan OR = 36, ada hubungan yang signifikan antara Pembinaan dan pengawasan terhadap Perilaku Pedagang P value = 0,009 dengan OR = 17, 3 . Saran peneliti adalah Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan dan pembinaan secara rutin kepada pedagang makanan jajanan Anak Sekolah di SDN Teluk Pucung VII, mengenai bahaya penggunaan bahan tambahan dan akibatnya terhadap kesehatan, dan pedagang yang masih menggunakan bahan tambahan yang berbahaya wajib diberikan teguran secara lisan dan peringatan secara tertulis, atau berikan sanksi tidak diperbolehkan berjualan. Kata kunci  : Bahan Tambahan Pangan, makanan jajanan sekolah, pengetahuan, sikap, pembinaan dan pengawasan
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Skabies pada Santri Putra di Pondok Pesantren Darurrahmah Gunung Putri Bogor Fika Rachma Nisa; Desi Rahmalia
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.233 KB) | DOI: 10.52643/jukmas.v3i1.591

Abstract

Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah penyakit kulit. Penyakit skabies ditularkan melalui dua cara yaitu secara kontak langsung dan tidak langsung. Penyakit skabies banyak ditemukan pada tempat yang berpenghuni padat ditambah lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya salah satunya adalah pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren Darurrahmah, Gunung Putri, Bogor tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Jumlah populasi berjumlah 227 orang, sampel penelitian 66 responden yaitu santri putra dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung di lingkungan pondok pesantren. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (Chi Square α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian penyakit Skabies P value = 0,047 dengan OR = 3,9. Ada hubungan yang signifikan antara Personal Higiene dengan kejadian penyakit Skabies P value = 0,000 dengan OR = 13,71. ada hubungan yang signifikan antara ventilasi kamar dengan kejadian penyakit Skabies P value = 0,047 dengan OR = 3,78. Ada hubungan yang signifikan antara Kepadatan hunian dengan kejadian penyakit Skabies P value = 0,037 dengan OR = 4,2. Saran peneliti adalah santri untuk merapihkan, membersihkan dan membuka jendela kamar setiap harinya, meningkatkan kebersihan diri santri dengan tidak pinjam meminjam baju, mandi secara teratur, tidak menggunakan handuk yang masih lembab dan menjemur kasur.Kata kunci : skabies, pesantren, personal higiene, ventilasi kamar, kepadatan hunian
Hubungan Pengetahuan dan Faktor Lingkungan dengan Praktik Personal Hygiene saat Menstruasi pada Remaja Putri di Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Desi Rahmalia; Asyifa Robiatul Adawiyah; Dini Indah Lestari; Izattul Azijah
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jukmas.v10i1.6846

Abstract

Personal hygiene practices during menstruation are an important aspect of maintaining the reproductive health of adolescent girls. Poor hygiene during menstruation can increase the risk of reproductive tract infections. However, many adolescent girls still pay little attention to menstrual hygiene, such as changing sanitary pads less than twice a day, not washing their hands before and after changing pads, not changing underwear regularly, and disposing of used pads carelessly. This study aimed to examine the relationship between knowledge and environmental factors with personal hygiene practices during menstruation among junior high school girls. A cross-sectional design was used with a total of 53 eighth-grade students at SMP Negeri 19 Bekasi, selected through purposive sampling. The research instrument was a questionnaire and data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between knowledge and personal hygiene practices during menstruation (p = 0.03; p < 0.05). In addition, there was a significant relationship between the home environment and personal hygiene practices (p = 0.046; p < 0.05). However, no significant relationship was found between the school environment and personal hygiene practices (p = 0.72; p > 0.05). It can be concluded that knowledge and the home environment very important role in menstrual personal hygiene practices