Misrawatie Goi
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI PENGGUNAAN MINYAK GORENG OLEH PEDAGANG PISANG GORENG DI KECAMATAN KOTA TENGAH KOTA GORONTALO Misrawatie Goi; Yade Kurnia Yasin; Zul Ilyas Mohamad
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 3, No 1 (2017): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v3i1.123

Abstract

ABSTRACT The usual cooking in the household has a very little effect on the fat content, but long-term heating like frying for several times can cause negative impact.The essential fatty acids will be damaged and toxic polymerase products are formed.The purpose of this study is to determine the type of cooking oil used and the frequency of frying in Kota Tengah, Gorontalo. The research methodology is descriptive research type with Cluster Sampling. The respondents were 7 respondents. The results showed that from 7 respondents a total of 5 respondents (71.4%) use a type of branded and 2 (28,6%) are unbranded. Meanwhile, 6 respondents (85,7%) used cooking oil which does not meet the health requirements (>2 times used). Only 1 respondent (14,3%) used healthy cooking oil. Conclusion: most of respondents used branded cooking oil but do not meet the health requirements. Keywords: type, usage, cooking oil ABSTRAK Pemasakan yang biasa dilakukan pada rumah tangga sedikit sekali berpengaruh terhadap kandungan lemak, tetapi pemanasan dalam waktu lama seperti penggorengan untuk beberapa kali, maka asam lemak esensial akan rusak dan terbentuk produk polymerase yang beracun. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis minyak goreng yang digunakan dan frekuensi penggunaan minyak goring setiap penggantian minyak gorengdi Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo. Metodologi penelitian menggunakan jenis penelitian Deskriptif dan cara pengambilan sampel menggunakan Cluster Sampling. Responden penelitian sebanyak 7 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 7 responden sejumlah 5 responden (71,4%) menggunakan jenis minyak goring bermerek dan yang tidak bermerek sejumlah 2 responden (28,6%). Sedangkan responden yang menggunakan minyak goreng yang tidak memenuhi syarat kesehatan (>2 kali penggoreng) sejumlah 6 orang (85,7%)dan yang memenuhi syarat sejumlah 1 responden (14,3%). Kesimpulan ialah sebagian besar responden menggunakan jenis minyak goreng yang bermerek yaitu sebesar 71,4% dan sebagian besar responden menggunakan minyak yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 85,7%. Kata Kunci: Jenis Minyak Goreng, Aktivitas Penggunaan, Minyak Goreng
PENANGANAN GIZI PADA CELIAC DISEASE Misrawatie Goi
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 3, No 2 (2017): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v3i2.128

Abstract

ABSTRACT Celiac disease occurs in 1% of the child and adult population. In adulthood, there are 2-3 times more women than men. The disease is not only known in Europe but also in the Middle East, Asia, America, and Africa. Although many people are exposed to this disease and the incidence rate is increasing, there is still a lot of underdiagnoses, although even in one country in Europe it is reported that there is 1 sufferer to 77 people. In Indonesia until now, the exact number of cases is still not known, but allegedly the number is not far from 1 compared to 100 people. The authors conducted a study on patients with difficulty eating in children who seek treatment at Picky Eaters Clinic Jakarta (Clinic Special Difficulty Eating In Children). Allegedly, about 34% of the population, who is difficult to eat, is children with Celiac disease. The assumption is based on the benefits of gluten-free in those children diet. Celiac disease, is often called gluten intolerance, celiac sprue, non-tropical sprue, endemic sprue, gluten enteropathy or gluten-sensitive enteropathy. Those refer to a disease in which gluten intolerance (a protein) occurs, leading to changes in the small intestine resulting in impaired nutrient absorption and various disorders in the function of the human body. Celiac disease is a long-term and permanent hereditary disease. Keywords: celiac disease, gluten ABSTRAK Celiac disease terjadi pada 1% di antara populasi anak dan dewasa. Pada usia dewasa terdapat 2-3 kali lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki. Penyakit ini tidak hanya dikenal di Eropa tetapi juga di Timur Tengah, Asia, Amerika dan Afrika. Meskipun banyak manusia terkena penyakit ini dan angka kejadian semakin meningkat, tetapi masih banyak terjadi underdiagnosis, meskipun bahkan di salah satu negara di Eropa dilaporkan terjadi 1 penderita pada 77 orang. Di Indonesia sampai sekarang masih belum diketahui pasti angka kejadiannya, tetapi diduga angkanya tidak jauh dari 1 dibandingkan 100 orang. Penulis mengadakan penelitian pada penderita kesulitan makan pada anak yang berobat di Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan Makan Pada Anak) diduga sekitar 34% dari populasi anak sulit makan tersebut adalah penderita penyakit seliak, karena saat dilakukan penghindaran terhadap diet gluten terdapat perbaikan klinis yang bermakna. Celiac disease atau sering juga disebut gluten intolerance, celiac sprue, nontropical sprue, endemic sprue, gluten enteropathy atau gluten-sensitive enteropathy merupakan suatu penyakit dimana terjadi intoleransi terhadap gluten (sejenis protein), yang menyebabkan perubahan dalam usus halus sehingga terjadi gangguan penyerapan nutrisi yang masuk ke tubuh sehingga menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh manusia. Celiac disease merupakan penyakit keturunan dan permanen yang bersifat jangka panjang. Kata Kunci: celiac disease, gluten