Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DAKWAH DALAM PLURALISME BERAGAMA Fifi Novianty
Al-Mishbah: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi Vol 17 No 1 (2021)
Publisher : Komunitas Dosen Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/al-mishbah.Vol17.Iss1.221

Abstract

This journal wants to explain about Da'wah in the midst of religious pluralism brought by KH.A Syatori at the Dar Al-Tauhid Arjawinangun Islamic Boarding School in Cirebon bringing positive positive social relations between students and the community, both Muslim and non-Muslim. In addition to focusing heavily on the process of learning the Qur'an, KH A Syatori also always informs students of the Dar Al-Tauhid Arjawinangun Islamic Boarding School to be interconnected between religious communities, while the religious environment of the students diverts this matter inseparable from the influence of education applied by KH. A Syatori The results of the study said that the figure who was the pioneer of Islamization in the midst of religious pluralism in the Dar Al-Tauhid Arjawinangun Islamic Boarding School was KH. A Syatori has proven to his people that Islam is a religion that will increase the level of understanding and can unite with other non-Muslims to create a beautiful religious harmony in the environment of Dar Al-Tauhid Arjawinangun Islamic Boarding School. And the da'wah pluralism has brought influence in the fields of Economy, Social, Politics, and Culture.
Peran Komunikasi Internal Perusahaan dalam Membentuk Budaya Kerja pada Karyawan Generasi Z Ando Yuda Maulana; Fifi Novianty
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13931

Abstract

Komunikasi internal merupakan komponen vital dalam membangun sebuah pondasi atau tatanan suatu organisasi atau perusahaan. Komunikasi internal yang telah berlangsung sejak lama akhirnya melahirkan produk-produk budaya kerja yang diturunkan antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis bagaimana budaya kerja internal mampu untuk menyesuaikan diri dan mempengaruhi budaya kerja pada generasi z, lalu bagaimana cara atau solusi yang bisa ditempuh perusahaan untuk mengatasi hambatan dalam komunikasi internal terkhususnya dengan generasi z. metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dengan beberapa pekerja dari kalangan generasi z di kabupaten jepara yang lahir diantara tahun 2000 sampai 2004. lalu, hasilnya akan dilakukan proses analisis data dengan menggunakan teori analisis kualitatif dari Miles dan Huberman, dengan cara pereduksian data hasil wawancara dan studi pustaka. Penelitian ini menemukan hasil bahwa generasi z cenderung lebih suka dengan komunikasi terbuka, solutif, cepat dan biasanya berbasis digital. Generasi z juga akan merasa kesulitan beradaptasi apabila budaya perusahaanya bersifat kaku, tertutup dan terlalu hierarkis. Hasil penemuan penelitian ini mengimplikasikan terhadap pentingnya pembentukan budaya kerja yang lebih mengarah pada proses budaya komunikasi modern dan demokratis. Hal ini bertujuan untuk tetap merangkul generasi muda dan mengasah potensi kolaborasi kreatif mereka. Selain itu, pembentukan komunikasi internal yang demokratis dan modern bisa menghindari beberapa potensi dissintegrasi komunikasi yang terjadi diantara karyawan, dan juga potensi konflik yang bisa saja terjadi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi internal yang terbuka, inovatif, fleksibel dan mengutamakan kesetaraan cenderung lebih disukai dan lebih membantu proses adaptasi generasi z dan mampu mencegah terjadinya dissintegrasi komunikasi atau konflik yang bisa merugikan perusahaan.
Peran Komunikasi Internal Perusahaan dalam Membentuk Budaya Kerja pada Karyawan Generasi Z Ando Yuda Maulana; Fifi Novianty
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13931

Abstract

Komunikasi internal merupakan komponen vital dalam membangun sebuah pondasi atau tatanan suatu organisasi atau perusahaan. Komunikasi internal yang telah berlangsung sejak lama akhirnya melahirkan produk-produk budaya kerja yang diturunkan antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis bagaimana budaya kerja internal mampu untuk menyesuaikan diri dan mempengaruhi budaya kerja pada generasi z, lalu bagaimana cara atau solusi yang bisa ditempuh perusahaan untuk mengatasi hambatan dalam komunikasi internal terkhususnya dengan generasi z. metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dengan beberapa pekerja dari kalangan generasi z di kabupaten jepara yang lahir diantara tahun 2000 sampai 2004. lalu, hasilnya akan dilakukan proses analisis data dengan menggunakan teori analisis kualitatif dari Miles dan Huberman, dengan cara pereduksian data hasil wawancara dan studi pustaka. Penelitian ini menemukan hasil bahwa generasi z cenderung lebih suka dengan komunikasi terbuka, solutif, cepat dan biasanya berbasis digital. Generasi z juga akan merasa kesulitan beradaptasi apabila budaya perusahaanya bersifat kaku, tertutup dan terlalu hierarkis. Hasil penemuan penelitian ini mengimplikasikan terhadap pentingnya pembentukan budaya kerja yang lebih mengarah pada proses budaya komunikasi modern dan demokratis. Hal ini bertujuan untuk tetap merangkul generasi muda dan mengasah potensi kolaborasi kreatif mereka. Selain itu, pembentukan komunikasi internal yang demokratis dan modern bisa menghindari beberapa potensi dissintegrasi komunikasi yang terjadi diantara karyawan, dan juga potensi konflik yang bisa saja terjadi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah komunikasi internal yang terbuka, inovatif, fleksibel dan mengutamakan kesetaraan cenderung lebih disukai dan lebih membantu proses adaptasi generasi z dan mampu mencegah terjadinya dissintegrasi komunikasi atau konflik yang bisa merugikan perusahaan.