A.Tutut Subadyo
Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGEMBANGAN DUSUN BARAN, TLOGOWARU, KEDUNGKANDANG SEBAGAI KAMPUNG WISATA TOPENG DI KOTA MALANG A.Tutut Subadyo
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol 3, No 1 (2018): June 2018
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v3i1.2241

Abstract

Kota Malang sebagai tujuan wisata memiliki sejumlah kampung wisata, salah satunya adalah kampung wisata Topeng, di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Kampung tersebut merupakan salah satu penerapan program Desaku Menanti dari Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk merehabilitasi anak jalanan, gelandangan, dan pengemis. Program ini dimulai pada bulan November 2016, dimana Kemensos telah memberikan bantuan dana untuk pembangunan 40 rumah. Kampung seluas  5000 m2 dikembangkan bersama komunitas masyarakat seperti Malang Struddle, Amazing Malang, Lingkar Malang dan lain-lain. Pembangunan rumah dan fasilitas lainnya melalui swadaya dan secara gotong royong oleh warga kampung ini. Dalam mendukung terwujudnya rencana kampung  wisata  budaya  topeng malangan yang prospektif, perlu  mendapatkan bantuan  pendampingan dan kemitraan dalam pengembangannya melalui desain spatial arsitektural dengan pendekatan participatory approach. Keunikan dan kekayaan budaya yang ada di kampung topeng tersebut dikembangkan dan dilestarikan melalui strategi  wisata  budaya.  Pengembangan dan strategi  pembangunannya difokuskan pada aspek fisik arsitektural  berbasis budaya sehingga kultur topeng malangan yang ada di kampung tersebut dapat lestari dan berkelanjutan. Hasil desain pengembangan dengan sejumlah fasilitas-fasilitas tambahan dan pendukung eksistensi kampung topeng ini dapat dijadikan role model untuk kampung-kampung tematik berbasis budaya yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata. DOI: https://doi.org/10.26905/abdimas.v3i1.2241